Gara-gara Mau Diputus, Pemuda di Torut Ditemukan Tewas Gantung Diri

813
--ilustrasi--

PALOPOPOS.CO.ID, RANTEPAO– Kasus bunuh diri dengan cara menggantung kian memprihatinkan di Bumi Lakipada. Peristiwa tersebut, kembali terjadi. Kali ini di Toraja Utara.

Adalah seorang pemuda inisial HA (25) di Kecamatan Sopai ditemukan tewas gantung diri di emperan rumahnya.

HA yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan minimarket itu gantung diri pada, Jumat malam (23/7/2021) sekira pukul 23.00 Wita. Jasad HA pertama kali ditemukan oleh neneknya, Maria (80).

“Kejadiannya kemarin malam, korban pertama kali ditemukan oleh neneknya,” kata Ps Kanit Polsek Sopai, Bripka Adi Harjuwinata dalam keterangannya dilansir dari media daring lokal Toraja.

Adapun kronologi kejadian kata Kanit, awalnya, sekira pukul 18.00 Wita, korban dan saksi masih bercerita di emperan rumah. Tak lama setelah itu, saksi pergi ke dapur untuk memasak.

Namun setelah memasak dan menuju ke emperan rumah, saksi melihat korban sudah dalam posisi tergantung menggunakan seutas tali.

Saksi yang kaget berteriak minta tolong hingga ayah dan paman korban datang.
Setelah berhasil di evakuasi, korban lalu dilarikan ke rumah sakit (RS) Elim Rantepao, Toraja Utara.

Nahas, tak lama setelah tiba di rumah sakit korban dinyatakan meninggal dunia.
Sementara, berdasarkan keterangan pacar korban kepada polisi, diduga korban nekat mengakhiri hidupnya karena depresi. Di mana, dua hari sebelum kejadian korban dan pacarnya bertengkar.

Pertengkaran dipicu karena pacar korban ingin memutuskan hubungan karena berbeda keyakinan.

“Dua hari yang lalu korban dan pacarnya bertengkar terkait masalah hubungan mereka,” ujarnya.

“Dimana, saat itu pacar korban mengatakan jika hubungan mereka tidak bisa dipertahankan lagi,” jelas Ps Kanit.

Saat ini, korban sudah berada di rumah duka.
Keluarganya telah mengikhlaskan kejadian tersebut dan menolak untuk dilakukannya proses autopsi.

30 Kasus Selama 2020

Sebagai informasi, kasus bunuh diri jadi salah satu fenomena sosial yang paling menonjol selama tahun 2020 di Kabupaten Toraja Utara dan Tana Toraja.
Kepolisian Resor (Polres) Toraja Utara mencatat, ada 16 kasus bunuh diri yang terjadi di wilayah Toraja Utara selama tahun 2020.

“Ada 16 kasus bunuh diri yang terjadi di Toraja Utara selama Januari-Desember tahun 2020,” ungkap Kapolres Toraja Utara, AKBP Yudha Wirajati, dalam konferensi pers akhir tahun di Mapolres Toraja Utara, akhir tahun 2020.

Kapolres mengatakan, belasan warga nekat mengakhiri hidupnya dengan cara tidak wajar itu disebabkan berbagai faktor. Mulai dari masalah ekonomi, hingga asmara.

Karena kasus bunuh diri cukup banyak, Kapolres mengimbau kepada tokoh-tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh perempuan, dan tokoh pemuda untuk memberikan perhatian penuh terhadap masalah ini. “Fenomena sosial kasus bunuh diri ini merupakan masalah bersama kita semua,” terang AKBP Yudha Wirajati.

Selain kasus bunuh diri, Polres Toraja Utara juga mencatat kasus menonjol lainnya, yakni percabulan dan pemerkosaan terhadap anak di bawah umur dan kasus narkoba. Sepanjang tahun 2020, polisi menangani sebanyak 13 kasus, dengan penyelesaian sebanyak 12 kasus, sementara 1 kasus masih dalam penyelidikan.

Dari jumlah kasus ini, polisi menetapkan 15 orang sebagai tersangka, terdiri dari 14 laki-laki dan 1 perempuan.

“Ada sembilan kasus yang menonjol selama tahun 2020, yaitu curat, curas, curanmor, anirat, keroyok, narkoba, pembunuhan, percabulan, serta pemerkosaan,” jelas Kapolres.

Sementara data di Polres Tana Toraja, tercatat ada sebanyak 14 kasus bunuh diri selama tahun 2020 di wilayah Kabupaten Tana Toraja.(idris prasetiawan)