Kuasa Hukum SF masih Pikir-pikir Melapor ke Polda

34
TEMUI POLRES. Tim Pencari Fakta (TPF) Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI menemui pihak Polres Lutim, Selasa 12 Oktober, kemarin. KARIM/PALOPO POS

* Tim Kementerian PPPA Temui Polres Luwu Timur

MALILI — Terlapor (SF) didampingi kuasa hukumnya mengancam akan melapor balik ke Polda Sulsel. Hanya saja, itu belum dilakukan. Pihaknya masih pikir-pikir.

“Upaya hukum ini untuk memulihkan nama baik kliennya yang terlanjur di vonis sebagai pelaku,” kata Agus saat ditemui di Malili, Selasa 12 Oktober 2021.

Dikatakan Agus, selama kasus dugaan perkosaan anak kandung yang dituduhkan pada kliennya (SF) sebagai pelaku, viral di media sosial, kliennya merasa sangat dirugikan, banyak orang memvonis kliennya sebagai pelaku. Sementara kasus ini belum bergulir ke pengadilan.

”Secepatnya kami akan melapor ke Polda, semua pihak yang terkait akan kami laporkan,” tegas Agus.
Lanjut dijelaskan Agus, dalam perkara ini sebagai batu pijak perkara dugaan perkosaan ini adalah hasil visum. Apalagi yang diduga jadi korban ini adalah anak kandung , maka hasil visumlah yang menjadi dasar.

Apabila hasil visum tidak menampakkan ada gejala luka, atau kelainan maka otomatis perkara ini harus dihentikan.
“Nah jika kita bicara soal bukti tambahan, bukti tambahan apa? Definisi bukti tambahan itu kata Agus Melaz apabila, bukti yang mengarah ke situ, inti pokoknya sudah ada. Sisa menambah memperkuat proses penyidikan untuk ditingkatkan ke tahap penuntutan,” sebutnya.

Pelaporan balik ini dilakukan kepada pihak RS pelapor dan pihak-pihak yang menyebarkan berita yang tidak teruji kebenarannya, termasuk yang menulis “Tiga Anak Saya di Perkosa” itu. “Upaya hukum ini juga sebagai upaya untuk pemulihan nama baik klien saya,” jelasnya.

Lanjut Agus, ada banyak hal yang harus di urai, di mulai dari pelaporan yang tidak berdasar, ia juga akan membuat semacam analisa hukum terkait prosedur penyidikan yang dilakukan Polres dan Polda, yang menurutnya sudah selesai dan prosedural.

Tim PPPA

Di Polres Lutim, Tim Pencari Fakta (TPF) Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI, mempercayakan proses hukum kasus dugaan ayah rudapaksa anak kandungnya kepada polisi.

Seperti diketahui, dugaan rudapaksa tiga anak di bawah umur ini mencuat pasca RS melaporkan mantan suaminya, SF ke Polres Luwu Timur pada Rabu (9/10/2019) dua tahun lalu . Ketiga korbannya masing-masing AL (8), MR (6) dan AS (4).

Asisten Deputi Pelayanan Anak dan Perlindungan Khusus, Robert Parlindungan Sitinjak mengatakan, pihakya sudah bertemu dengan kapolres dengan tim untuk mengumpulkan data dan fakta.
Hanya saja, Robert tidak menyebutkan data dan fakta apa yang ditemukan selama berada di lapangan.

Robert dan timnya sekitar dua hari berada di Luwu Timur untuk menggali data dan fakta perihal kasus ini.
Robert kepada polisi juga meminta agar tidak mendatangkan ibu dan anaknya saat menyerahkan bukti.

“Kami juga meminta polisi tidak perlu lagi mendatangkan ibu dan anaknya untuk menyerahkan bukti,” ujarnya saat ditemui di Mapolres Luwu Timur

“Demi kepentingan terbaik untuk anak. Agar anak ini tidak terstigmatisasi, tidak terjadi labeling,” katanya.
Di sisi lain, Robert menyampaikan keprihatinan Menteri PPPA RI, Bintang Puspayoga terkait adanya dugaan kekerasan terhadap anak yang dilakukan ayah kandung.

“Kami memastikan untuk menghapus dugaan kekerasan terhadap anak ini agar tidak terulang lagi. Untuk penegakan hukumnya kami percayakan kepada pihak kepolisian yang saat ini berproses,” tambahnya.(krm/idr)