Merefleksikan Perjalanan Koperasi

53

Oleh: Muh Ainul Haq Hakim Tiro Al-Makassariy

Kepala Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM FEB UB 2021

Mahasiswa Ilmu Ekonomi Angkatan 2018 Universitas Brawijaya Malang

Gold Medal Advanced Innovation Global Competition 2019)

 

“Tujuan utama koperasi adalah untuk memenuhi kebutuhan  para anggotanya. Keuntungan memang diperlukan untuk perkembangan koperasi lebih lanjut, namun untuk mencapai keuntungan tidak perlu mengorbankan tujuan yang sama.” kata Bung Hatta. (Historia, 2020)

Melihat koperasi hari ini tak pelak menuntun kita pada refleksi sejarah berserta nilai dari hadirnya koperasi di masa lalu. Bergeser jauh ke belakang sebelum kongres pertama koperasi berlangung pada 12 Juli 1947, Bung Hatta telah memberikan kritik tentang pelaksanaan koperasi yang berusaha menyimpang dari nilai filosofisnya di berbagai surat kabar saat itu. Seuntai kalimat diatas setidaknya menjadi peringatan dini Bung Hatta tentang pentingnya komitmen koperasi pada kesejahteraan kolektif anggotanya.

Pesan Bung Hatta itu pula lah yang harus dijadikan pernyataan serta pertanyaan dalam perjalanan koperasi, bahwa kehadiran koperasi tidak hanya dipandang dari SHU atau berdasar pada kapitalisasi nilainya semata, namun sejauh mana koperasi mensejahterakan anggotanya. Nama koperasi saja tidak cukup jika nilainya sebagai soko guru perekonomian telah hilang dan justru konsisten hanya sebatas kata penyemangat.

Masalah tersebut dapat dilihat dari rendahnya minat masyarakat menjadi anggota koperasi. Bahkan, terdapat kecenderungan masyarakat untuk menarik dari koperasi. Jika dilihat data BPS mengenai tren anggota koperasi, dapat dilihat bahwa sejak tahun 2017 jumlah anggota koperasi menunjukkan penurunan yang siginifikan. Di tahun 2017 contohnya, jumlah anggota aktif koperasi mencapai 152.174 anggota, akan tetapi jauh terjun pada tahun 2020 ke angka 127.124 anggota. Masalah tersebut dapat pula di sebabkan oleh pelaksanaan pendidikan perkoperasian pada Undang-undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian yang memuat prinsip perkoperasian. Namun, pendidikan tersebut tidak diikuti pada penyesuain terhadap tantangan zaman.

Kembali pada refleksi semangat Bung Hatta, maka saat itu,  diiringi oleh semangat berjuang melawan ketertindasan, muncul pemikiran tentang perlunya paradigma ekonomi yang secara kolektif mampu membawa pada semangat persatuan dan kekeluargaan. Oleh karena itu, lepas dari mempelajari ilmu koperasi di Skandinavia, Bung Hatta merasa cocok jika koperasi diterapkan di dalam dekapan perjuangan bangsa indonesia saat itu. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dipandang dapat menuntun semangat perekonomian bangsa mencapai kesejahteraan negara yang berpihak pada rakyat.

Terlebih, kemajuan pesat diberbagai bidang hari ini menuntut manusia secara kolektif berada pada sisi persaingan yang saling mengejar satu sama lain. Tak dapat dipungkiri bahwa kekalahan berada pada mereka yang lemah dan kemenangan selalu berpihak pada yang lebih kuat.

Dilansir dari Historia dalam buku Mengenang Sjahrir: Seorang Negarawan dan Tokoh Pejuang Kemerdekaan yang Tersisih dan Terlupakan karya  Rosihan Anwar, Bung Hatta saat itu turut membantu dan berhasil menghidupan koperasi di Banda Neira pada tahun 1930-an. Salah satu teladannya

adalah komitmennya membangun kepercayaan masyarakat terhadap koperasi.

 

“Kita akan memonopoli semua hasil bumi yang turun dari perahu kemudian didistribusikan pada masyarakat setempat,” kata Bung Hatta.

