Ekonomi Nasional Triwulan II Tumbuh Ekspansif

129

OLEH: Ikhwan Mahmud, SE, MSE

Tajuk utama media minggu lalu nyaris seragam, menyoroti rekor pertumbuhan ekonomi triwulan II 2021 sebesar 7,07 persen secara YoY. Ekonomi Sulsel bahkan melesat lebih tinggi, yakni 7,66 persen secara YoY. Ya, secara resmi negara kita, termasuk wilayah Sulsel, telah ke luar dari zona resesi, setelah 4 (empat) kuartal mengalami kontraksi atau perlambatan. Bagi yang belum paham, istilah resesi ekonomi umumnya diartikan sebagai penurunan aktivitas perekonomian 2 (dua) kuartal berturut-turut.
Ada beberapa metode perbandingan yang digunakan BPS di setiap rilis mengenai pertumbuhan ekonomi, salah satunya YoY atau Year on Year. Memperbandingkan kondisi triwulan berkenaan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Untuk data triwulan II 2021, dibandingkan dengan capaian triwulan II 2020, untuk mengetahui progres perkembangan ekonomi pada periode yang secara seasonal kondisinya nyaris serupa. Metode perbandingan lain yang biasa digunakan adalah quarter to quarter(q-to-q) dan cumulative to cumulative (c to c).
Kembali ke kondisi ekonomi, capaian triwulan II memberikan harapan baru akan bangkitnya perekonomian nasional, termasuk wilayah Sulsel. Publikasi BPS menunjukkan bahwa dari sisi pengeluaran, seluruh komponen mengalami pertumbuhan secara YoY. Komponen Ekspor Barang Jasa mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 31,77 persen, disusul Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PKP) 8,06 persen. Komponen PMTB dan Impor masing-masing tumbuh sebesar 7,54 persen dan 31,22 persen.
Di wilayah Sulsel, pertumbuhan 7,66 persen YoY didukung oleh kenaikan signifkan Komponen PKP sebesar 17,68 persen, disusul oleh kinerja ekspor yang meningkat 12,30 persen. Berdasarkan uraian data tersebut, tergambar bahwa kinerja fiskal pemerintah, yang ditunjukkan oleh Komponen PKP, di triwulan II mengalami progres signifikan jika dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya. Jika ditelisik lebih lanjut, belanja pemerintah sejatinya tidak hanya memberikan efek pada PKP. Komponen lain, yakni PMTB dan Konsumsi Rumah Tangga pun mengalami dampak positif, baik langsung maupun tidak langsung akibat ekspansifnya belanja pemerintah. Kerja keras APBN yang difungsikan sebagai instrumen countercyclical bersama dengan bauran berbagai kebijakan pemerintah yang lain, pada akhirnya berhasil membawa ekonomi ke luar dari jurang resesi.
Kinerja APBN
Berdasarkan data Kementerian Keuangan, kinerja belanja APBN selama semester I 2021 mencapai Rp1.170 triliun atau meningkat 9,38 persen dibanding realisasi periode yang sama tahun 2020. Belanja Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN) yang menjadi program strategis yang diinisiasi pemerintah sejak tahun 2020, telah terealisasi Rp252,3 triliun atau 36,1 persen dari alokasi Rp699,4 triliun.
Di wilayah Sulsel, realisasi belanja pemerintah pusat melalui APBN hingga semester I 2021 telah mencapai Rp8,41 triliun atau 42,1 persen dari total alokasi belanja. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, kinerja penyaluran APBN

semester I 2021 meningkat cukup signifikan sebesar 15,05 persen. Hal tersebut mengindikasikan kerja keras para entitas pengelola keuangan satuan kerja dalam mempercepat pelaksanaan program yang telah ditetapkan dalam APBN.
Tantangan ke depan
Dengan terjadinya pembalikan arah ekonomi menjadi jauh lebih positif, apakah jalan ke depan akan semakin mulus? Di tengah sedang meningkatnya optimisme pulihnya kondisi ekonomi, kondisi pandemi di akhir triwulan II lalu mengalami peningkatan. Kondisi yang memaksa pemerintah untuk kembali menempuh kebijakan pengetatan mobilitas penduduk dalam bentuk PPKM.
Implementasi PPKM tentunya akan membawa dampak bagi tersendatnya momentum pertumbuhan ekonomi triwulan sebelumnya. Untuk mengurangi dampak tersebut, pemerintah kembali menggunakan APBN sebagai instrumen countercyclical. Postur APBN mengalami perubahan melalui upaya refocusing belanja untuk menambah alokasi PC-PEN, dari semula Rp699,43 triliun menjadi Rp744,75 triliun. Program yang mendapat tambahan alokasi signifikan adalah Perlindungan Sosial (Perlinsos), diposisikan pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat dengan harapan agar Konsumsi Rumah Tangga tidak terkontraksi secara signifikan.
Optimisme keberlanjutan momentum pertumbuhan masih terang benderang, setidaknya dari sisi APBN dan PC-PEN. Hingga 31 Juli 2021, realisasi belanja pemerintah pusat dalam APBN telah mencapai Rp796,27 triliun atau meningkat 19,06 persen dibandingkan realisasi periode yang sama tahun 2020. Program PC-PEN juga telah terealisasi Rp320,38 triliun atau 43 persen dari total alokasi. Di wilayah Sulsel, realisasi belanja pemerintah pusat hingga 31 Juli 2021 mencapai Rp10,78 triliun atau meningkat signifikan 23,25 persen dibandingkan realisasi s.d. Juli 2020 yang mencapai Rp8,7 triliun. Dengan kondisi tersebut, setidaknya Komponen PKP di triwulan III diperkirakan masih akan tumbuh positif, khususnya jika realisasi belanja pemerintah daerah melalui APBD juga dapat diakselerasi.
Namun demikian, pemerintah tidak bisa bergerak sendiri dalam penanganan dampak pandemi Covid-19. Dibutuhkan peran seluruh elemen bangsa untuk menjaga momentum positif saat ini. Mengutip pesan dari salah seorang bijak, bahwa setiap dari kita dapat berperan. Mudah saja, cukup dengan mematuhi protokol kesehatan, mengikuti vaksinasi, dan jangan lupa berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar cobaan yang dialami seluruh penjuru negeri segera berlalu.(*)

*)merupakan opini pribadi.
*)Penulis adalah Kepala KPPN Palopo