Covid-19 Vs Kematian: Momen Pemaafan dan Kolaborasi

69

Rasmiati Tahir, Mahasiswa Program Doktoral Administrasi Publik UNHAS

Mengawali tahun baru Masehi  2021, kasus kematian karena covid-19 masih tinggi. Bahkan jumlah kasus semakin meninggi. Inilah barangkali yang dimaksud gelombang kedua pendemi yang kadang lebih ganas.

Tepat hari Ahad, tanggal 10 Januari 2021, dosen kami tercinta, Prof. Dr. Rahmad.,MS wafat karena positif covid. Sempat dirawat beberapa di hari di Rumah Sakit Dadi, Makassar. Di mata kami beliau adalah sosok yang bugar, fit, dan sporti. Selalu berpesan kebaikan dan semangat. Perkuliahan begitu menarik saat beliau yang punya jam pelajaran. Subhanallah, kita sebagai hamba ini hanya berjalan di atas takdirNya. Berikhtiar sebaik mungkin Allah pulalah yang menentukan ajal setiap hambaNya.

Ini adalah tahun di mana berita kematian paling sering didengar. Tenaga kesehatan sudah mengangkangi angka kematian yang paling pertama terdengar. Dokter spesialis, dokter umum, perawat. Meninggal karena covid. Kemudian, Ulama juga sudah banyak yang wafat di tahun ini, kalangan pendidik seperti Dosen tak kala banyaknya, lalu pejabat public dan masyarakat sipil. Dari jauh hanya bisa mengelus dada, meneteskan air mata kesedihan akan kepergian mereka. Alasan sedih terbesar kita disebabkan yang wafat itu adalah kalangan penting di tengah masyarakat. Para dokter, ulama, dosen dan pendidik, pejabat public, bahkan sanak saudari, teman sejawat.

Paling menyedihkan lagi adalah saat kematian karena covid. Jenazah akan dimakamkan sesuai protocol penguburan covid. Keluarga hanya menyaksikan dari jauh, tak boleh menyentuh jenazah. Inilah perpisahan kematian yang paling berat. Banyak yang tak sanggup melepas orang terdekat dengan kondisi seperti itu, secara hati dan mental. Namun, ini tetap harus ditegakkan demi kemaslahatan bersama. Sekali lagi, ini berat.

Entah sampai kapan pendemi covid ini akan berakhir. Hanya Allah saja yang tahu. Selain sudah memasuki gelombang kedua pandemi ini, juga mengalami perubahan ciri dan gejala yang tidak lagi sama persis yang pertama. Menuntut kita untuk semakin berikhtiar lebih besar lagi dalam menjaga diri, keluarga dan orang lain dengan ketat mematuhi protocol kesehatan yang ada. Ada kekhawatiran melanda namun pengharapan  tetap besar untuk bisa kembali normal seperti sedia kala. kita rindu semua itu.

Point yang ingin kami bahas adalah bahwa saat-saat sulit seperti ini, tak ada yang mampu memprediksi keadaan, berita kematian karena covid makin sering terdengar. Orang besar ataupun orang kecil bisa terpapar covid. Terkadang kita bergeleng-geleng kepala saat yang wafat itu orang besar. Professeor di dunia kesehatan, Professor di bidang social, bidang eksak, dan seterusnya. Gelar yang diperoleh sekian tahun, diupayakan segenap jiwa dan raga, telah hilang sekejab mata dan terkubur bersama jasad dalam tanah. Ataukah pejabat public yang telah berupaya sedemikian rupa untuk sebuah jabatan public, lalu hilang dan sirna karena kematian menjemput.

Yang diupayakan sekian lama sirna karena musibah kematian. Saling membenci karena berebut tahta, saling bermusuhan karena sebuah jabatan, saling mendengki karena persaingan, saling melukai dan menyakiti karena perkara dunia, saling curang karena persoalan fulus. Makan uang haram, memalsukan ini itu, menipu ini itu. Karena dunia yang secuil inikah yang akan membuat kita berpecah belah? Bermusuhan? Saling membenci dan memutus tali silaturahmi?. Hanya karena persoalan perut dan kemaluan. Hadist Rasulullah “Sesungguhnya di antara yang aku takutkan atas kamu adalah syahwat mengikuti nafsu pada perut kamu dan pada kemaluan kamu serta fitnah-fitnah yang menyesatkan”(HR. Ahmad).

Di musim pandemi ini seyogyanya kita semua memupuk silaturahmi, menjauhi segala perselisihan, saling bersaudara dalam kebaikan. Belajarlah dari banyaknya kematian di sekeliling kita. Bukankah kematian adalah pelajaran besar bagi orang-orang yang hidup? Selagi masih diberi nikmat kesehatan dan nikmat umur. Kita perbaiki hubungan yang sempat retak, membangun semangat korps dalam organisasi. Tinggalkan nafsu ingin memperbesar diri sendiri lalu menyikut orang lain, sebaliknya kita bangun dan tebarkan kemanfaatan yang banyak bagi orang lain. Bukan berapa banyak yang kita punya tapi berapa besar manfaat yang kita beri. Hidup ini teralu singkat untuk kita isi dengan ketersia-siaan dan perilaku negative.

Tak perlu payah dengan kelelahan berbuat baik sebab lelah itu akan hilang dan ganjaran pahala itu abadi. Dan takutlah berbuat buruk, sebab nikmatnya sementara dan tercatatlah itu sebagai keburukan. Semoga kita semua dalam kasih sayang dan lindunganNya. Aamiin..(*)