87 Persen Penderita Maag Akibat Stress

182
Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr Aslan Djaelani, Sp.PD

*Juga Diakibatkan Pola Makan yang Salah

PALOPOPOS.CO.ID, PALOPO–Penyakit Dispepsia atau yang dikenal di masyarakat dengan sebutan Maag berdasarkan penelitian, 87 persen penderita diakibatkan oleh stres. Hal tersebut dipublikasikan jurnal internasional Baishideng Publishing tahun 2020 lalu yang diteliti Sandra Barry dan Timothy G Dinan.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Rumah Sakit Mega Buana Kota Palopo, dr Aslan Djaelani, Sp.PD yang ditemui Palopo Pos, Selasa 22 Juni 2021 kemarin, mengungkapkan bahwa, adapun Maag sendiri berasal dari bahas Belanda ‘de-maag’ yang berarti lambung. Dalam dunia medis, istilah maag dikenal dengan nama Dispepsia, berasal dari bahasa Yunani.

“Saat ini, penyakit Maag atau Dispepsia di Indonesia diperkirakan mencapai 28 juta jiwa penderita atau sekitar 11,3 persen jumlah penduduk,” ungkapnya.

Dikatakannya, secara pengertian, Dispepsia dapat diartikan sekumpulan gejala nyeri, perasaan tidak enak pada perut bagian atas yang menetap, atau berulang disertai dengan gejala lainnya seperti rasa penuh saat makan, cepat kenyang, kembung, bersendawa, nafsu makan menurun, mual, muntah, dan dada terasa panas, yang berlangsung sejak tiga bulan terakhir.

Dengan gejala gejala awal yang timbul enam bulan sebelumnya. Dispepsia dapa dibagi dua, yakni Dispepsia Organik dan Dispepsia Fungsional. Dispepsia Organik (DO) meliputi 30 persen dari keseluruhan pasien, sedangkan mayoritas 70 persen pasien menderita dispepsia fungsional.

Dijelaskannya, DO ini merupakan penyakit yang sudah melibatkan struktur organ. DO ini dapat diketahui dengan pemeriksaan endoskopi saluran cerna atas. Yang paling sering terjadi pada saluran cerna atas adalah adanya kerusakan katup kerongkongan, luka pada lambung dan kanker. Gejala yang patut diwaspadai untuk DO dikenal dengan nama red flag adalah jika nyeri pada ulu hati disertai dengan anemi, penurunan berat badan, sakit menelan, mual yang menetap, teraba benjolan di lambung, berak atau muntah hitam, dan umumnya terjadi pada usia diatas 55 tahun.

“Yang paling sering menyebabkan DO di masyarakat adalah pemakaian obat anti nyeri yang mempunyai efek samping iritasi pada dinding lambung. Terapi DO sangat bergantung pada hasil endoskopi dimana penyebabnya diketahui dengan pasti,” ujarnya.

Sementara Dispepsia Fungsional (DF) ini kata dia, adalah nyeri ulu hati yang tidak melibatkan kerusakan pada struktur lambung, tapi hanya disebabkan oleh gangguan fungsional. Gejala pada DF dibagi atas dua bagian besar, yakni rasa nyeri ulu hati dan rasa mual, kembung, cepat kenyang setelah makan dalam porsi biasa.

DF ini kata dia, dapat terjadi akibat gangguan pada lambatnya proses pengosongan lambung, intoleransi makanan, gangguan peregangan lambung saat makan, gangguan sensitifitas dinding lambung terhadap asam dan lemak. Selain itu, gangguan ritme listrik di batas lambung-usus dua belas jari, dan gangguan pada sistim saraf pusat.

Dikatakannya, penyebab penyakit Maag ini bermacam-macam, bisa jadi karena gaya hidup, makan yang berlebihan, sering terlambat makan, makanan berlemak, merokok, minuman bersoda, pola makan berlebihan dan tidak teratur. Ada juga karena bakteri helicobacter pylori. Bahkan sebuah penelitian di tahun 2020 oleh jurnal internasional Baishideng Publishing yang diteliti Sandra Barry dan Timothy G Dinan menyebutkan 87 persen penderita diakibatkan oleh stres.

“Kalau fakta di lapangan memang kebanyakan pasien Maag ini setelah ditelusuri itu karena faktor psikologis, stres,” sebutnya.

Diungkapkan Aslan, karena begitu banyaknya penyebab penyakit Maag ini, pihaknya melakukan anamnesa. Yakni bertanya secara langsung kepada penderita, penelusuran aktivitas serta apa saja yang dikonsumsinya serta keadaan psikologis pasien. Nah dari situ pihaknya dapat melakukan kesimpulan diagnosa, dan menentukan penyakit pasien serta obat yang harus dikonsumsi.

Diterangkannya, agar terhindar dari penyakit Maag ini, penderita perlu melakukan terapi gaya hidup. Ini meliputi makan dalam jumlah yang sedikit tapi sering, mengunyah makanan hingga halus, rendah lemak. Selain itu, perlu melakukan perubahan pola hidup lain seperti, berhenti merokok, mengurangi berat badan berlebih dan mengurangi kopi, teh, minuman bersoda, minuman beralkohol.

“Biasanya saya juga meminta pasien hindari lima S, yakni makanan serat, santan, sambal, stress dan soda, saat terkena Maag,” ucapnya.

Ditambahkan Aslan dokter yang berpraktek di RS Mega Buana Palopo ini, lambung itu ada jam biologisnya untuk makan. Jika sudah waktunya makan, namun belum makan juga biasanya asam lambung akan keluar. Nah bagi mereka yang sibuk di luar, karena sudah jam biologis untuk makan, namun belum sempat sebaiknya menyiapkan permen untuk dikunyah.

“Nah ini membantu menetralkan keadaan asam lambung, perbanyak minum air,” tambahnya.(ich)