Tahun Baru 2021 dan Pandemi Covid-19

68

* Tak Ada Pesta dan Cinta, Semoga Tak Berujung Nestapa

By : Andrie Islamuddin

TAHUN 2020 telah kita tinggalkan beberapa saat yang lalu. Berbeda dengan sebelumnya, pergantian tahun di akhir Desember 2020 nyaris tanpa perayaan. Tak ada pesta, tak ada kembang api, dan bunyi terompet, karena semua itu secara tegas terbit larangan pemerintah

Tak ada kegembiraan dari kawula muda di kota dan di pelosok desa, Tak ada liburan sebagai ungkapan cinta ayah dan ibu kepada anaknya
Melainkan sebaliknya, hadir rasa mencekam dan nestapa. Dari balik tembok rumah mewah maupun gubuk beratap rumbia terdengar isak tangis akibat satu persatu keluarganya tumbang dan meninggal dunia akibat karena terpapar virus corona desease (Covid-19)

Yah… tidak ada pesta dan cinta di malam tahun baru, Bahkan tidak ada acara berkumpul walau hanya untuk memanjatkan doa
dan harapan demi masa yang akan datang Tahun 2021. Tidak ada doa bersama Kyai dan umat muslim-muslimah secara bersama. Tidak ada do’a syafaat kebaktian akhir tahun pendeta dengan para umatnya di Gereja. Tidak ada keceriaan Anak-anak datangnya libur akhir tahun
karena memang sudah lebih 9 bulan mereka tidak berseragam sekolah. Semuanya ini hanya karena satu sebab…. Kita sedang menghadapi PANDEMI VIRUS CORONA…

Kisah memilukan umat manusia tentang wabah virus Corona ini berawal dari China pada Desember 2019, disebuah kota bernama Wuhan Provinsi Hubei. Awalnya warga disana hanya melaporkan mereka terserang penyakit flu biasa, tetapi itu ternyata bukan. Komisi Kesehatan Wuhan Tanggap, Dan menyampaikan kabar virus tidak dikenal ini dan meminta semua harus memakai masker, sarung tangan dan cuci tangan. Penyebaran virus corona ini tidak berlangsung lama. Kota dengan jumlah penduduk 11 Juta jiwa ini pada 23 Januari akhirnya ditutup, bahkan terjadi migrasi besar-besaran warganya, dan membuat Wuhan menjadi kota yang mencekam. Yang memilukan, Februari 2020 dilaporkan sudah 2000-an orang warganya meninggal dunia

Tahun Baru 2021 dan Pandemi Covid-19Kini, data dari Worldometers, total kasus Covid-19 di dunia hingga 2 Januari 2021 sudah menjangkiti ke 84.349.523 jiwa umat manusia, dengan tingkat penyebaran yang tidak terkendali, dibuktikan dengan penambahan 1 bulan terakhir yang terjangkit sebanyak 20 juta jiwa
Virus corona ini sudah merenggut nyawa 1.834.354 orang. Ada 5 Negara menempati peringat terbesar kasus Pandemi Covid-19,
Amerika Serikat 20.614.554 kasus, India 10.303.409 kasus, Brasil 7.700.578 kasus, Rusia 3.186.336 kasus, dan Prancis 2.639.773 kasus

Bagaimana dengan Indonesia ?
Kita, masyarakat di Indonesia saat virus memorak porandakan Wuhan, Masih dalam keadaan tenang dan tidak kawatir. Tetapi disayangkan, Pejabat kita sesumbar menganggap virus corona hanya kasus yang biasa. Bahkan sejumlah pejabat negeri ini mengeluarkan statmen nyeleneh. LP3ES mencatat ada 37 pernyataan pemerintah yang blunder terkait virus corona. Salah satunya datang dari Menkes RI Terawan Agus Putranto, ‘Tak perlu panik oleh penyebaran virus corona, enjoy saja’. Ada juga statmen Menko Polhukam Mahfud MD
yang mengatakan ‘COVID tak sampai ke Indonesia, karena perizinannya berbelit-berbelit’. Tak mau kalah, Luhut-pun mengatakan ‘Corona kan sudah pergi dari Indonesia’

