Nelayan Kembali Melaut, Harga Ikan masih Tinggi

14
MASIH MAHAL. Mirsam, salah satu penjual ikan di Pasar Andi Tadda Palopo yang menjual ikan Banjar seharga Rp50 ribu untuk 10 ekor ukuran sedang, Senin 19 April 2021. IDRIS PRASETIAWAN/PALOPO POS

* Stok Kurang, Lantaran Bukan Musimnya

PALOPO — Hampir seluruh perahu nelayan di kawasan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kota Palopo sudah kembali melaut. Namun, harga ikan masih tetap tinggi (mahal,red).
Setelah hampir sepekan lebih tidak turun melaut, menghindari cuaca buruk akibat pengaruh munculnya bibit siklon di Samudera Pasifik, serta memasuki bulan suci Ramadan, perahu nelayan mulai kembali mencari ikan.

Dari pantauan Palopo Pos di kawasan TPI, Senin 19 April 2021, kemarin, dari 30-an kapal 15 GT, tersisa hanya beberapa saja yang masih bersandar. Itupun, kapal yang bersandar ini sedang dalam perbaikan ringan, setelah itu segera kembali mencari ikan.

Seperti dikatakan salah satu Anak Buah Kapal (ABK) Kapal Vanesa, Ridwan. Kepada Palopo Pos yang ditemui disela-sela menjahit pukat yang akan digunakan, ia menyebutkan, sudah 3 hari ia melaut. Setelah pekan lalu libur dikarenakan cuaca buruk dan beberapa anggota (ABK,red) sedang berpuasa.

“Setelah ini perbaiki jaring, kami turun lagi melaut,” tuturnya sambil tangannya dengan cekatan memainkan jarum jahit.
Di atas kapalnya, ada sekira empat orang lagi yang ikut membantu menjahit pukat.

Saat ditanyakan mengenai jumlah tangkapannya? Ridwan menjawab, saat ini sangat kurang. Lantaran bukan musim ikan. “Kurang pak sekarang tangkapan. Bukan musimnya,” kata Ridwan.

Padahal, dalam kondisi musim ikan, ia mengaku bisa mendapat lebih banyak lagi.

Kondisi bukan musim ikan ini, lanjutnya, dalam sekali keluar mencari ikan, ia biasanya beroperasi di daerah Bassiang sampai Larompong. Namun, tetap saja hasil tangkapan sedikit. “Paling banyak itu 5 gabus (berat 50 kg) paling sering hanya 2 sampai 3 gabus,” sebutnya. Sedangkan jika musim ikan, ia bisa mendapatkan sampai 20 gabus.

Adapun ikan yang ditangkapnya seperti sekarang ini adalah, Ikan Layang, Banjar, Lado, dan Tembang.
Soal harga per gabus yang dijual pun, Ridwan mengaku juga harus menaikkan harganya lantaran banyak pembeli tetapi stok kurang. Untuk satu gabus Ikan Layang ia jual Rp1 juta, sedangkan harga normalnya bisa sampai Rp700 ribu.

Ikan Banjar satu gabus dijualnya Rp1,5 juta, sedangkan kondisi normal hanya Rp1 juta, dan Ikan Tembang Rp400 ribu per gabus, sedangkan kondisi normal hanya Rp200 ribu.

Ia menyebutkan, untuk kondisi normal harga ikan biasanya kembali turun karena stok ikan juga banyak (sedang musim ikan,red). Yaitu berkisar mulai Agustus sampai Desember. “Mulai bulan 8 itu masuk mi musim ikan di daerah Teluk Bone. Nah, disitu baru mulai murah lagi ikan,” ungkapnya.

Sementara itu, beberapa ikan jenis Cakalang, Tuna yang dijual di TPI ini, katanya, bukan hasil tangkapan nelayan Palopo, tetapi, itu datang dari Sulawesi Tengah.

“Kalau tangkapan nelayan Palopo ji pak sedikit. Ada juga Cakalang, Opo, tetapi kadang ada musimnya juga, tidak setiap saat. Kadang ada ditangkap November, kadang juga Desember,” tutupnya.

Mahalnya harga ikan di tingkat nelayan, juga berimbas ke tingkat pengecer yang menjual tinggi dari harga normal. Seperti disampaikan Mirsam, salah satu penjual ikan di Pasar Andi Tadda, Palopo.

Kepada Palopo Pos, ia mengaku menjual Ikan Banjar ukuran sedang dengan harga Rp50 ribu untuk 10 ekor, dan 6 ekor untuk 20 ribu. Padahal kondisi normal bisa sampai 13 ekor. Lalu ada juga Ikan Layang ukuran kecil dijual dengan harga Rp20 ribu untuk 8 ekor yang saat normalnya bisa sampai 10 ekor.(idr)