Korban Investasi Bodong Melapor ke Polres

132
ilustrasi

* Mereka Tergiur Janji Pelaku Lipat Gandakan Uang

MALILI — Korban penipuan investasi bodong, Sabtu sore 21 Agustus, ramai-ramai mendatangi Polres Luwu Timur. Mereka melaporkan NR, seorang wanita muda, pengelola investasi bodong tersebut.

Sahdan, salah seorang korban, mengaku sudah tertipu jutaan rupiah. Uang tersebut diserahkan kepada NR secara bertahap. Merasa telah tertipu, Sahdan bersama beberapa korban lainnya memutuskan untuk melapor ke polisi.

“Iming-imingnya banyak. Mulai dari emas, peralatan rumah tangga, HP, hingga uang tunai,” kata Sahdan, Sabtu 21/08/21 di SPK Polres Lutim.
Banyak warga yang tertipu dengan iming-iming dari pelaku. Misalnya menyetor Rp 4 juta, akan kembali Rp 10 juta. Namun faktanya, setelah banyak yang ikut berinvestasi, pelaku bersama keluarganya, menghilang.

Rumahnya di Desa Lamaeto, Kecamatan Angkona, sudah kosong.
Sementara itu, Muhammad Basri, salah satu korban menyebutkan, setiap korban rata-rata menyetor dana Rp5 juta hingga Rp10 juta untuk mendapatkan uang kembali tiga kali lipat. Kalau setor dana Rp10juta akan kembali Rp40 juta.

Ada bayar Rp2 juta juga akan daat hanphone seharga Rp5 juta. Juga ada dalam bentuk bayar harga emas satu gram, tapi kembali dalam jumlah gram berlipat ganda.

Dia mengatakan, arisan bodong ini sangat menggiurkan. “Tetangga saya telah sukses mendapat paket emas pada putaran pertama. Tetangga saya ini mendapatkan tiga kali lipat dari setorannya dalam waktu,” kata Basri.
Diberitakan sebelumnya, puluhan warga di Desa Lamaeto, Kecamatan Angkona, Kabupaten Luwu Timur tertipu investasi online bodong. Jumlah uang yang ditipu hingga ratusan juta rupiah.

Dugaan penipuan itu terkuak setelah para korban tidak bisa lagi menghubungi kontak pelaku sejak, Senin (16/8/21) lalu.
Pelaku dan korban diketahui satu kampung. Pelakunya tinggal bersama suaminya di Desa Lamaeto, Kecamatan Angkona, Luwu Timur.

Puluhan korban sempat mendatangi rumah pelaku untuk menanyakan dana yang dijanjikan pada, Rabu malam (18/8/21) namun lagi-lagi, korban tidak menemukan pelaku. Diduga pelaku sudah keburu kabur.

“Yang sekarang kami tahu sekitar puluhan korban, pelaku sudah tidak ada dirumahnya, beberapa kali kami datangi sudah tidak ada, kontaknya pun tidak bisa dihubungi lagi,” ucap Sahdan selaku korban.

Korban memprediksi pelaku berhasil membawa kabur uang korban hingga ratusan juta, pasalnya korban menyetor hingga Rp80 juta per orang.

Selain diiming-iming barang murah melalui media sosial Facebook, pelaku juga membujuk korban untuk melipatkangandakan uang hingga 100 persen dalam jangka waktu satu bulan.

Para korban percaya, pasalnya pelaku merupakan warga setempat yang juga dikenal sebagian korban, pelaku juga diperkirakan menjalankan aksinya sudah setahun.

“Ratusan juta uang ini dibawa kabur pelaku, karena ada satu korban saja menyetor sampai delapan puluh juta, kita percaya karena pelaku kita kenal,” ujar korban.

Untuk melancarkan aksinya, pelaku mengabulkan sebagian investasi targetnya, sehingga korban lainnya percaya bahwa investasi tersebut benar dan bukan penipuan, namun setelah dana korban banyak terkumpul, pelaku diduga melarikan diri.

Hingga dikabarkan, para korban berusaha mencari pelaku, dengan menyebar foto pelaku di media sosial facebook, selanjutnya akan membuat laporan di Polres Luwu Timur.

Kasat Reskrim Polres Luwu Timur, Iptu Eli Kendek hingga kini belum memberikan tanggapan terkait adanya laporan warga yang tertipu dugaan investasi bodong.

OJK Berkali-kali Ingatkan

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) regional VI Sulawesi, Maluku dan Papua meningkatkan peran dalam mengedukasi masyarakat.
Penguatan seputar sektor jasa keuangan, sebagai upaya mencegah jatuhnya korban penipuan berkedok investasi.

“Ini bentuk edukasi karena di daerah juga marak investasi ilegal yang berujung kerugian masyarakat,” kata Patahuddin Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan dalam webinar bertajuk waspadai penipuan berkedok investasi, Rabu (21/4/2021), beberapa waktu lalu.

Dia menyebut pemahaman masyarakat Sulsel mengenai produk sektor jasa keuangan masih rendah. Hal ini dimanfaatkan oknum melancarkan aksinya dalam melakukan penipuan.

“Tingkat literasi keuangan warga Sulsel dalam survei tahun 2019 menyebutkan 32,6 persen. Ini dibawah rata-rata nasional yang angkanya 38 persen. Inilah yang dimanfaatkan oknum yang tidak bertanggung jawab,” jelas Patahuddin yang juga menjabat ketua Satgas Waspada Investasi Sulsel.
Kegiatan edukasi diikuti masyarakat, termasuk Aparatur Sipil Negara (ASN) lingkup Pemerintah Kota Palopo, Sulawesi Selatan.

Apresiasi disampaikan Sekda Kota Palopo, Firmanza DP yang ikut hadir. Mewakili Wali Kota, dia menyebut edukasi seperti ini penting seiring maraknya penawaran investasi ilegal.

“Realita di lapangan marak terjadi money game dan berbagai bentuk. Mulai yang menyamar sebagai koperasi, MLM, bisnis emas, nonton video dan lainnya. Tipuan investasi yang luar biasa,” ucapnya.(idr)

Investasi Bodong yang Pernah Terjadi di Luwu Raya-Toraja

– (Oktober 2016) UN Swissindo menipu puluhan PNS dan warga Palopo dengan iming-iming kreditnya di bank akan dihapus.

– (Oktober 2016) Kanjeng Dimas asal Maros menipu ribuan warga Luwu, dengan keyakinan mampu menggandakan uang sampai Rp4,5 miliar. Syaratnya harus ada ‘mahar’ senilai Rp2,6 juta.

– (November 2019) Tiga warga Sidrap menipu warga Palopo dengan modus menjual mobil fiktif menggunakan akun media sosial polisi wanita (polwan).

– (Juni 2020) Polres Tator membongkar kasus investasi bodong senilai Rp 131 miliar di Tana Toraja dilakukan oleh PT Axelle Jaya Management terhadap para nasabahnya yang mencapai 3.038 nasabah dengan investasi tunai, dan 1.553 nasabah yang mengambil investasi kendaraan, total nasabah secara keseluruhan sekitar 4.000-an nasabah.

– (April 2021) Polsek Warsel, Palopo, melepas Frederic Bunga Datu (37), terlapor kasus penipuan berkedok investasi dana senilai Rp150 juta dalam bisnis trading saham. Belakangan terlapor dan korban berdamai.
* Dari pelbagai sumber