Tim Riset UM Palopo Terima Grant Program dari John Hopkins – UI

50
Wakil Rektor II UM Palopo, Dr Hadi Pajarianto MPd

PALOPOPOS.CO.ID, BINTURU– Melalui proses seleksi yang panjang, akhirnya proposal riset Universitas Muhammadiyah (UM) Palopo terpilih sebagai penerima Grant Program Research Grant Indonesian Tobacco Control Research Network (ITCRN) Tahun 2021.

Program ini diselenggarakan Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah (PEBS) FEB UI bekerja sama dengan Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health.

”Proposal UM Palopo berjudul Development and Dissemination of the Non-Smoking Area Innovation Model in Bone-Bone Village as an Effort to Control the Prevalence of Smokers Nationally,” jelas Wakil Rektor II UM Palopo, Dr Hadi Pajarianto MPd kepada Palopo Pos, Jumat, 30 Juli 2021.

Tim Riset UM Palopo adalah Dr Hadi Pajarianto MPd, Rahmat Solling Hamid SE MSi, Andi Sitti Umrah SST MKeb, dan Sri Rahayu Amri SH MH mengirimkan proposal pada 12 Juli 2021.

Dari 40 proposal dari seluruh Indonesia, terpilih 14 proposal yang masuk shortlist dan nominasi untuk presentasi. Pada tanggal 21 Juli 2021 Tim Riset UmPalopo mempresentasikan usulannya kepada tim reviewer yang terdiri dari Farrukh Qureshi (WHO Indonesia), Pande Putu Oka Kusumawardani SE MM MPP CA, Plt Kepala Pusat Kebijakan Pendapatan Negara Badan Kebijakan Fiskal, Geni Achnas (Campaign for Tobacco-Free Kids (CTFK), Lily S Sulistyowati (Technical Consultant, The Union), dan Prof Dra Yayi Suryo Prabandari MSi PhD (Kepala Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan dan Kedokteran Sosial, Universitas Gadjah Mada).

Salah satu tim riset, Rahmat Solling mengungkapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung, karena Tim UM Palopo satu-satunya dari Indonesia Timur yang masuk shortlist dan terpilih pada ajang bergengsi tersebut.

Ini adalah upaya dari kampus untuk menawarkan model dan kebijakan untuk mengurangi Prevalensi Perokok secara nasional. Laporan SEATCA (Southeast Asia Tobacco Control Alliance), jumlah perokok di Indonesia, yakni 65,19 juta orang, setara 34% dari total penduduk Indonesia pada 2016, TERBANYAK di ASEAN. Laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi merokok usia =10 tahun pada tahun 2013 adalah 29,3%, dan Tahun 2018 adalah 28,8%, hanya turun 2 % dari target (RPJMN 2015-2019) penurunan prevalensi sebesar 5,4% tidak tercapai.

Jika tidak segera diatasi, maka diproyeksikan pada tahun 2030 proyeksi merokok pada anak dan remaja prevalensinya akan meningkat sebanyak 15,95 %. Kerugian makro ekonomi akibat konsumsi rokok di Indonesia 2015 mencapai hampir Rp. 600 triliun, atau empat kali lipat dari jumlah cukai rokok. Jika konsumsi dikurangi, kemiskinan berkurang, stuting menurun, penyakit tidak menular menurun, dan defisit JKN dapat ditekan.

”Kami mencoba menawarkan perspektif baru dalam mengurangi prevalensi perokok melalui kebijakan yang dimulai dari Grasroot sehingga lebih implementatif dan secara konseptual dapat diterapkan pada daerah yang memiliki karakteristik yang sama,” tutup Rahmat. (ikh)