VAKSINASI ASA DUNIA AKHIRI PANDEMI COVID-19

35

San Ashari, SKM., M.Kes

Ketua PERSAKMI Kota Palopo

Hampir satu tahun lamanya sejak ditetapkannya sebagai pandemi global, covid 19 yang telah menjadi sumber keresahan seluruh manusia di muka bumi ini. Hal ini yang membuat seluruh negara berupaya sangat keras ingin dengan segera menyelesaikanya.

Setiap hari, kita diperlihatkan dengan angka-angka kasus dan bahkan angka2 kematian akibat covid. Jumlah kasus secara global sampai hari ini telah melampaui 100 juta kasus dgn 2,28 juta orang telah meninggal dunia. Di indonesia angka kasus covid pun tidak menunjukkan angka yang sedikit karena telah mencapai 1,2 juta kasus atau 1 % lebih dari total kasus secara global dgn angka kematian mencapai 33.367 kasus. Sedangkan di Kota Palopo jumlah kasus hingga pertengahan februari telah mencapai 1.250 dengan total kematian 48 kasus.

Nyaris tak ada negara yang mampu mengkalim telah sukses menyelesaikan kedaruratan kesehatan akibat covid-19. Atau paling tidak, mampu menekan kasus hingga pada angka-angka minimal. Negara yang sukses menanggulangi kasus covid-19  melalui upaya karantina wilayah seperti lockdown belum bisa menjadi ukuran keberhasilan atas keamanan kesehatan masyarakat sebuah negara terhadap penyakit tersebut. jika angka-angka kasus terus bertumbuh di negara lain sementara negara yg telah terbebas dari virus kembali membuka batas wilayah dan membiarkan lalu lintas manusia kembali terjadi maka tentu kasus baru akan kembali tumbuh dan tak terkendali.

Sebagai contoh, beberapa waktu yang lalu, Negara China yang semula dianggap sukses menangani covid-19, namun telah kembali terkonfirmasi kasus infeksi baru. Menurut Komisi Kesehatan setempat, sebanyak 98 kasus baru merupakan kasus impor dan melibatkan pendatang dari luar china.

Sebelumnya, di china hanya ada 85.000 orang tertular dari 1,7 milyar penduduk china. Jumlah itu belum cukup untuk menjadi “benteng” imunitas. China selama ini berhasil mengatasi wabah dengan menekan angka kasus melalui cara lockdown.

Suatu negara yang berhasil mengatasi wabah hanya bisa bebas dari penularan selama negara tersebut terus mengisolasi diri. Begitu isolasi dibuka, virus akan kembali masuk. Kebijakan lockdown dari sebagian negara dan sukses mengeliminasi covid-19 kemudian membuat warganya kembali melintasi batas negara atau membiarkan kembali warga negara lain masuk tentu tidak menjamin keamanan warga negara terhadap ancaman virus tersebut selama eliminasi secara global melalui program yang efektif belum sepenuhnya dilakukan. Kebijakan lockdown atau mengkarantina wilayah dalam rentan waktu yang cukup lama, justru berpotensi menciptakan masalah-masalah baru, termasuk kelaparan atau permasalahan-permasalahan sosial lainnya. Apalagi jika negara tersebut tidak mampu menyediakan kebutuhan-kebutuhan primer warganya secara mandiri.

 Lalu kemudian, apakah strategi yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan pandemi yang sangat megancam kelangsungan hidup seluruh manusia di muka bumi?

 Herd Immunity

Herd immunity adalah perlindungan secara tidak langsung dari suatu penyakit menular yang terwujud ketika sebuah populasi memiliki kekebalan baik lewat vaksinasi maupun imunitas yang berkembang dari infeksi sebelumnya.

Namun dampak herd immunity covid disebut cukup berbahaya karena virus ini tergolong jenis baru dan sangat mudah menular. Penerapan herd immunity tanpa adanya vaksinasi, berisiko menimbulkan jatuhnya banyak korban jiwa karena infeksi yang menyebar tak terkendali.

Bagaimana Skema Herd Immunity Dilakukan ?

