TERORISME

120

Oleh: NURDIN
Staf polres palopo

PALOPOPOS.CO.ID,–Di tengah kehidupan bangsa yang sedang berjibaku dengan pandemi virus corona, tiba-tiba kita dikejutkan dengan ulah para teroris, Hari Minggu tanggal 28 Maret 2021 sekira pukul 10.30 wita, tepat di depan gereja Katedral Jalan Kajaolalido Kecamatan Ujung Pandang Kota Makassar kembali diguncang Bom bunuh diri oleh setidaknya dua orang yang diduga kuat sebagai pelaku, satu berjenis kelamin laki-laki dan seorang lagi berjenis kelamin perempuan.

Teroris seolah tidak pernah berhenti menebar terror, rasa takut di tengah masyarakat bukan saja di Indonesia namun hampir seluruh Negara dibelahan dunia ini, tentu kita memahami bersama bahwa ketika hal itu dilakukan dengan mengatasnamakan agama tertentu, maka jelas agama apa pun tidak ada yang mengajarkan demikian. Oleh karena, agama mengajarkan kita tentang kedamaian dan saling mengasihi satu sama lain.

Jika sekiranya ideologi terorisme yang melandaskan perjuangannya pada ajaran-ajaran agama yang suci, lantas mengapa dalam tindakannya justru sangat kejam dan kriminaslistik ? Prof. Juwono Sudarsono menjawabnya “karena ideologinya tertutup dan eksklusif. Dalam ideologi yang tertutup tidak dimungkinkan adanya dialog dan diskusi untuk mencari kebenaran yang obyektif.

Indonesia adalah Negara dengan berbagai macam suku, budaya, dan agama, dari keberagaman inilah sehingga tercipta persatuan dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika dengan ideologi Pancasila. Persatuan ada karena adanya keberagaman, tidak akan ada persatuan tanpa keberagaman.

Olehnya itu, kita harus dapat menerima perbedaan-perbedaan pandangan, sejauh untuk kebenaran dan kemaslahatan bersama.

”Seyogyanya kita tidak usah malu menyambut dengan baik akan kebenaran itu serta menerimanya darimana pun asalnya, walaupun dari jenis bangsa dan umat yang jauh dan berbeda dengan kita sebab sesungguhnya tidak ada sesuatu yang utama bagi penuntut kebenaran daripada kebenaran”. Demikian ungkapan Al-Kindi, seorang filsuf.

Pemahaman saya, bahwa teroris khususnya yang ada di Indonesia adalah sekumpulan orang-orang yang tidak beradab dan tidak beragama, toh kalau pun beragama saya yakin dan percaya mereka tidak memahami agamanya dengan baik dan benar.

Boleh jadi, mereka tahu banyak tentang ilmu agama akan tetapi mereka tidak memahaminya sebab orang yang banyak tahu tentang ilmu agama belum tentu memahami agama dengan baik dan benar. Inilah yang membedakan antara paham agama dan tahu ilmu agama.

Misuari, Mantan gubernur Mindanau, pendiri Moro Nasional Liberation Front (MNLF) yang dicap sebagai teroris di Manila, Filipina, pernah berucap “Para teroris itu pengecut. Mereka tidak berterus terang kalau mau berperang melawan musuhnya. Mereka hanya berani kepada orang sipil dan membunuh orang yang tidak bersalah. Itu jelas tidak sportif dan tidak sesuai ajaran agama apa pun, katanya.

Perlu kita ingat bahwa teroris adalah ideologi dan gerakan. Karenanya, terorisme meliputi tidak hanya pelaku pengeboman, tapi juga penggagas, pemikir dan murid-muridnya yang meyakini kebenaran ideologi itu. Untuk itu, diperlukan sinergitas seluruh elemen bangsa, Polri, TNI serta masyarakat dalam memerangi terorisme.

Peran masyarakat sangat dibutuhkan, ketika terdapat orang-orang yang mencurigakan yang melakukan hal-hal yang tidak lasim berada disekitar kita, agar sesegera mungkin melaporkan kepada pemerintah setempat atau ke kantor Kepolisian terdekat. (*)