Masyarakat Tandung Sabbang Tolak Pembangunan Bendungan, Ini Alasannya

805
Masyarakat Desa Tandung saat melalukan aksi beberapa waktu lalu menolak pembangunan benduingan di daerahnya. --ist--

PALOPOPOS.CO.ID, MASAMBA– Aliansi Masyarakat Sungai Rongkong (AMAL) Desa Tandung, Kecamatan Sabbang, Luwu Utara menyatakan menolak pembangunan bendungan di desa tersebut.

Mereka pun mewarning prohibited from entering do activities (melakukan kegiatan apapun yang membahas masalah perencanaan pembangunan bendungan dan tidak memaksakan melanjutkan pembangunan bendungan yang ada di Dusun Buka dan Dusun Tanete. Alasannya, karena masyarakat secara tegas menolak pembangunan bendungan.

Ketua AMAL, Muh. Al Hidayat menyatakan secara tegas mewarning pembangunan itu. ”Kami menolak pembangunan bendungan, siapapun yang mengarah pada perencanaaan pembanguna,” beber Al, sapaan akrab Muh Al Hidayat.

Masyarakat Tandung Sabbang Tolak Pembangunan Bendungan, Ini Alasannya
Masyarakat yang tergabung di AMAL foto bersama. AMAL merupakan pendamping masyarakat Tandung yang menolak pembangunan bendungan.

Ia pun meminta kepada pihak Pemkab, balai, dan PUPR fokus menyelesaikan masalah yang ada di Masamba, Radda, dan sekitarnya akibat bencana banjir bandang tahun lalu.

Menurutnya, penolakan itu dilakukan karena, ada beberapa hal. Yakni, melalui pendekatan sejarah. Masyarakat Desa Tandung bagian dari wilayah Kedatuan Luwu, berdasarkan pemberian gelar tomakaka dan pembentukan pemangku adat oleh Pajung Luwu dan sejak terbentuknya Desa Tandung dari tahun 1954 hingga saat ini.

Poin lainnya yakni, pendekatan ekonomi. Menurutnya, masyarakat Desa Tandung akan mendapat dampak dari pembangunan bendungan sungai rongkong. Mereka akan kehilangan mata pencarian atau pekerjaan, seperti pertanian yang nantinya memiskinkan masyarakat.

Poin ketiga adalah, pendekatan sosial kultur. Masyarakat Desa Tandung mendiami wilayah ini secara turun temurun. Hidup dalam keadaan damai dan tenteram. Juga, memiliki silsilah keturunan serta adanya hubungan kuat yang telah terbangun dengan lingkungan hidupnya sejak dari dulu.

Alasannya lainnya yakni, pendekatan Adat. Setiap tokoh adat yang ada di Desa Tandung berhak mempertahankan tanah adat, tomakaka Buka, Tomakaka Tandung dan Tomakaka Salupaku.

”Alasan penolakan lainnya adalah karena masyarakat Desa Tandung menolak untuk direlokasi,” bebernya.

Nada sama juga disampaikan Penasehat AMAL, Sumardi, SE. Dirinya menyampaikan kepada masyarakat Desa Tandung khususnya Dusun Buka dan Dusun Tanete agar tetap beraktivitas seperti semula.

”Pihak terkait (pemerintah daerah Kabupaten Luwu Utara, Red) tidak boleh melakukan kegiatan apapun yang mengarah pada perencanaan pembangunan bendungan.

Bung Black, sapaan Sumardi melanjutkan, agar setiap pihak yang ingin masuk di Dusun Buka dan Tanete dengan membawa agenda perencanaan pembangunan bendungan harus memiliki ijin dari AMAL. Karena, masyarakat Dusun Buka dan Tanete sudah menyerahkan aspirasinya sepenuhnya kepada AMAL.

Dan juga hadir beberapa penasehat sebagai orang tua yang mengawal perjuangan bersama amal, seperti Kamal Said NT dan Ir Chairuddin Harun serta beberapa penasehat lainnya yang dituakan di dalam masyarakat Buka dan Tanete.

Mereka semuanya mewarning buat tim sosialisasi dan tim survei agar menahan diri untuk melakukan aktivitas menyangkut bendungan tanpa persetujuan dari Forum AMAL tersebut.

Herman yang merupakan tokoh masyarakat Dusun Tanete secara tegas menolak pembangunan bendungan yang ada di wilayanya. ”Saya secara tegas menolak bendungan,” katanya. (rls/pp)