Dengan didistribusikan langsung pada masyarakat, maka berbagai jalur pendistribusian otomatis tertutup, sehingga memungkinkan masyarakat mendapat harga yang relatif rendah, juga tidak terlalu jauh dari harga jualnya. Pengaplikasian proses tersebut setidaknya mengurangi kecenderungan inefisiensi yang dikenal dalam ilmu ekonomi kelembagaan, seperti buru rente, biaya transaksi yang tinggi, hingga informasi yang tidak asimetris. Begitulah cara kerja koperasi yang mengedepankan kesejahteraan bersama.

Refleksi: Ketimpangan dan Nilai Koperasi

Dalam laporan Bank Dunia berjudul A Perceived Divide: How Indonesians Perseive Inequality and What They Want Done About It, mayoritas orang indonesia sepakat bahwa ketimpangan di Indonesia saat ini sangat tinggi dan terus meningkat. 51% responden menyatakan cukup timpang sedangkan 40,6% menyatakan sangat timpang. Ketimpangan adalah efek pertumbuhan yang tidak merata serta penumpukan akumulasi kekayaan yang hanya bertumpu pada segelintir orang. Lebih lanjut jika dilihat data sepanjang tahun 2003 dan 2010, konsumsi tahunan per orang dari 10% orang terkaya terus tumbuh hingga 6%. Sedangkan disisi lain, konsumsi tahunan dari 40% masyarakat termiskin hanya tumbuh kurang dari 2%.

Thomas Piketty dalam bukunya Capital menilai bahwa fase stagnasi upah yang panjang dan semakin menonjol disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi yang mengalami percepatan dan tak dikendalikan. Pernyataan tersebut dilontarkan menanggapi thesis Marx tentang akumulasi modal tanpa batas pada era kapitalisme industri. Pertumbuhan yang cepat dan stagnasi upah adalah contoh bagaimana kapitalisme membawa pada ketimpangan.

Selaras dengan fakta tantangan ketimpangan diatas, komitmen pada koperasi sebagai soko guru perekonomian bangsa patut dievaluasi. Berdasaran data Kementerian Koperasi dan UKM, tren koperasi terhadap PDB satu sisi mengalami peningkatan. Sebagai contoh pada tahun 2017 kontribusinya sebesar 4,48% dan pada 2018 naik sebesar 5,1 persen.

Disisi lain, kita perlu menengok kontribusi koperasi pada PDB di berbagai negara lainnya. Kecenderungan menunjukkan kontribusi kita masih relatif lebih rendah. Dilansir dari Detik Finance, kontribusi koperasi terhadap PDB di Singapura mencapai 10%, Thailand 7%, Perancis 18%, Belanda 18%, dan Selandia Baru 20%. Angka kontribusi PDB pada berbagai negara tersebut setidaknya menunjukkan kekuatan koperasi dalam perekonomian.

            Masih rendahnya kontribusi koperasi membuat mayoritas struktur makro ekonomi berada pada jurang ketimpangan. Konsentrasi kekayaan pada segelintir orang masih menjadi pekerjaan rumah hari ini. Hal tersebut dapat pula menjadi pertanda bahwa jarak kita dari nilai koperasi dan pesan-pesan ekonomi kerakyatan para pendiri bangsa tak sepenuhnya diindahkan. Padahal yang perlu diingat bahwa amanat pendiri bangsa untuk membawa aras perekonomian pada jalan koperasi diilhami oleh semangat gotong royong dan pemerataan. Refleksi hari ini yang patut mendengung dalam telinga penerus bangsa adalah mengapa negara-negara yang justru besar dalam poros kapitalisme bisa berhasil mengelola koperasi, sedangkan kita tidak?

Pemimpin dan generasi hari ini perlu untuk merefleksikan semangat, fokus, dan tekad  Bung Hatta dalam perjuangan koperasi ke depannya. Keperbihakan pada kebijakan yang memuat kepentingan koperasi perlu digalakkan kembali, sembari berjuang lewat ketauladanan.

