Strategi Pengendalian Tular Vektor Pada Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Palopo

25

Eugenia Larissa Bakti Pangala
Fakultas Bioteknologi UKDW Yogyakarta

DEMAM Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue ditularkan dari orang ke orang lain melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. DBD banyak ditemui pada daerah tropis dan biasanya menimbulkan kejadian luar biasa. Salah satu daerah penularan DBD adalah kota Palopo. Kota Palopo merupakan daerah endemis DBD di Provinsi Sulawesi Selatan. Pada tahun 2015, kota Palopo menempati urutan ke-7 tertinggi kasus DBD dari total 24 kabupaten/kota yang ada di provinsi Sulawesi Selatan. Dari tahun ke tahun jumlah kasus DBD mengalami peningkatan, yaitu jumlah kasus DBD pada tahun 2014 sebanyak 159 kasus, tahun 2015 meningkat menjadi 280 kasus, dan pada tahun 2016 meningkat menjadi 363 kasus. Pada tahun 2016, kota Palopo termasuk salah satu daerah di provinsi Sulawesi Selatan mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB). Akan tetapi, menurut Kabid pencegahan dan pengendalian penyakit Dinas Kesehatan bahwa pada tahun 2018 jumlah kasus DBD di bulan Januari yaitu 8 kasus dan mengalami peningkatan pada awal tahun 2019 sebanyak 12 kasus tetapi peningkatan ini tidak terlalu signifikan.

Munculnya kejadian DBD, dikarenakan penyebab majemuk artinya bahwa munculnya kesakitan karena berbagai faktor yang saling berinteraksi, diantaranya agent (virus dengue), host yang rentan serta lingkungan yang tumbuh dan berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti. DBD di kota Palopo terjadi karena jumlah penduduknya yang padat dan mempunyai mobilitas yang tinggi. Selain itu, penyebaran penyakit DBD dipengaruhi oleh karena perubahan cuaca yang menyebabkan peningkatan suhu udara, kelembapan dan curah hujan. Menurut Iriani (2012) menyatakan bahwa ada korelasi antara curah hujan dan peningkatan jumlah kasus DBD. Modifikasi habitat nyamuk Aedes aegypti disebabkan karena perubahan cuaca. Beberapa faktor lingkungan dianggap berkontribusi terhadap terjadinya penyakit DBD seperti kepadatan penduduk, adanya perindukan nyamuk, tempat peristirahatan nyamuk, dan lain-lain. Nyamuk aktif terbang pada pukul 09.00-10.00 dan pada sore hari sekitar pukul 16.00-17.00.

Ada beberapa strategi pengendalian yang dapat dilakukan yaitu pengendalian lingkungan, pengendalian biologis dan pengendalian kimiawi. Pada pengendalian lingkungan dapat dilakukan dengan mengelola sampah padat, melakukan 3M (menguras, menutup, dan mengubur) seperti menguras bak mandi sekali seminggu, menutup dengan rapat tempat penampungan air, dan mengubur kaleng-kaleng bekas serta barang-barang bekas di sekitar rumah. Pengendalian biologis dapat dilakukan dengan menggunakan ikan pemakan jentik seperti ikan cupang. Pada pengendalian biologis ini dinilai lebih aman dan menguntungkan bagi masyarakat, hal ini dikarenakan tidak menimbulkan pencemaran lingkungan, tidak menyebabkan resistensi hama, lebih murah dan dapat dilakukan dalam jangka waktu yang panjang. Pengendalian secara biologis dapat dilakukan untuk mengurangi populasi nyamuk. Salah satunya cara untuk mengurangi populasi nyamuk yaitu dengan pemanfaatan ikan cupang.

Ikan cupang memiliki daya makan yang baik terhadap larva dan dapat menurunkan jumlah jentik karena ikan cupang dapat langsung memakan jentik dan tidak mengubah rasa air. Pengendalian kimiawi dapat dilakukan dengan pengapasan menggunakan malathion, hal ini berguna untuk mengurangi penularan pada waktu tertentu, dan pengendalian kimiawi juga dapat dilakukan dengan fogging. Akan tetapi, fogging masih dapat dikatakan kurang efektif karena biayanya cukup mahal dan dapat menimbulkan efek samping pada manusia. Selain itu, dapat dilakukan juga dengan pemberantasan sarang nyamuk, ini dapat dilakukan dengan mengkombinasikannya yang disebut 3M Plus. Beberapa plus yang dapat dilakukan yaitu menggunakan kelambu pada waktu tidur, memasang obat nyamuk, menabur larvasida, dan memeriksa jentik berkala dan disesuaikan dengan kondisi tempat.

Strategi yang dapat dilakukan untuk pemberantasan DBD adalah (1) Pemberdayaan masyarakat yaitu dengan meningkatkan peran aktif masyarakat untuk mencegah dan menanggulangi penyakit DBD. Ketika peran aktif masyarakat ditingkatkan maka upaya untuk pemasaran sosial, penyuluhan kesehatan dapat dilaksanakan secara intensif dan berkesinambungan melalui berbagai media massa baik secara individu maupun kelompok. (2) Sumber daya profesionalisme pengelola program yaitu dengan memiliki sumber daya manusia yang terampil dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi maka pemberantasan DBD dapat dilakukan karena pengetahuan mengenai bionomik vektor, faktor-faktor perubahan iklim, tatalaksana kasus harus dikuasai agar pemberantasan DBD dapat berjalan dan dilakukan dengan baik. (3) Promosi kesehatan yang merupakan suatu proses memberdayakan masyarakat untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatan, hal ini dapat dilakukan dengan cara meningkatkan kesadaran dan kemauan untuk mengembangkan lingkungan yang sehat. Promosi kesehatan ini dilakukan dengan tujuan untuk mempengaruhi masyarakat agar menghentikan perilaku yang beresiko tinggi dan menggantikan dengan perilaku yang aman (Kholid,2012).

Referensi :
Ahmad Kholid,2012. Promosi Kesehatan. Jakarta : Rajawali Pers.
Iriani, Y. 2012. Hubungan antara curah hujan dan peningkatan kasus demam berdarah dengue anak di Kota Palembang. Sari Pediatri 13: 378­383.