KEBUN KAKAO DI TENGAH PERSAWAHAN

192

Dr. Idawati, S.P.,M.Si
Dosen Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian
Universitas Andi Djemma Palopo

Tanah Luwu pernah mengalami kejayaan tanaman kakao sebelum beberapa permasalahan pada tanaman ini terjadi.

Permasalahan tersebut ditandai dengan adanya dampak perubahan iklim yang menyebabkan tingkat serangan OPT semakin meningkat yang diperparah dengan umur tanaman yang semakin tua, tanah semakin kekurangan unsur hara dan perawatan tanaman tidak lagi sesuai dengan GAP tanaman kakao. Hal ini menyebabkan penurunan produksi yang ditandai dengan banyaknya petani kakao melakukan alih fungsi lahan menjadi sawah irigasi dan tadah hujan.
Alih fungsi lahan ini menjadi hal yang menyedihkan bagi sebagian petani kakao yang masih ingin mempertahankan tanaman kakaonya. Beberapa dari petani tersebut berujar jika sekeliling kebun kami jadi sawah otomatis kebun kakao kami menjadi korban meskipun tanaman kakao miliknya masih produktif. Apa yang mendasari petani melakukan percetakan sawah dengan cara swadaya, jika bukan karena pendapatannya semakin rendah setelah penurunan produksi kakaonya.
Terjadinya percetakan sawah ini menjadi ancaman bagi keberlanjutan usaha tani kakao khususnya di wilayah Kabupaten Luwu. Percetakan sawah semakin meluas dan hampir semua kebun kakao telah beralih fungsi menjadi lahan sawah. Alih fungsi ini terjadi disebabkan oleh kapasitas adaptif petani yang semakin rendah terhadap beberapa hal sesuai dengan hasil penelitian diantaranya:
1. Kemampuan teknis yang terdiri atas: (a) penerapan teknik GAP kakao, (b) penerapan teknologi hemat air, pengelolaan dan pemanfaatannya, (c) pelaksanaan Sekolah Lapang Iklim, SL-PTT, dan SL-PHT, (d) penerapan demplot/kebun percontohan dan (e) peremajaan tanaman dengan melakukan diversifikasi tanaman (tumpang sari), (f) penerapan kalender budi daya kakao adaptasi iklim.
2. Kemampuan manajerial terdiri atas: (a) perencanaan modal usaha tani, (b) pelatihan pengolahan hasil (kewirausahaan), dan (c) akses pelayanan informasi iklim yang masih rendah, sedangkan kemampuan sosial budaya dalam meningkatkan kerjasama bagi petani kakao dengan pihak stakeholder terkait (peneliti, PT, LSM, perusahaan dan lain-lain) masih pelu ditingkatkan lagi;
Kapasitas adaptif petani kakao dipengaruhi oleh; (a) karakteristik petani dalam pendidikan non formal yang terdiri atas: pelatihan, sekolah lapang (SLI, SLPTT dan SLPHT), dan lama berusaha tani yang berpengaruh pada pengambilan keputusan yang dilakukan oleh petani kakao, (b) dukungan penyuluhan (pemerintah, swasta dan swadaya) dalam meningkatkan kemampuan dan penguasaan materi adaptif iklim bagi penyuluh, dan (c) dukungan pemerintah dalam pelayanan informasi iklim dan ketersediaan modal usaha tani bagi petani kakao untuk mewujudkan usaha tani kakao yang berkelanjutan.
Adapun beberapa masukan-masukan dalam meningkatkan kapasitas adaptif petani kakao adalah:
1. Meningkatkan sosialisasi dan menerapkan Teknik GAP dan kalender budidaya adaptif iklim serta pelatihan-pelatihan manajemen agribisnis usaha tani kakao, pelaksanaan sekolah lapang (SLI, SLPTT dan SLPHT), dan pembinaan dengan kebun percontohan oleh penyuluh bekerja sama dengan petani yang telah berhasil (penyuluh swadaya), peneliti, LSM dan PT, dari hulu ke hilir sehingga dapat meningkatkan motivasi dan kebersamaan petani di dalam belajar bersama dan menemukan solusi permasalahan usaha taninya.
2. Peningkatan kapasitas adaptif petani kakao dikedua kabupaten perlu dilakukan dengan dukungan pemerintah melalui kerja sama dengan BMKG dan penyuluh, menyediakan sumber air dan drainase pada lahan kakao, meningkatkan kemampuan penyuluh dengan menyesuaikan keahlian penyuluh dengan potensi komoditi unggulan wilayah binaan, agar dapat melakukan pendampingan dan pembinaan pada petani dari on farm sampai pada off farm, bukan hanya sekedar memberikan subsidi tanpa ada pembinaan, monitoring dan evaluasi secara berkelanjutan agar petani lebih terarah pada satu komoditas secara professional.
3. Keberlanjutan perkebunan kakao perlu ditekankan pada peningkatan kapasitas adaptif petani melalui pengembangan sumber daya manusia secara partisipatif dalam pengelolaan korporasi petani kakao.
4. Perlu ada penelitian lanjutan tentang kapasitas adaptif petani kakao dalam menghadapi fenomena perubahan iklim dengan melakukan analisa iklim pada lokasi penelitian.
5. Perlu ada penelitian lanjutan diluar dari variabel penelitian ini yang berkaitan dengan kapasitas adaptif petani kakao dalam menghadapi fenomena perubahan iklim.
6. Perlu ada penelitian lanjutan yang menggunakan metode vulnerability assessment dan expert judgment tentang kapasitas adaptif petani kakao dalam menghadapi fenomena perubahan iklim.(*)