Bencana Walmas Akibat Kerusakan Hutan dan Aktivitas Tambang

807
BUKA AKSES. Alat berat Dinas PUPR Luwu menyingkirkan material longsor di poros Jl. Batusitanduk-Torut, Senin 4 Oktober 2021. Sejak Selasa kemarin, akses jalan penghubung ini sudah terbuka dan dapat dilalui. Hanya saja, masih ada 5 desa terisolir. IDRIS PRASETIAWAN/PALOPO POS

* BPBD Luwu Taksir Kerugian Rp 4,7 Miliar

BELOPA — Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang menyebabkan korban jiwa di wilayah Walenrang Barat dan Lamasi (Walmas) bukan hanya disebabkan tingginya curah hujan. Tetapi, kerusakan hutan lindung dan adanya aktivitas tambang di hulu DAS Lamasi.

Bupati Luwu Dr H Basmin Mattayang, M.Pd Senin lalu saat diwawancara awak media mengungkapkan, diakui bersama curah hujan pada Ahad sore, 2 Oktober, lalu, turun dengan intensitas yang sangat tinggi di wilayah Walmas.

“Memang disamping curah hujan yang tinggi memang banyak hutan-hutan yang gundul akibat aktivitas kehidupan masyarakat,” ungkap Basmin.

Ditambahkan, Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPR Luwu, Hendra ST, kepada Harian Palopo Pos, mengungkapkan, saat hujan deras terjadi di Walenrang-Lamasi, Ahad sore memang cukup deras. Hal ini dibuktikan dengan tingginya debit air DAS Lamasi waktu itu.

“Kami mengkonfirmasi petugas pintu air DAS Lamasi, debit air saat itu memang cukup tinggi di hulu. Dalam kondisi normal debit air maksimal hanya 150 meter kubik/detik namun saat bencana terjadi debit air DAS Lamasi antara 500 hingga 700 meter kubik/detik.

Dalam kondisi itu memang akan mengakibatkan banjir bandang divwilayah hilir DAS Lamasi. Sehingga memang dibutuhkan peringatan sedini mungkin jika debit air DAS Lamasi meninggi sebagai bentuk antisipasi dini, ” Kata Hendra.

Sementara itu, Kepala BPBD Luwu, Rahman Mandaria SH, MH yang dikonfirmasi Harian Palopo Pos, Selasa (5/10) sekaitan bencana banjir bandang dan tanah longsor di Walmas tersebut, pihaknya sudah melaporkan ke pihak BNPB RI di Jakarta dan BPBD Provinsi Sulsel dan PUSDALOPS Provinsi Sulsel, dari hasil assesment untuk sementara kerugian material akibat bencanas di Walmas ini mencapai Rp4,757 miliar lebih dan kemungkinan akan bertambah
“Ini hanya estimasi diawal kejadian. Kami masih melakukan pendataan saat ini dan kemungkinan jumlahnya akan bertambah,” kata Rahman Mandaria.

Sekretaris BPBD Luwu Aminuddin S.Sos, M.Si, mengatakan, akibat longsor yang terjadi terdapat 4 korban meninggal dunia, 1 unit rumah tertimbun di Desa Ilan Batu 100 kk terisolir. Demikian pula 5 desa lainnya yaitu Desa Ilan Batu Uru, Lempe, Lempe Pasang, Lewandi, Lamasi Hulu.

“Namun demikian hari ini Selasa, alat berat Dinas PUPR Luwu sudah diturunkan untuk membuka akses jalan yang longsor. Alhamdulillah Desa Ilan Batu sudah bisa diakses, hanya ada beberapa titik longsor yang masih ditangan, ” kata Aminddin.

Sementara untuk bencana banjir bandang, kecamatan yang paling terdampak adalah Walenrang Utara, tepatnya di Desa Sangtandung. Didusun Padang Durian terdapat 2 rumah hanyut dan 2 unit rumah terancan dibawa air,.

Sementara di Desa Pompengan Timur dilaporkan tanggul yang jebol sepanjang 30 meter akhirnya banjir bandang merendam 58 rumah, 105 ha sawah , 42 hektare empang air tawar 23 hektar kebun kakao dan 11 hektar kebun jagung. Sedangkan di Desa To Lemo 140 Ha sawah terendam banjir. dan ada 15 meter tanggul sungai jebol di dusun Pararra.

“Untuk di kecamatan Walenrang Timur, di Desa Kendekan 150 jiwa mengungsi di masjid dan saat ini banyak yang sudah kembali seiring surutnya air. Demikian pula di Desa Seba-seba ada 70 warga mengungsi di rumah kepala desa Suka Damai, namun juga sudah banyak yang kembali pulang.

