Korban Mengaku Dipaksa, Sekali Melayani Diberi Rp500 Ribu

1099
ilustrasi

* Lanjutan Trafficking di Palopo

PALOPO — Terduga mucikari perdagangan gadis di bawah umur, MIP (21) masih dalam pengejaran pihak Polres Palopo.
Kapolres Palopo AKBP Alfian Nurnas, SH, SIK MH melalui Kasubag Humas AKP Edy Sulistio saat dikonfirmasi mengenai peristiwa tersebut membenarkan bawah pihak keluarga korban telah melaporkan peristiwa tersebut, Sabtu 23 Januari 2021, lalu.

Artinya sudah hampir sebulan kasus ini baru menguak ke publik.
“Iya benar, laporan polisi sudah ada dan yang terlapor terkait dugaan eksploitasi anak itu ialah MIP dan saat ini terlapor masih dilakukan pengejaran oleh jajaran kepolisian Polres Palopo karena terlapor diketahui sudah tidak ada di wilayah Palopo sejak peristiwa tersebut,” kata AKP Edy Sulistio, Selasa, 16 Februari 2021

Kemudian saat diajukan pertanyaan apakah sudah ada laporan mengenai salah satu nama yang muncul yang disebutkan oleh korban dan diduga kerja sama dengan MIP dalam perdagangan anak di bawah umur tersebut yang berinisial JT dan diketahui pernah mencalonkan diri dalam pemilihan calon legislatif (caleg) beberapa waktu lalu itu? Kemudian dijawab Kasaubag Humas Polres Palopo, kalau laporan inisial JT, mantan caleg belum ada masuk. Namun, kalau terlapor inisial MIP berhasil ditangkap, pasti akan dilakukan pengembangan.

“Kalau inisial MIP, sudah ada laporannya dan sementara proses pengejaran tapi untuk satu orang dengan inisial JT itu memang disebutkan terlibat namun, saat ini belum ada laporannya masuk dari pihak keluarga korban,” sambung Edy Sulistio.

Dalam berita sebelumnya, disebutkan oleh korban melalui tante korban, Sindi menceritakan pertama kali korban (keponakannya,red) disetubuhi JT pada Agustus 2019, dua tahun lalu.

Korban saat itu dijemput MIP di rumahnya dengan alasan jalan-jalan. Ternyata korban malah dibawa ke sebuah kamar penginapan di salah satu tempat pemandian yang ada di Kota Palopo. Saat itu pula di dalam kamar sudah ada JT yang diketahui mantan caleg DPRD Palopo sudah menunggu korban yang diantar MIP.

Saat dibawa ke kamar penginapan tersebut, korban sempat bertanya ke MIP mengapa dibawa ke penginapan tersebut.
“Ponakan saya yang tidak tahu kalau akan dibawa MIP ke penginapan itu. Karena berangkat dari rumah alasannya mau diajak jalan-jalan,” kata Sindi.

Setiba di depan pintu kamar tersebut, cerita Sindi, MIP mendorong korban ke dalam kamar. Saat berada di dalam kamar, korban dipegangi JT dan mulut korban dibungkam agar tidak berteriak.

“Dari rentetan cerita korban itu, sangat jelas bahwa JT melakukan pemerkosaan terhadap korban karena, korban yang didorong masuk ke kamar kemudian mulut korban dibungkam,” sebut Sindi saat ditemui di kediamannya di Kec. Wara, Kota Palopo, Selasa, 16 Februari 2021, kemarin.

Selain itu, dari pengakuan korban mulai dari diajak oleh MIP dengan alasan jalan-jalan atau makan, yang ternyata korban malah dibawa untuk menemui JT disebuah tempat dengan tujuan untuk melayani nafsu bejat JT.

“Sangat jelas dari cerita korban ada unsur kerja sama antara MIP dan JT. Alasan MIP mengajak korban keluar rumah, tidak menyebutkan akan ketemu dengan JT namun, alasannya korban hanya diajak jalan-jalan atau makan namun, ternyata korban dibawa untuk menemui JT yang sudah menunggu MIP membawa korban,” lanjutnya.

Diketahui sejak Agustus 2019 hingga Agustus 2020, sudah sebayak tujuh kali MIP mengajak korban keluar dengan alasan jalan-jalan. Ternyata, korban dibawa untuk menemui JT.

Dari tujuh kali pertemuan dengan JT, enam kali korban berhasil disetubuhi dengan diupah Rp500 ribu per sekali kencan. Sedangkan pertemuan ketujuh gagal lantaran korban menolak meski dijanjikan uang sebesar Rp1 juta.

Korban sendiri kepada Sindi, bercerita selama ini korban diperlakukan sebagai budak dan sebagai mata pencarian oleh MIP yang dijual kepada JT.

“Kalau pun ada korban lain itu tidak saya tahu, karena pengakuan ponakan saya, hanya dia yang dibawa oleh MIP untuk bertemu dengan JT. Setiap kali selesai melayani JT upah yang diberikan itu diberikan ke MIP kemudian separuhnya diberikan ke ponakan saya selain itu, pengakuan ponakan saya juga tidak ada korban lain selain dia yang dibawa oleh MIP untuk dibawa ke JT. Satu hal yang perlu kita tahu, keponakan saya selama ini tidak mengungkap hal tersebut karena takut dengan ancaman MIP sehingga dia takut berbicara,” sebut Sindi menirukan pengakuan korban.(cr1/idr)