Pembelajaran Tatap Muka (PTM), Kerinduan yang Terpendam

28

Penulis: SUDHIARTI, S. Pd. (Guru SMA Negeri 1 Palopo)

PANDEMI COVID-19 telah mengubah praktik dan kebiasaan belajar, bukan saja di Indonesia tapi juga di seluruh dunia.

Pembelajaran yang biasanya dilakukan di satuan pendidikan secara tatap muka, kemudian berpindah menjadi belajar dari rumah. Guru dan peserta didik terlibat dalam pembelajaran jarak jauh yang menghadirkan sejumlah tantangan mulai dari ketersediaan peralatan digital dan jaringan internet, kondisi psikososial peserta didik maupun guru, perbedaan kompetensi guru hingga rendahnya keterlibatan orang tua/wali peserta didik dalam pembelajaran cukup memperparah pengaruh negatif Pembelajaran jarak jauh(PJJ)

Meski beragam kondisinya, hampir semua peserta didik, guru, dan orang tua mengalami pengalaman belajar berbeda yang membutuhkan waktu adaptasi. Meski telah banyak kebijakan dan program untuk mengatasi dampak pandemi COVID-19, perubahan pola pembelajaran yang begitu drastis berisiko menyebabkan penurunan kualitas pembelajaran. Padahal kualitas pembelajaran merupakan kunci dari hasil belajar peserta didik. Jika kualitas belajar menurun, hasil belajar peserta didik pun cenderung menurun (learning loss).

Untuk mengantisipasi hal tersebut,pemerintah dalam hal ini, Menteri Kesehatan, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Menteri Agama, dan Menteri Dalam Negeri telah mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) telah menyepakati untuk diberlakukannya Pembelajaran Tatap Muka dalam bingkai Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) dan juga telah mengeluarkan Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran PAUDDIKDASMEN di Masa Pandemi COVID-19.

Meskipun dibentengi dengan sejumlah aturan ketat protokol kesehatan, baik sebelum maupun pada saat pembelajaran itu dilaksanakan. Tak ayal lagi hal ini bagai setetes air di padang gurun yang telah lama dirindukan baik oleh guru, peserta didik dan orang tua. Keputusan ini memberikan semangat baru akan dibukanya kembali sekolah untuk proses pembelajaran. Bayangan bertemu dengan teman sekolah untuk bisa bekerja sama,  berkolaborasi mengerjakan tugas dan pekerjaan rumah atau  sekedar bersenda gurau bagi peserta didik adalah suasana yang menyenangkan, sehingga begitu dirindukan. Demikian pun dengan guru dan tenaga kependidikan bahwa PTMT akan menjadi wahana untuk saling berbagi kisah dan tantangan pembelajaran selama pandemi dalam pembelajaran jarak jauh. Tidak berbeda dengan orang tua yang akan bisa kembali menyerahkan keberlangsungan proses pembelajaran kembali ke sekolah, tentu ini akan menjadi angin segar, yang selama ini prosesnya berada dari rumah. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Dirjen PAUD Dikdasmen) bahwa sebagian besar orang tua, kemudian sekolah-sekolah, sudah ingin Pembelajaran Tatap Muka(PTM). Kemudian 60% lebih sudah siap untuk PTM dan yang lain masih berproses. Berangsur-angsur akan terus kita dorong untuk mempersiapkan diri, untuk melengkapi dokumen-dokumen kemudian sarpras, sistem, SOP, budaya untuk siap menyelenggarakan PTM terbatas (https://www.kemdikbud.go.id__8 Juni 2021).

Namun ternyata kenyataan tak seindah harapan, dampak pandemi covid-19 akhir-akhir terus meningkat ditandai dengan semakin meningkatnya penderita covid, maupun yang gugur dalam perjuangan melawan serangan pandemi virus. Karena itulah pemerintah memberlakukan kembali aturan ketat kegiatan masyarakat yang disingkat PPKM di setiap aspek kehidupan, termasuk di bidang pendidikan, kecuali pada daerah zona hijau. Beberapa sekolah yang telah melakukan kegiatan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas, akhirnya kemudian di hentikan untuk sementara. Harapan dan kerinduan untuk melakukan proses pembelajaran di sekolah, akhirnya kemudian harus dipendam. (***)

Palopo, 12 Agustus 2021

Penulis:

NAMA : SUDHIARTI, S. Pd.

INSTANSI : GURU SMA NEGERI 1 PALOPO, KOTA PALOPO   SULAWESI SELATAN

NO HP : 085256080933

EMAIL : sudhiartibomin@gmail.com