Namun apa fakta yang terjadi hari ini di Bumi kita berpijak hari ini? Hingga Sabtu (2/1/2021) Jumlah kasus positif virus corona 758.473 kasus. Dengan telah merenggut nyawa 22.555 jiwa penduduk. BPS juga mencatat 29 Juta orang pekerja terdampak Covid-19
2,56 Juta orang diantaranya menjadi pengangguran. Tentunya mereka terancam kesulitan mencari nafkah sehari-harinya

Pemerintah dan rakyat Indonesia juga akhirnya harus menanggung beban biaya akibat Pandemi Covid-19.Total jumlah Anggaran penanganan Covid-19 menembus nominal Rp 695,2 triliun. Dimana Rp 87,55 triliiun untuk anggaran kesehatan, Rp 203,9 triliun untuk  anggaran perlindungan sosial, Rp 120,61 triliun untuk insentif usaha, Rp 123,46 triliun untuk sektor UMKM, Rp 53,57 triliu untuk pembiayaan korporasi, Rp 106,11 triliun untuk dukungan sektoral K/L dan Pemda

Dampak Covid-19 di dirasakan di sektor keagamaan.  Sebanyak 221.000 Umat Muslim Indonesia gagal berangkat haji ke Tanah Suci Mekkah tahun 2020. Pun halnya di dunia pendidikan. Meski belum ada data resmi jumlah anak putus sekolah di Indonesia, namun untuk pertama kali dalam sejarah umat manusia Pandemi Corona menyebabkan Darurat Pendidikan. Data Unesco menyebutkan Ada 1,6 miliar pelajar seluruh dunia di liburkan Dan ada 9,7 juta anak beresiko putus sekolah

Yang lebih memilukan, masih menurut data WFP Tahun 2020 lalu menjadi tahun yang sulit bagi umat manusia termasuk Indonesia. Pandemi Covid-19 juga menghadirkan ancaman kelaparan dan kemiskinan, khususnya bagi negara yang dilanda peperangan dan negara miskin.
Ada 135 juta orang terancam menghadapi krisis kelaparan atau lebih buruk lagi. Angka tersebut ditambah dengan 821 juta orang yang saat ini tengah dilanda kelaparan kronis, Sehingga total ada 1 miliar orang di dunia ini ke dalam situasi yang mengerikan.  Saat ini negara diperhadapkan situasi dilema luar biasa, Antara menyelamatkan nyawa atau mata pencaharian warganya

Dengan kondisi Pandemi Covid-19 yang terjadi di Indonesia Ditambah dengan kepercayaan kinerja pemerintah yang tidak optimal,
membuat masyarakat Indonesia cenderung ‘setengah hati’ menghadapi Pandemi Covid-19. Tengoklah di beberapa realitas sosial
Kebijakan menerapkan ‘3M’ tidak kita pedomani secara tertib. Larangan malam tahun baru 2021 memang di patuhi masyarakat
Tetapi usai malam tahun baru, dimalam kedua kerumunan kembali terjadi. Kebijakan pemerintah menerapkan vaksinasi untuk menangkal virus corona tidak mendapat tempat di hati masyarakat.  Survei Populi Center menyebutkan 40 persen responden tidak bersedia menerima vaksin Covid-19 dari pemerintah. Dari jumlah itu, ada 59 % masyarakat yang tidak yakin dengan keamanan vaksin yang disiapkan pemerintah

Apa Kabar Tahun 2021 ?
Pertanyaan saat ini, bagaimana dengan hari-hari ke depan di tahun 2021. Saat di depan mata kita diperhadapkan banyaknya tokoh maupun masyarakat biasa yang harus meregang nyawa karena terpapar virus corona. Akhir November 2020 lalu Presidium Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) Prof Rochmat Wahab, Gatot Nurmantyo, dan Prof Din Syamsuddin memberikan statmen keprihatinan atas kondisi bangsa Indonesia saat ini. Pemerintah dinilai tidak mampu menyelesaikan masalah Pandemi Covid-19 juga masalah resesi ekonomi dengan baik. Kecenderungan ini diakibatkan penerapan kediktatoran konstitusional dan arogansi kekuasaan yang jauh melenceng dari Sila Kempat Pancasila. KAMI menilai Keteladanan telah sirna dan rasa keadilan makin terluka. Sepatutnya ketidakmampuan pemerintahan tidak dikompensasi dengan menggunakan hukum sebagai pedang kekuasaan

