SBj: Bencana Walmas tidak Ada Hubungannya dengan Tambang

397

* Listan Sebut Aktivitas Tambang Bahayakan Warga

PALOPO – Wakil Bupati Luwu, Syukur Bijak tegas mengatakan bencana alam longsor dan banjir bandang tidak ada hubungannya dengan aktivitas pertambangan di bagian hulu DAS Lamasi.

Pernyataan itu disampaikan Wabup Luwu dua periode kepada Palopo Pos di kediaman pribadinya di Bukit Simbuang, Batu Sitanduk, Kamis 7 Oktober 2021, usai menerima rombongan PT Vale Indonesia yang datang menyerahkan bantuan sembako di posko induk BPBD Luwu.

Wabup Syukur Bijak atau yang akrab disapa SBj ini mengungkapkan, bagaimana bisa kaitannya tambang dengan bencana. Lantaran lokasi kejadian sangat jauh. “Tidak ada itu hubungannya. Bicara lokasi longsor dengan lokasi tambang sangat jauh, kurang lebih 10 km. Satu di wilayah Barat satu di wilayah Timur. Tidak ada hubungannya. Sungai yang keruh juga tidak ada hubungannya,” kata Wabup Luwu SBj.

Lanjut SBj, saat bencana longsor terjadi, di hari pertama, alat berat yang digunakan untuk membuka akses bahkan milik dari perusahaan tambang di atas. Bukan dari pemda.

Selain itu, kata SBj pihak perusahaan tambang juga yang memiliki andil besar dalam pemeliharaan akses jalan di Kecamatan Walenrang Barat. “Tambang di atas belum ada hasilnya,” pungkasnya.

Merusak Lingkungan

Di Lutim, tambang nikel PT Vale memberi kontribusi pendapatan daerah hingga Rp1 triliun per tahun. Tapi di Luwu, tambang galena di Kec. Walenrang Barat (Walbar) disebut-sebut tidak memberi konstribusi pajak/retribusi.

Malah, tambang galena yang berada di Desa Ilanbatu Uru, Walbar, merusak lingkungan karena penambangannya menggunakan bahan peledakan.

”Kegiatan peledakan gunung di wilayah tambang galena membahayakan warga Walbar,” kata Ketua Advokasi Tambang dan Lingkungan Hidup Tana Luwu, Listan Cr yang dimintai tanggapannya, Kamis, 7 Oktober 2021.

Menurutnya, aktivitas tambang tersebut membahayakan masyarakat di wilayah bantaran DAS Sungai Lamasi seperti Kecamatan Lamasi, Lamasi Timur, dan Walenrang Timur.

Ditambahkan Listan, tambang galena berada Desa Ilanbatu Uru, yang berbatasan langsung dengan Desa Ilanbatu dan masih berasa satu bagian gunung. Yang mana, Desa Ilanbatu dilanda longsor dan banjir pada Minggu, 3 Oktober 2021 lalu. Bencana ini menyebabkan empat anak Kepala Desa (Kades) Ilanbatu tewas tertimbun longsor.

Sementara Kabid Rehabilitasi & Rekonstruksi BPBD Luwu, Kosmas Toding melalui tulisannya melalui laman kosmastoding.blogspot.com pada 6 Oktober 2021 lalu, menyebutkan, kejadian banjir bandang dibarengi oleh longsor di beberapa titik di kawasan hulu DAS Sungai Lamasi, dipicu oleh intensitas hujan yang tinggi.

Data BMKG mencatat bahwa saat kejadian (3-10-2021) curah hujan di wilayah pengunungan Kec. Walenrang Barat sekitar 100 mm/hari yang sudah masuk kategori tinggi/ekstrim. Curah hujan tinggi ini terjadi pada kawasan yang sangat luas (mencakup 5 desa).
Hipotesis awal bencana hidrologi di Ilanbatu, terjadi karena curah hujan yang tinggi tersebut memicu pergerakan tanah atau longsor akibatnya tanah menjadi ‘jenuh’.

Kejenuhan tanah ini terjadi daya serapan air hujan oleh tanah yang semakin berkurang. Jenis tanah di kawasan tersebut berupa tanah liat (merah) dimana saat musim kemarau yang panjang akan membuat pori-pori tanah atau rongga tanah kemudian karena panas kemarau akan terjadi retakan.

Saat musim hujan dengan curah hujan tinggi air hujan yang besar akan masuk kedalam rongga-rongga sehingga terjadilah pergeseran tanah/longsor. Gerakan lateral tanah (seluas hampir 4 Ha) yang keluar/terlepas dari lereng itu akibat gaya pendorong yang lebih besar dari gaya penahan yang selama ini dimiliki oleh tanah dengan bantuan akar-akar pohon sebagai penahan.

Pada kejadian di Ilanbatu ini terjadi jenis longsoran rotasi karena terbentuk area cekung pada bagian tengah longsoran, ini yang membuat rumah kepala desa tersebut roboh dalam sekejap dengan struktur bangunan yang hancur total.

Kondisi hutan yang sudah gundul akibat pembukaan lahan dengan tananam dengan kemampuan menyerap air hujan yang rendah seperti cengkeh dan merica membuat struktur tanah semakin labil karena jenis akar tanaman yang tidak saling mengikat. Pembuatan sawah terasering dan kolam di lereng juga akan membuat air resapan yang menimbulkan retakan dalam rongga tanah.

Hal itu semakin memperbesar potensi terjadinya longsor. Kondisi inilah yang terjadi di sekitar lokasi kejadian di Desa Ilanbatu tesebut, dapat dilihat areal yang dulunya hutan telah menjadi areal perkebunan cengkeh juga dengan bertambahnya arel permukiman sehingga pembukaan lahan menjadi tak terkontrol. (ikh-idr)