Resiliensi Rumah Sakit di Tengah Pendemi Covid-19

20
Nurmala Sari, SKM., M.Kes., MA

* Oleh: Nurmala Sari, SKM., M.Kes., MA
(Mahasiswa S3 Program Studi Kesehatan Masyarakat Unhas/
(Dosen Departemen Manajemen Rumah Sakit, FKM Unhas)

Sejak WHO mencanangkan status pandemi covid-19 pada Maret 2020, seluruh penyedia pelayanan kesehatan mengalami turbulensi yang luar biasa dalam menjalankan tugas dan fungsi pelayanannya. Hingga saat ini virus Covid-19 telah menyebar ke lebih dari 60 negara di seluruh dunia dengan lebih dari 174 juta kasus pasien yang terinfeksi. Akibatnya mekanisme pasar pelayanan kesehatan berubah drastis salah satunya pada pelayanan rumah sakit.

Beberapa dampak yang timbul akibat pandemi terhadap pelayanan rumah sakit yaitu perubahan tren kunjungan rumah sakit, tantangan finansial yang besar untuk memobilisasi sumber daya yang cukup untuk menghadapi pandemi, burn out syndrome pada petugas kesehatan, hingga perubahan proses alur pelayanan.

Berdasarkan data Kementrian Kesehatan, di Indonesia terjadi peningkatan jumlah pasien covid-19 sebesar 43,3%, pasien non covid berkurang hingga 92,8%, pendapatan rumah sakit berkurang 85,6% dan 13,4% karyawan rumah sakit terpaksa dirumahkan untuk menjaga keberlangsungan rumah sakit.

Hampir 15 bulan pandemi covid-19 telah menjadi tantangan bagi pihak penyedia pelayanan rumah sakit. Kondisi ini mengharuskan rumah sakit melakukan adaptasi baru sebagai bentuk resiliensi rumah sakit terhadap tantangan. Resiliensi rumah sakit merupakan kemampuan rumah sakit untuk beradaptasi dengan tantangan yang tidak terduga dan fleksibilitas organisasi untuk kembali menjalankan fungsi pelayanan seperti saat kondisi normal atau menciptakan kondisi normal baru dalam pelayanan.

Berdasarkan studi dari beberapa negara, ada 3 solusi yang perlu dilakukan untuk meningkatkan resiliensi rumah sakit di tengah pandemi covid-19. Pertama, penyediaan pelayanan berbasis digital. Pelayanan berbasis digital tentunya bukan isu baru, bahkan hal ini sudah sering digaungkan sebelum pandemic covid-19. Namun dengan kondisi pandemi saat ini yang memaksa rumah sakit untuk mengurangi jumlah pengunjung, menentukan jarak aman agar tetap melaksanakan social distancing serta tetap mampu menyediakan pelayanan bagi pasien yang tidak berani berkunjung ke rumah sakit sehingga pelayanan digital seperti pengoptimalan sistem informasi rumah sakit dan Telehealth medicine menjadi salah satu solusi terbaik.

Kedua, redesign manajemen sumber daya manusia di rumah sakit. Adopsi cara baru dalam sistem mengatur tenaga yang bekerja di rumah sakit tentunya menjadi salah satu fokus utama mengingat tenaga kesehatan memiliki resiko terpapar virus saat memberikan pelayanan dan adaptasi di lingkungan kerja saat ini wajib menggunakan Alat Pelindung Diri (APD). Manajemen SDM fokus pada membatasi jam kerja shift misalnya di China jam kerja hanya 4 jam bagi yang bekerja di ruang isolasi, prosedur penilaian kondisi kesehatan yang dilakukan sebelum dan sesudah memberikan pelayanan, pelatihan terkait pelayanan Covid-19 dan membuka kesempatan volunteer untuk menjaga rasio kecukupan SDM terhadap pasien.

Ketiga, mengembangkan new care model. Pengukuran dan pengendalian infeksi di lingkungan rumah sakit tentunya memperlambat proses pelayanan dan mengubah flow pelayanan pasien. Dibutuhkan cara inovatif dalam pemberian pelayanan misalnya online triage, penggunaan fasilitas umum di luar gedung rumah sakit untuk memisahkan pasien yang terinfeksi dan tidak terinfeksi covid, pelayanan home care serta pola koordinasi berbasis digital.

Berdasarkan 3 rekomendasi tersebut diharapkan rumah sakit memiliki memiliki tingkat resiliensi yang baik di tengah kondisi pandemi yang hingga saat ini masih terus berlangsung. Prioritas dalam mengalokasikan sumber daya sebaiknya lebih berfokus pada new care model agar rumah sakit tetap dapat menyediakan pelayanan covid dengan aman dan mampu memberikan pelayanan non-covid sehingga keberlangsungan pelayanan rumah sakit tetap berjalan optimal. (*)