Penulis salut dengan pernyataan Presidium KAMI, yang seharusnya dapat ditindaklanjuti oleh pemerintah (pusat maupun pemerintah daerah). Ditengah Pandemi Covid-19 yang belum kita ketahui kapan akan berakhir, seharusnya pemerintah harus lebih dekat dengan masyarakatnya. Hari ini, kita masyarakat Indonesia, (termasuk di Tana Luwu) sedang menghadapi permasalahan besar yang terjadi di depan mata, yakni Perang Proxy (Proxy War) dan Masalah Pandemi Covid-19 itu sendiri

Tahun Baru 2021 dan Pandemi Covid-19Perang proxy adalah perang yang paling ditakuti para Jenderal di Indonesia. Jenderal Gatot Nurmantyo sudah jauh hari (2014) telah memperingatkan perang tanpa bentuk ini, Sebuah perang dimana tidak jelas siapa kawan maupun lawan, dimana ada kekuatan besar yang memainkan perannya secara tidak langsung melalui pihak ketiga. Perang ini disinyalir adalah upaya untuk penguasaan sumber-sumber energi dunia, Dan perang itu sesungguhnya juga telah terjadi di Indonesia

Entah ada kaitan Pandemi Covid-19 dengan perang proxy, Hari ini juga 268 Juta lebih masyarakat Indonesia juga dalam pusaran menghadapi Pandemi Covid-19, dan telah jatuh korban sebanyak 22.555 jiwa yang meninggal dunia. Kita tidak tahu apakah kita akan menjadi korban selanjutnya dari Pandemi Covid-19 ini atau mungkin anggota keluarga yang sangat kita sayangi melebih harta benda kita

Namun demikian, sejatinya pemerintah harus lebih dekat dengan masyarakatnya. Setidaknya Pemerintah dekat secara aspek kebijakan yang dijalankannya Dan harus menghindari resistensi dari amanah kekuasaan yang dapat menguntungkan pribadi dan golongan lalu melukai rasa keadilan masyarakat itu sendiri.

Tidak elok rasanya, ditengah linangan air mata saat masyarakat meratapi sanak keluarganya meninggal karena Covid-19
Justru pemerintah berada jauh dalam dekapan masyarakat Dengan sesuka hati melaksanakan berbagai kebijakan.
Alih-alih untuk mendukung pemulihan dari Covid-19, justru memanfaatkan isu Covid-19 untuk mengumpulkan pundi-pundi kekayaan

Ditengah Pandemi Covid-19 serta bayang-bayang perang proxy, pemerintah sejatinya bersatu padu dengan rakyatnya. Menguatkan rakyatnya dengan berbagai kebijakannya. Menguatkan sektor pangan dan pertanian demi menghindari ancaman kelaparan warga miskin.
Menguatkan sektor kesehatan demi menyembuhkan dan menyelamatkan nyawa rakyatnya dari ancaman mengerikan virus Covid-19 yang masuk ke rongga dada manusia. Menguatkan sektor pendidikan agar anak-anak ceria dan kembali bersekolah untuk menyiapkan generasi penerus tongkat estafet pembangunan bangsa agar kita tidak kehilangan generasi cerdas. Menguatkan sektor UKM agar kios dan gadde-gade rakyat kecil tidak tergilas dengan korporasi bisnis ritel. Dan sedapat mungkin menghindari pembangunan fisik yang sesungguhnya tidak memiliki azas manfaat langsung ke masyarakat

Pemerintah harus memberi jaminan warganya  untuk Tetap Semangat dan Tidak Berputus Asa. Bukan sebaliknya lewat kebijakan yang kontradiktif membuat rakyatnya berputus asa dan tidak lagi bersemangat. Jika semua ini dapat dilaksanakan dengan baik
Dengan rasa bangga rakyat akan memberikan penghormatan kepada pemerintah. Dilain sisi rakyat juga tidak merasa sendiri bertarung menghadapi kengerian Covid-19, yang sewaktu-waktu mengancam nyawa mereka di depan mata. Sehingga dalam menjalani hari-hari di tahun 2021 ini masyarakat senantiasa bersuka cita dan optimis menatap masa depannya. Bukan malah sebaliknya mereka sakit terpapar wabah virus Corona, Tanpa dukungan imunitas dari pemerintah dan akhirnya berakhir diujung NESTAPA

Wallahu Alam Bisshowab
Belopa, 01 Januari 2021