Kewalahan, RS Hanya Terima Pasien Gejala Berat

27
RAWAN TERTULAR: Lonjakan kasus Covid-19 membuat IGD RSUP dr Kariadi, Semarang, penuh. Sebagian pasien akhirnya terpaksa dirawat di selasa dengan ditemani keluarga. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

PALOPOPOS.CO.ID, JAKARTA– Semakin mengkhawatirkan. Kasus Covid-19 terus meningkat mengakibatkan rumah sakit, terutama di zona merah, semakin penuh. Beban tenaga kesehatan kian berat. Jika ada lonjakan kasus lagi, mereka bisa kewalahan.

Saat ini Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) mulai memilah pasien. Menurut Sekjen Persi Lia Partakusuma, mayoritas pasien Covid-19 yang datang ke rumah sakit menunjukkan kondisi berat. Dia mendapatkan laporan dari beberapa provinsi seperti Jawa Timur dan Jakarta. Pasien datang sudah dalam kondisi buruk. ’’Bahkan sudah meninggal dunia,” ujarnya, Minggu, 20 Juni 2021.

Jika pasien dinyatakan positif dan dianjurkan ke rumah sakit, kata dia, jangan ditolak. Lia menegaskan bahwa siapa pun tak boleh menyepelekan pandemi ini.

Namun, di sisi lain, Lia meminta pasien tidak terburu-buru ke rumah sakit. Harus melihat kondisi apakah cukup isolasi mandiri, isolasi di rumah sakit, atau harus dirawat di rumah sakit. Hal itu bisa dikonsultasikan dengan dokter di puskesmas. “Kami juga melakukan skrining di luar IGD,” katanya.

Tujuannya, tidak terjadi penularan di dalam rumah sakit. Selain itu, memilah pasien apakah bisa dirawat di rumah sakit atau cukup isolasi di luar rumah sakit. Langkah itu juga merupakan antisipasi agar rumah sakit tidak penuh dan tetap mampu memberikan pelayanan.

Lia mengungkapkan, rumah sakit sudah menambah tempat tidur untuk menghadapi kenaikan kasus. Baik untuk isolasi maupun ICU. ’’Yang kami khawatirkan kalau ada lonjakan yang terjadi bersamaan, itu akan sulit,” ungkapnya.

Hal itu terkait dengan banyak hal. Misalnya, dengan menambah tempat tidur di ICU, diperlukan alat-alat dan sumber daya manusia yang mendukung. Rumah sakit, menurut Lia, bisa jadi tidak dapat menambah pasien untuk dirawat jika pertambahan kasus terus terjadi.

Selain itu, perhatian terhadap tenaga kesehatan diperlukan. Tidak bisa dimungkiri, tenaga kesehatan bekerja keras. Untuk itu, rumah sakit mengatur jam kerja agar mereka tidak kelelahan dan risiko terinfeksi Covid-19 menjadi minimal. ’’Kami juga mencari SDM cadangan. Kami punya tempat inap untuk nakes yang kerja di ruang isolasi,” ungkapnya.

Rumah sakit mempersiapkan fasilitas pendukung untuk perawatan pasien. Dalam kondisi normal, setidaknya bisa digunakan untuk dua bulan ke depan. ’’Saat ini kami mendapat laporan di Jawa Tengah kekurangan (tabung) oksigen,” ucapnya. (jp/pp)