 

Selamat Hari Koperasi Nasional ke-74!

Bravo!

Biodata Diri
Mahasiswa Ilmu Ekonomi 2018 di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Brawijaya. Saat ini menjalani aktivitas di Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya sebagai Kepala Departemen Kajian dan
Aksi Strategis. Nama : Muh Ainul Haq Hakim Tiro Al-Makassariy
Domisili : Jalan Sigura-gura IV No 8 Kota Malang
Kontak : 082245676211
Rekening : 0901471841
MUH AINUL HAQ HAKIM TIRO AL-MAKASSARIY
BNI SYARIAH
Instagram : muhainulhaqtiro
Pendidikan
2012- 2018 : Pesantren Modern Pendidikan Al-Quran IMMIM Putra
Makassar
2018- Sekarang : Universitas Brawijaya
Pengalaman Organisasi dan Kepanitiaan
Januari 2021 : BEM FEB UB
– Sekarang Kepala Departemen Kajian dan Aksi Strategis (Kastrat)
Februari 2020 – : BEM FEB UB
Desember 2019 Kepala Divisi Kebijakan Kampus dan Daerah
Departemen Kastrat
November 2018 : MUKTAMAR CIES
Ketua Pelaksana
Juli 2019- : CIES GOT THE CHALLENGE
Oktober 2019 : Koordinator Divisi Humas
Februari 2019 – : CIES ECONOMIC CLUB
Desember 2019 Ketua Pelaksana
Penghargaan dan Prestasi
2017- Best Speaker Debat Politik Himapol UNHAS
2018- 2018- Juara 3 Debat Islami UINAlauddin
2019 -FinalissimposiumTemu IlmiahNasional
2019- Finalis Paper TEMILREG
2020- Best Paper Sarasehan Ekis
2021- Juara Opoini Millenial EM UB
2020-Gold Medal Advanced Innovation Global Competition (AIGC) Singapore
2021-Juara II PKM Dekan Cup FEB UB
Pengalaman Pembicara
2019 -Pemantik bedah buku “Kuliah kok mahal?” HMI Discussion
2020- Pemateri “Omnibus law dan sertifikasi Halal” Karpet CIES
2020-Pemantik “Eksistensi tanah adat” FDR
2020-Pembicara Littalk HIMABIS “Ruu Ciptaker Omnibus Law”
2020- Pembicara Ngopi BEM FP UB “Kebijakan Pemerintah ditengah Covid-19”
2020-Pembicara Podcast Eksekutif Mahasiswa UB “Kampus Merdeka”
2020-Pembicara Diskusi Online “Kampus Merdeka” EKM UB Kediri
2020-Pembicara Diskusi Disforganization “Sistem Pendidikan ditengah Covid-19”
2020-Pembicara “Menelaah Respon Kebijakan Pendidikan Tinggi ditengah Pandemi” HMI
FEB UB
2020-Pembicara Upgrading BPH BEM FTP UB
2020- Pembicara “UU Ciptaker” Diskusi Himapolitik UB
2020-Pembicara Pemuda dan Literasi Deal Ind
2020- Pembicara “Kesiapan Mahasiswa di Era New Normal” Diskusi Kastrat
HMJM UNIMUS
2021-Pembicara Training Organization 1 BEM FEB UB “Manajemen Aksi dan
Sejarah Pergerakan Mahasiswa”
2021-Pembicara diskusi dan nobar “End Game KPK” Aliansi Mahasiswa
Brawijaya
Pengalaman Gerakan dan Advokasi
Tim riset dan advokasi kebijakan keringanan UKT Amarah Brawijaya
Pemimpin riset dan advokasi masyarakat Pasar Blimbing Kota Malang 2020
Pemimpin riset dan advokasi masyarakat bethek melawan pembangunan RS BRI 2020
Inisiator Aliansi Solidaritas Bethek Melawan dalam upaya advokasi masyarakat Bethek 2021
Penanggungjawab Policy Brief “Strategi Penanganan Covid-19 di Malang Raya”
Dan lain-lain.