Tim Keswan Mulai Turun Periksa Hewan Kurban

33
PERIKSA KURBAN. Dokter hewan Burhanuddin bersama mahasiswa dokter hewan dari IPB Bogor turun memeriksa kesehatan hewan kurban di sjeumlah lokasi penjualan di Kota Palopo, Senin 12 Juli 2021. IDRIS PRASETIAWAN/PALOPO POS

* Jika Sehat akan Diberikan Suket

PALOPO — Delapan hari menuju Hari Raya Iduladha atau yang dikenal dengan Idul Kurban, Tim Kesehatan Hewan (Keswan) Kota Palopo mulai turun memeriksa kesehatan dari hewan-hewan ternak yang dijual di sejumlah lokasi tersebar di Kota Palopo.
Tim dibagi dua, ada yang memeriksa hewan kurban untuk wilayah Selatan (Wara, Wara Timur, dan Wara Selatan), serta ada yang ke bagian Utara (Wara Utara, Bara, Telluwanua).
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan melalui Kabid Keswan dan Kesmavet Dispertanakbun Kota Palopo, drh Burhanuddin Harahap memimpin untuk operasi di wilayah Selatan.
Beberapa lokasi penjualan sapi kurban didatangi. Seperti penjualan sapi kurban Karya Mandiri milik Masaruddin Rauf di Kelurahan Songka, Kota Palopo.
Di lokasi, tim langsung memeriksa sapi kurban secara ajak dari puluhan sapi yang ada di dalam kandang.
Dari hasil pemeriksaan, Dinas Peternakan Kota Palopo menyimpulkan jika sapi-sapi yang dimiliki laik jual dan bisa untuk kurban.
Hal itu didasarkan atas pemeriksaan post mortem dan ante mortem.
Doker hewan Burhanuddin juga menjelaskan, sapi yang dianggap tidak laik kurban, jika terdapat tanda kecacatan pada tubuhnya. Misalnya, tanduknya satu patah, matanya buta, atau testisnya hanya satu.
Selanjutnya, kekurusan, tidak cukup umur (untuk sapi minimal 2,5 tahun) dan berpenyakitan.
“Bagi sapi yang sakit dapat dilihat pada bagian cuping hidungnya. Kalau kering berarti demam, yang normal itu basah,” ujar drh Burhanuddin, Senin 12 Juli 2021 di RPH Karya Mandiri.
Lanjut drh Bur, sapaan akrabnya, setelah dilakukan pemeriksaan, dari Dinas Peternakan melalui Kepala Dinas lalu mengeluarkan surat keterangan (suket) kesehatan hewan yang diberikan kepada pemilik atau penjual hewan kurban. Sehingga, nantinya jika ada yang datang membeli, sudah bisa memperlihatkan suket tersebut, kalau sapi-sapinya telah melalui proses pemeriksaan.
Sementara itu, owner RPH Karya Mandiri, Masaruddin Rauf kepada Palopo Pos mengungkapkan, sapi yang ia jual untuk kurban tahun ini sekira 70 ekor yang mayoritas didatangkan dari NTT.
Ia juga mengaku tidak menaikkan harga sapinya lantaran banyak pesaing yang saat ini juga menjajakan hewan kurban.
“Untuk yang berat dagingnya sekira 80 kg itu saya jual Rp12,5 juta, dan yang terberat 100 kg saya jual Rp15 juta,” kata Pak Rauf, sapaannya.
Saat ini, Dispertanak Kota Palopo membentuk tim khusus yang terdiri dari 18 tim dari Dispertanakbun ditambah empat orang mahasiswa kedokteran hewan Institut Pertanian Bogor (IPB) yang sedang menjalani KKN di Kota Palopo.
“Kami harapkan semua hewan yang akan dijual agar diperiksakan. Pemeriksaan ini tidak memungut biaya alias gratis. Untuk pedagang dadakan, yang ada di pinggir-pinggir jalan, kami harap juga diperiksa hewannya,” imbaunya.
Selain melakukan pemeriksaan kesehatan, lanjutnya, Dispertanak juga nantinya akan melakukan pemeriksaan layak atau tidaknya hewan tersebut dikurbankan. Hewan kurban yang sehat juga diberikan stiker bertanda “sehat”. Walaupun ada stiker tersebut, namun masyarakat juga harus tetap memeriksa kembali hewan ternak tersebut.
“Tidak hanya kesehatan kita juga akan memeriksa hewan tersebut apakah layak untuk dikurbankan, karena hewan yang sehat belum tentu layak untuk ikut dikurbankan,” jelasnya lagi.
Ia memaparkan, ciri-ciri laik hewan tersebut dikurbankan yakni harus sehat dan tidak cacat, nafsu makannya baik, banyak gerak atau aktivitas, sorot matanya bersih dan cerah, rambutnya tidak kusut, dan kulit ternak juga elastis dan tidak ada luka fisik.

Dari Luar Palopo

Adapun kebutuhan hewan kurban untuk masyarakat Kota Palopo, kata drh Burhanuddin, sebanyak 600-700 ekor.
Dimana, hampir 80-90 persen didatangkan dari luar daerah. “Ada dari beberapa kabupaten di Luwu Raya, Bone, Wajo, bahkan dari Kupang (NTT),” kata drh Burhanuddin.(idr)