Eksotik Danau Tempe, Rumah Bagi Flora dan Fauna

    51
    DANAU TEMPE. Pemandangan Rumah Terapung di atas Danau Tempe yang direkam menggunakan pesawat nirawak (drone), Sabtu 31 Juli 2021. Pengelolaan pariwisata di kawasan ini perlu ditata lagi agar menjadi daya tarik wisatawan. IDRIS PRASETIAWAN/PALOPO POS

    Danau Tempe yang terletak di Kota Sengkang, Ibu Kota dari Kabupaten Wajo, Provinsi Sulsel, memiliki banyak keindahan. Baik flora dan fauna. Rumah bagi pelbagai satwa yang tetap lestari oleh kearifan lokal.

    Idris Prasetiawan, Sengkang

    Mengunjungi Kota Sengkang, tak lengkap rasanya kalau tidak melihat keindahan Danau Tempe.
    Salah satu danau yang ada di Provinsi Sulsel, setelah Danau Sidenreng, Danau Matano, Danau Towuti, dan Danau Mahalona.
    Danau Tempe termasuk salah satu danau purba yang ada di Indonesia selain Danau Toba, Danau Matano, Danau Towuti.

    Eksotik Danau Tempe, Rumah Bagi Flora dan Fauna
    Pohon Lontar yang hidup di Danau Tempe, Kota Sengkang, Kab. Wajo. IDRIS PRASETIAWAN/PALOPO POS

    Merupakan danau tektonik yang terbentuk akibat adanya pergerseran lempeng beberapa tahun yang lalu sebelum masehi. Meskipun bisa dikategorikan danau purba, namun keindahan panorama alam yang tersaji di sekitar Danau Tempe sungguh memukau.

    Danau ini habitat bagi beberapa burung. Seperti elang, walet, belibis alis putih, bangau putih, tampa lorong, senip, cui-cui, dan titihan telaga.
    Selain burung, juga habitat ikan-ikan. Seperti ikan Belosok, Kandea, Nilam, Mujair, Gabus, Belanak, Betok, Betutu, Sapu, dan Patin.
    Berwisata ke Danau Tempe, tak lengkap rasanya, jika tidak mengunjungi perkampungan terapung. Jaraknya dari Kota Sengkang cukup jauh. Mengendarai perahu Katinting, oleh masyarakat lokal menyebutnya “taksi” sekira 30 menit.
    Soal tarif pun lumayan terjangkau, hanya Rp150 ribu pulang pergi mengelilingi Danau. Bebas berapa jam lamanya.
    Untuk mendapatkan taksi, pengunjung harus ke Dermaga 45. Setiba di dermaga, sebelum ke danau, sebaiknya sempatkan untuk melihat-lihat kearifan lokal masyarakat yang tinggal di pesisir Danau Tempe.

    Eksotik Danau Tempe, Rumah Bagi Flora dan Fauna
    Seorang nelayan sedang menangkap ikan dengan cara tradisional di Danau Tempe, Sabtu 31 Juli 2021, menggunakan alat tangkap lokal bernama Tongkang. IDRIS PRASETIAWAN/PALOPO POS

    Ada yang membuat perahu hingga membelah ikan khas Danau Tempe, ikan Kandea dan Ikan Sunu.
    Sebelum naik taksi, pengunjung harus siapkan dulu uang receh. Karena nantinya, pengunjung tak hanya berkeliling melihat keindangan Danau Tempe, tetapi juga diajak naik ke atas Rumah Terapung warga lokal. Setiap orang dikenakan biaya (charge) Rp15 ribu (sudah termasuk kopi atau teh, juga pisang goreng atau dikenal dengn sanggara pella).
    Pak Sukardi, driver taksi kami saat itu. Orangnya sangat ramah. Ia tak segan-segan memberhentikan taksi-nya, tatkala kita akan mengabadikan gambar atau video aktivitas nelayan di atas danau ini.

    Eksotik Danau Tempe, Rumah Bagi Flora dan Fauna
    Ibu Nuha (50), sedang berkomunikasi dengan keluarganya di atas perahu di Danau Tempe, Kota Sengkang, Kab. Wajo, Sulsel, Sabtu 31 Juli 2021. Jaringan komunikasi telah menyentuh sebagian besar wilayah di Danau Tempe untuk mendukung sektor pariwisata setempat. IDRIS PRASETIAWAN/PALOPO POS

    Di perjalanan, kami beberapa kali berpapasan dengan nelayan yang mencari ikan. Ada yang menjala dan ada juga yang menggunakan alat tangkap tradisional disebut Tongkang.
    Alat tangkap ikan Tongkang ini cukup unik. Dimana, empat ujung jaring dikaitkan di kayu yang cukup panjang secara menyilang. Setelah itu, di bagian tengah dipasang tongkat atau besi yang panjang. Untuk mengangkatnya masih menggunakan tenaga manual dari nelayan.
    Sesampainya di rumah terapung milik Pak Burhanuddin (45), kami pun diterima dengan ramah. Kopi manis ditambah sanggara pella menyambut. Pak Burhanuddin ini mengaku sudah 20 tahun hidup di atas rumah terapung.
    Rumah apung ini dibelinya sejak tahun 90-an senilai Rp8 juta. Kini, rumah apung-nya ini kerap didatangi wisatawan. Ada yang domestik, bahkan mancanegara.
    “Selama musim Corona ini pak, sepi sekali turis datang. Padahal sebelumnya, sering, kadang puluhan datang. Bahkan sempat bermalam,” kata Pak Burhanuddin.
    Lantaran sepinya wisatawan yang datang, Pak Burhanuddin lalu mengisi waktu dengan mencari ikan dengan cara menjala. Ikan tersebut lalu dibelah dan direndam garam dan tawas, lalu, dijemur.
    Setelah kering, ikan-ikan ini dibawa ke pasar untuk dijual.
    Soal penerangan malam hari, Pak Burhanuddin mengaku hanya mengandalkan penerangan dari tenaga surya. Begitu juga dengan air bersih untuk minum, diambilnya dari daratan menggunakan jeriken dan diangkut pakai perahu.
    Rumah apung ini dibangun menggunakan bambu tanpa sekat. Sehingga rumah ini hanya terdiri dari satu ruangan yang digunakan untuk beraga aktivitas. Lalu untuk area dapur dan kamar kecil, umumnya diletakkan di bagian belakang hunian. Selagi berada di rumah apung, pengunjung dapat memanjakan mata dengan menyaksikan matahari terbit maupun terbenam.

    Eksotik Danau Tempe, Rumah Bagi Flora dan Fauna
    Pak Burhanuddin (45) sedang menggendong cucunya bernama Aznur sambil melakukan video call (VC) dengan keluarganya di atas Rumah Terapung di Danau Tempe, Kota Sengkang, Kab. Wajo, Sulsel, Sabtu 31 Juli 2021. Jaringan komunikasi telah menyentuh sebagian besar wilayah di Danau Tempe untuk mendukung sektor pariwisata setempat. IDRIS PRASETIAWAN/PALOPO POS

    Saat ini, kata Pak Burhanuddin, Rumah Terapung tersisa 20 unit saja. Padahal di tahun 90-an, masih sangat banyak.
    Pesona keindangan Rumah Terapung semakin lengkap, lantaran di sekelilingnya terdapat pohon lontar yang menjulang tinggi. Di atas pohon Lontar ini habitat banyak burung. Ada Burung Elang, walet, camar, hingga bangau putih.(*)