Anak Hilang di Tanah Luwo

48

* Oleh: Nawawi Sang Kilat, Sulawesi Tengah
* Dirilis Ulang: Rahman SE
(Pengurus Ikatan Pemuda Luwu Raya/IPLR Sulawesi Tengah

Sejarah Tanah Luwu –Sebagai mana diketahui penyebutan LUWU masih menjadi perdebatan panjang, tetapi bagi Luwu purba khususnya Wotu, mereka mengartikannya sebagai LUWO atau sangat Luas.

Ketika BATARA GURU belum datang di Luwu dan menetap di BILASSA LAMOA, di Luwu Purba hiduplah beberapa peradaban dan suku yaitu TOWOTU, TOPADOE,TOPAMONA, TOMATANO, TOMENGKOKA, TOLAKI dan TOBAJOO.

Kedatangan Batara Guru dan menetap di Luwu, bersama dengan perangkat adatnya, berjalan beriringan dengan budaya lokal yg ada, sebagai mana disebutkan diatas.

Sampai terbentuknya Luwu sebagai satu Kedatuan dengan bergabungnya TORONGKONG, TOLIMOLANG, TORAJA, TOALA, dan TOWARE sebagai 12 suku penopang Kerajaan Luwu.

Runtuh dan bangunnya Kedatuan Luwu, 12 suku ini tetap bersatu dalam kedatuan Luwu sebagai satu kesatuan, dimulai dari Wara pertama di Wotu lama, Wara kedua di Mancapai, Wara ketiga di Kamanre, Wara keempat di Pao Malangke, dan Wara kelima di Palopo.

Diawal abad ke 16 M ketika terbentuknya ANATELLUE sebagai tiga kerajaan utama di Luwu yang terdiri dari BAEBUNTA, BUA, dan PONRANG.

Suku suku yang awalnya di Luwu Purba yang terdiri dari Towotu, Towuti, Tomapona, Tolaki, Topadoe, dan Tobajoo, dibawa koordinasi BAEBUNTA, akan tetapi sangat disayangkan mayoritas suku ini tidak mau dibawa kordinasi Baebunta khususnya Topamona.

Saat sekarang ini ketujuh suku di Luwu purba diatas seperti asing dengan Kedatuan Luwu, timbul tanda tanya dibenak mereka apakah kami ini masih ToLuwu??? seperti Topamona, Topadoe, Tolaki, Tomengkoka, Tolaki, Tomatano, ToBajoo, dan Towotu.

Lihatlah di Wara sekarang, adakah keterwakilan, nuansa Luwu yang tersisa disana???

Jangankan suku- suku yang jauh dari Wara Palopo, suku yg terdekat pun hampir-hampir hilang, misalnya To Rongkong, To Limolang, To Raja, To Ala, justru yg menonjol Towara.

Lihat saja semboyan di tugu misalnya TODDOPULI TEMMALARA dan lainnya, bahasa TAE yang seharusnya jadi bahasa pemersatu Luwu justru terpinggirkan.

Gelar Kebangsawanan Luwu, OPU juga terpingirkan oleh gelar lain. Ini sangat memprihatinkan. (*)