Perspektif Perayaan Tahun Baru 2021 Di Tengah Bencana Pandemi Covid-19

111

Oleh:

Rismayanti, SE., M.Si.

(Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institute Agama Islam Negeri Palopo)

Wabah covid 19 tengah menghantam sebagian besar wilayah di dunia termasuk Indonesia.  Bencana ini telah menelan korban jiwa sebanyak 1,7 juta populasi dunia. Di indonesia, jumlah korban covid 19 yang meninggal dunia tercatat sebanyak 21. 452 Jiwa (28/12/2020). Bahkan jumlah ini terus bertambah sejak virus ini mewabah di awal februari 2020 lalu. Ditengah mengganasnya wabah yang sedang dihadapi oleh masyarakat Indonesia, pemerintah dan masyarakat harus tetap bekerja sama dalam melawan virus covid 19 ini dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat dan segala upaya yang mampu meminimalisir penyebaran virus ini.

Bencana ini merupakan bencana yang melemahkan hampir setiap aspek kehidupan masyarakat, mulai dari aspek kesehatan, aspek sosial, aspek ekonomi dan sebagainya. Sehingga segala bentuk kebijakan pemerintah tidak hanya berfokus pada satu aspek saja. Multiplayer effect yang ditimbulkan dari bencana covid 19 ini memaksa pemerintah untuk terus berupaya menjaga stabilitas kehidupan masyarakat dalam berbagai aspek melalui kebijakan-kebijakannya. Salah satu hal yang perlu disikapi oleh pemerintah dan masyarakat adalah mengenai perayaan tahun baru 2021.

Perayaan tahun baru telah menjadi budaya bagi masyarakat dunia termasuk Indonesia yang akrab dengan perayaan yang meriah, penuh kegembiraan, dan suka cita. Namun, perayaan tahun baru 2021 ini akan dilalui ditengah bencana pandemi covid 19 yang sampai saat ini penyebarannya masih belum terkendali. Perayaan tahun baru yang membudaya ini syarat dengan kegiatan yang menciptakan kerumunan banyak orang disuatu tempat, menikmati kuliner, menyalakan kembang api dan meniup terompet yang semuanya dilalui dengan penuh suka cita. Hal-hal tersebut tentu akan memudahkan penyebaran virus covid 19, terlebih jika maraknya pelanggaran protokol kesehatan bagi masyarakat yang merayakan malam pergantian tahun 2021.

Kita sebagai masyarakat seharusnya tetap patuh pada aturan penerapan protokol kesehatan yang dibuat oleh pemerintah kapan pun dan dimanapun kita berada. Sehingga kita sebagai masyarakat juga turut membantu pemerintah dalam melawan keganasan virus covid 19 ini. Salah satu upaya yang bisa kita kontribusikan adalah dengan tidak melaksanakan atau mengikuti perayaan malam pergantian tahun 2021 seperti biasanya. Perayaan tahun baru tidak harus dilalui dengan gegap gempita dan penuh suka cita dalam perayaan yang meriah. Tetapi perayaan tahun baru bisa kita isi dengan lebih banyak mendekatkan diri kepada Tuhan, bersyukur, merenungi segala yang dilalui dalam satu tahun lalu, membuat perencanaan yang akan kita lakukan dalam satu tahun kedepan, mengintrospeksi segala kekurangan yang ada pada diri, dan berkomintmen untuk memperbaiki segala kekurangan itu di tahun depan. Semua hal tersebut dapat dilakukan di rumah masing-masing tanpa harus berkumpul, menciptakan kerumunan orang dan tanpa harus melibatkan banyak orang.

Sebagai alternative, masyarakat juga bisa menggelar perkumpulan atau pertemuan secara daring dengan kerabat, saudara dan keluarga sebagai bentuk silaturahmi virtual. Hal ini juga tentu sebagai upaya agar masyarakat tetap mampu menjaga hubungan sosial antar sesama sehingga tetap terjalin dengan baik dan harmonis. Untuk kalangan akademisi, tentu juga akan lebih bermanfaat jika perayaan malam pergantian tahun 2021 diisi dengan webinar atau rapat virtual yang membahas suatu tema yang menarik.

Dalam perspektif islam, perayaan tahun baru sebaiknya diisi dengan lebih banyak berdzikir dan berdoa atau bersedekah dengan menyantuni anak yatim atau fakir miskin. Hal itu sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Allah SWT yang telah memberikan begitu banyak nikmat dan kasih sayangNYA kepada kita di tahun-tahun lalu. Terlebih perayaan tahun baru (masehi) ini bukanlah tahun baru umat islam (hijriah). Sehingga banyak ulama yang melarang. Terlepas dari halal haramnya, semua kembali pada fitrah dan niatnya, serta faedah dari kegiatan-kegiatan yang kita lakukan.

Di masa pandemi ini, mengisi malam pergantian tahun 2021 dengan berdzikir, berdoa, bersedekah dan berbagai kegiatan positif lainnya dari rumah masing-masing akan lebih berfaedah daripada mengikuti atau melaksanakan perayaan tahun baru yang menciptakan kerumunan banyak orang. Tentu hal itu tidak akan mengurangi esensi dari perayaan tahun baru tersebut, sebab suka cita juga dapat kita ciptakan ketika kita semakin mendekatkan diri kepada Tuhan.

Dari sudut pandang ekonomi, menjelang perayaan tahun baru selalu ditandai dengan meningkatnya pola konsumsi  masyarakat, khususnya untuk kebutuhan pangan dan atribut khas tahun baru seperti kembang api dan terompet. Perayaan malam pergantian tahun yang identik dengan sajian kuliner khas tahun baru membuat pola konsumsi masyarakat meningkat yang dikhawatirkan akan mempengaruhi angka inflasi (kenaikan harga barang-barang umum). Terlebih perayaan tahun baru berdekatan dengan perayaan Natal.

Inflasi dapat terjadi jika pasokan barang di pasar lebih rendah daripada pola konsumsi masyarakat. Penurunan produktifitas akibat pandemi menyebabkan pasokan barang di pasar semakin terbatas sehingga salah satu solusi alternatifnya adalah dengan menjaga pola konsumsi masyarakat agar tetap stabil dan memprioritaskan konsumsi pada kebutuhan-kebutuhan primer.

Mengingat saat ini indonesia sedang mengalami resesi ekonomi dimana pertumbuhan ekonomi nasional berada di angka minus 3,49% pada kuartal ke IV tahun 2020. Hal ini terjadi akibat pandemi covid 19 yang melemahkan produktifitas dan kegiatan-kegiatan ekonomi masyarakat. Hal ini berimbas pada penurunan daya beli masyarakat, Sehingga kita perlu bijak dalam melakukan pembelanjaan, mengalokasikan pembelanjaan pada hal-hal yang bersifat prioritas semata, tidak melakukan pengeluaran-pengeluaran yang bersifat mubazzir, dan tidak melakukan penimbunan barang untuk keuntungan pribadi (hoarding). (*)