Di Desa Sangtandung sejak Minggu malam alat berat sudah masuk dan Selasa hari ini alat berat sudah memindahkan material sehingga salah satu dusun yang sempat terisolir sudah terbuka dan saat ini Pemuda Pancasila menggunakan motor mendistribusi logisitik untuk masyarakat, ” kata Aminuddin.

Kepala Dinas PUPR Kabupaten Luwu, Ir Ikhsan Asaad ST, MT, yang dikonfirmasi Harian Palopo Pos membenarkan, atas perintah Bupati Luwu pihaknya sudah menerjunkan alat berat di Walmas, khususnya alat berat jenis backhoe loader.

“Sejak bencana alam terjadi Minggu malam alat berat sudah kami turunkan ke Walmas untuk bekerja seperti di Desa Aangtandung, Bolong dan Pongko,” kata Ikhsan seraya mengatakan alat berat saat ini diterjunkan di Walbar untuk membuka akses jalan yang tertimbun longsor.

Kordinator Forum Pemuda Pemantau Kinerja Eksekutif dan Legislatif (FP2KEL), Ismail Ishak, kepada Harian Palopo Posd Selasa kemarin mengatakan, seharusnya ada kegiatan komprehensif yang harus dilakukan OPD terkait agar banjir bandang dan longsor tidak terjadi.

“Pembukaan akses jalan. Pemberian batuan logisitik itu sifatnya sementara dan semua pihak sangat bisa melakukan hal yang sama termasuk relawan. Yang kami minta hari ini dari pihak Pemerintah daerah adalah kami ingin tahu apa yang dilakukan BPBD Luwu untuk mencegah agar bencana alam Walmas yang sudah merenggut 4 korban jiwa ini pada masa yang akan datang tidak terulang lagi,” kata Ismail Ishak.

Aktivitas Tambang

Akademisi Universitas Andi Djemma (Unanda) Palopo, Dr Abdul Rahman Nur SH MH mengatakan, eksploitasi Sumber Daya Alam (SDA) di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Lamasi Kab. Luwu, memang tinggi. Di wilayah tersebut terdapat aktivitas tambang biji besi.

”Saya belum survey, tapi sebelum banjir saya sudah beberapa kali berkunjung ke wilayah hulu DAS Lamasi, bahkan sudah beberapa kali diskusi dengan masyarakat di wilayah hulu. Di wilayah ini memang ada aktivitas pertambangan. Kalau tambang pihak pemerintah lebih paham karena izinnya lewat pemerintah,” jelas Rahman yang dimintai tanggapannya terkait penyebab banjir dan longsor di Walenrang Lamasi (Walmas), Luwu, Selasa, 5 Oktober 2021.

Lanjut pakar lingkungan masyarakat adat ini, wilayah hulu DAS Lamasi memang memiliki potensi yang sangat luar biasa. Selain potensi tanah yang subur, juga kaya dengan sumber mineral lainnya. Sehingga eksploitasi SDA memang cukup tinggi, karena lahan subur dan struktur tanahnya rawan longsor karena tegakan pohon sudah berkurang.

Selain itu karena lingkungan sudah tidak mendukung, dan akibat perubahan iklim sehingga curah hujan juga cukup tinggi di wilayah hulu. Sehingga hal-hal tersebut bisa jadi pemicu longsor dan banjir.
”Perlu segera paha pihak di Kab Luwu memikirkan langkah-langkah strategis yang akan diambil untuk membicarakan permasalahan ini dengan serius,” terang Maman –sapaan akrab Abdul Rahman Nur.
Disinggung soal hutan di hulu DAS Lamasi yang sudah gundul akibat alih fungsi lahan menjadi kebun merica, Maman mengatakan, kalau informasi tersebut, ia belum pernah dengar selama pertemuan dengan masyarakat sebelum banjir. (and/ikh-idr)

– Hasil assesment BPBD Luwu kerugian akibat bencana di Walmas mencapai Rp4,757 miliar.

Walenrang Utara: Satu dusun di Desa Sangtandung terisolir (2 rumah hanyut dan 2 unit rumah terancam dibawa air)
Lamasi Timur : Desa Pompengan Timur ada tanggul jebol sepanjang 30 meter, merendam 58 rumah, 105 ha sawah , 42 hektare empang air tawar 23 hektar kebun kakao dan 11 hektare kebun jagung.

Desa To Lemo ada 140 Ha sawah terendam banjir, tanggul jebol 15 meter di Dusun Pararra

Walenrang Timur : Desa Kendekan ada 150 jiwa mengungsi di masjid dan saat ini banyak yang sudah kembali
Desa Seba-seba ada 70 warga mengungsi di rumah kepala desa Suka Damai dan sudah banyak kembali

Walenrang Barat: Lima desa terisolir (Desa Ilan Batu Uru, Lempe, Lempe Pasang, Lewandi, Lamasi Hulu)