Krisis Nasionalisme Mengancam Generasi Milenial

72

Oleh : Sartika Muchtar (Alumni PASCA UMI MAKASSAR )

GENERASI milenial, kini menjadi pusat perhatian terutama perilakunya. kemajuan teknologi juga membawa dampak besar pada gaya hidup generasi milenial atau tren disebut generasi X,sayangnya dibalik popularitas generasi milenial sebagai generasi pengguna teknologi tertinggi saat ini ternyata juga terselip peristiwa miris, seperti dua rangkain peristiwa bom bunuh diri di depan gereja Catedral Makassar, dan penyerengan di Mabes Polri Jakarta yang diduga dilakoni oleh generasi X.

Peristiwa bom bunuh diri yang terjadi di depan gereja catedral jl. kajolalido kota makassar pada 28/03 /2021, minggu pagi sontak membuat banyak pihak tercengang, bahkan hal itu memicu beragam reaksi masyarakat indonesia. berbagai bentuk keprihatinan bahkan kecemasan atas peristiwa tersebut memuncaki seluruh sosial media bahkan di hampir seluruh media massa dan eletronik baik di dalam maupun luar negeri .

Namun ada hal yang membuat kita sangat prihatin, terduga pelaku bom bunuh diri di depan gereja catedral merupakan suami istri yang baru saja menikah selama enam bulan lamanya, bahkan usianya masih sangat muda yakni L dan YSF yang lahir di tahun 95 atau masuk dalam ketegori kalangan milenial atau generasi X begitu pula pelaku penyerangan di Mabes Polri, yang sebenarnya kiprahnya sangat dibutuhkan sebagai pemuda pemudi pembaharu pembawa kemajuan, bukan terjerumus kedalam paham – paham radikalisme.

Tragedi bom bunuh diri dan penyerangan mabes Polri seolah menggambarkan bahwa usia muda benar – benar berada pada ambang labil yang mudah terprovokasi atau mudah disusupi oleh doktrin – doktrin tindakan radikalisme. melihat dua fakta tersebut, artinya kalangan muda justru menjadi incaran untuk doktrinisasi paham – paham yang tidak sesuai dengan NKRI.

Waspada perlu dilakukan yakni membentengi diri, utamanya bagi kalangan pemuda milenial agar tidak terpapar paham radikalisme, perlunya penguatan diri secara interen, dua peristiwa yang dianggap sebagai tindakan radikal patut menjadi perhatian semua pihak bagi orang tua, pemerintah, kalangan pendidik, tokoh agama dan tokoh adat.

Krisis nasionalisme menjadi ancaman bagi generasi milenial, sebab usia yang masih labil cenderung ingin mencoba sesuatu, bertindak cepat tanpa berpikir matang yang dibarengi semangat yang berkobar – kobar menjadi celah bagi pihak – pihak yang ingin melancarkan aksi – aksi radikalisme. jika hal ini tidak dipikirkan sedari saat ini maka bukan tidak mungkin Krisis Nasionalisme di kalangan generasi milenial bakal terjadi.

Mari selamatkan generasi milenial dari ancaman radikalisme, dengan lebih peduli, memberikan perhatian ekstra pentingnya komunikasi dalam lingkup keluarga, agar bila terlihat hal – hal yang mencurigakan mudah dideteksi oleh lingkup keluarga sebagai orang terdekat sehingga segera dilakukan tindakan pencegahan. mungkin ada yang hilang dalam tatanan kehidupan yang terus mengalami perubahan seiring waktu yakni pengajaran dari hal terkecil kepedulian antar sesama. Seyogyanya rangkaian peristiwa yang terjadi membuat kita semakin ekstra membentengi diri dan mawas diri agar tidak tergerus oleh doktrin radikal yang kian massif. (***)

Oleh : Sartika Muchtar (Alumni PASCA UMI MAKASSAR )