Cara kerja herd immunity berjalan dengan membiarkan sebuah populasi terpapar oleh virus. Orang yang terinfeksi virus dan lalu sembuh, lazimnya telah memiliki antibodi yang kuat terhadap virus yang sama. Tubuh memproduksi antibodi sebagai respon terhadap virus atau bakteri yang masuk. Bila seseorang pernah melawan suatu penyakit, sistem imunnya telah mengenali penyebab penyakit itu dan tahu cara mengalahkannya secara lebih cepat dan lebih baik di kemudian hari. Dan risiko orang itu tertular oleh penyakit yang sama lebih kecil, bahkan kebal. Karena itu, makin banyak orang yang sembuh dari infeksi, makin banyak pula yang memiliki imunitas atau kekebalan. Dalam skema herd immunity, mereka dapat berperan layaknya tembok pelindung bagi orang lain yang belum terinfeksi dalam suatu populasi.

Menurut sejumlah pakar epidemiologi, setidaknya 50-70 persen dari populasi harus terjangkit virus ini terlebih dulu untuk mencapai herd immunity. Bahkan ada pula yang menyebutkan sekurangnya 90 persen populasi yang terpapar untuk mewujudkan herd immunity.

Bayangkan jika angka terpapar yang terhitung minimal 50 % dari 7,8 milyar penduduk bumi ini harus terinfeksi dulu. Artinya harus ada 3,9 milyar yang tertular. Kalau case fatality rate (CFR) adalah 3%, itu berarti harus ada 117 juta jiwa yang harus kehilangan nyawa krn covid-19. Melihat angka-angka tertular dan kematian tersebut, apakah kita harus menunggu jumlah kasus termasuk jumlah kematian sebanyak itu agar covid-19 benar-benar dapat teratasi secara global? Tentu tidak !!

Cara terbaik untuk menerapkan herd immunity adalah dengan dibarengi imunisasi dan vaksinasi. Vaksin dimasukkan ke tubuh untuk membantu sistem imun mempelajari virus dan melawannya tanpa harus sakit. Menurut WHO, tanpa vaksinasi, dampak herd immunity corona bisa membahayakan populasi. Bisa terjadi hingga sembilan gelombang infeksi hingga tercapai herd immunity.

Seabad yang lalu, topley dan wilson mengenalkan istilah herd immunity. Mereka mempelajari pengaruh vaksinasi terhadap infeksi virus pada tikus. Selain kekebalan, pada level individu, mereka berpendapat bahwa tingkat kekebalan di level “herd” atau kawanan, penting untuk diperhatikan dalam menilai efektifitas vaksinasi.

Herd immunity juga pernah diteliti dalam konteks penyebaran penyakit tanpa adanya vaksinasi. Pada tahun 1930, hedric menemukan bahwa setelah banyak anak yang kebal akibat infeksi campak terhadap penurunan angka penularan pada anak-anak lain yang sebenarnya rentan. Dia menduga bahwa ini terjadi karena sudah terbentuknya herd immunity. Akan tetapi, pada praktiknya campak masih terus menginfeksi dunia. Barulah dengan adanya vaksinasi besar-besaran pada tahun 1960-an, campak akhirnya bisa mulai dilenyapkan.

Vaksinasi Sebagai Harapan Nyata

Dengan terus bertambahnya kasus baru dan angka-angka kematian akibat covid, dampaknya tentu akan merontokkan berbagai sisi kehidupan di muka bumi ini, termasuk di indonesia. Singkatnya, covid-19 kini telah menjadi ancaman mahaserius bagi kehidupan bersama. Hadirnya vaksin di beberapa negara termasuk di indonesia tentu menjadi harapan. Sejarah telah menunjukkan bahwa vaksinasi dan ilmu kedokteran telah berhasil mengatasi wabah dan meghindarkan manusia dari permasalahan yang lebih parah.

Dari beberapa sejarah eliminasi penyakit menular, kita dapat dapat berkesimpulan bahwa hingga saat ini, vaksinasi masih menjadi alternatif terbaik untuk bisa sesegera mungkin membuat semua negara merdeka dari virus ini. Dengan tingkat penyebaran sekarang ini, sepertinya mustahil kita bisa benar-benar mengisolasi virus penyebab covid-19, kemudian memusnahkannya sama sekali. Tanpa vaksin, virus ini akan terus beredar, menginfeksi lebih banyak orang, sampai herd immunity tercapai di seluruh muka bumi. Dan jika tanpa vaksin, mungkin kita akan mengulangi sejarah pandemi flu Spanyol 100 tahun yang lalu. Kita tentu tidak ingin melihat angka-angka kematian akibat covid-19 yang begitu besar. Oleh karenanya vaksinasi masih merupakan asa dunia untuk segera mengeliminasi covid-19 di muka bumi.