Sub Urban Bua

222

Penulis :
Kosmas Toding, ST, MT
Kasi PSU Dinas Perkim Luwu

Mari membayangkan Bandara Lagaligo Bua akan sebesar Bandara Sultan Hasanuddin saat ini…10 tahun kedepan, mungkin belum…15 tahun kedepan, mungkin juga belum…namum 20 tahun kedepan, impian itu mungkin terwujud. Setidaknya saat ini bandara Lagaligo Bua telah menjadi bandara terbesar ke-2 di Sulawesi Selatan setelah Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar.

Walaupun dari tolak ukur panjang landasan pacunya saat ini 1,400 m masih kalah dari Bandara Buntu Kunik, Toraja sepanjang 2.600 m namun dari sisi kapasitas layanan jumlah penumpang 1 juta pertahun, layanan frekuensi penerbangan yang sudah setiap hari dan jumlah maskapai yang melayani yaitu Wings Air dan Citilink maka wajar bila bandara Bua menjadi terbesar ke-2 di Sulsel

Kamis, 17/9/2020 maskapai Citilink secara resmi melayani rute Makassar-Bua dengan pesawat ATR-600 kapasitas 72 penumpang. Sebelumnya Wings Air telah melayani rute ini setiap hari, 2 maskapai ini akan melayani pagi dan sore hari. Rencana 2021 bila panjang runway telah 2.245 m maka pesawat jenis jet Boeing 737 seri 900 dan Bombardier CRJ-1000 dengan kapasitas 150 penumpang siap mendarat di bandara ini.

Pesatnya pengembangan bandara Bua ini tak lepas dari faktor ‘Tarikan’ perkembangan kawasan Bua yang memiliki potensi besar secara geografis. Letak Bua yang hanya 10 km dari Kota Palopo dan 40 km dari Belopa sebagai ibukota Kabupaten Luwu telah ditunjang dengan ketesediaan sarana dan prasarana penunjang yang akan menjadikan kawasan ini menjadi primadona dan kawasan emas yang menjanjikan.

RTRW Kabupaten Luwu telah menjadikan kawasan ini salah satu PKLp (Pusat Kegiatan Lokal Promosi) namum melihat pesatnya perkembangan dan potensinya maka dalam revisi RTRW akan menjadikan kawasan ini sebagai PKL (Pusat Kegiatan Lokal) sama dengan Belopa sebagai ibukota kabupaten. Bua yang ditetapkan sebagai kawasan industri skala sedang saat ini dimana telah beroperasi beberapa industri dan pergudangan. Pabrik plywood SGS (dulu Panply) telah beroperasi puluhan tahun, Pabrik Smelter milik Bukaka Grup (BMS) juga telah melakukan pembangunan sejak beberapa tahun, pergudangan PT. Indomarco sedang dibangun untuk menyuplai indomaret di Luwu Raya, Depo Pertamina yang menyupli BBM Luwu Raya dan Toraja serta beberapa industri lainnya. Layaklah di wilayah di dijadikan Kawasan Industri Luwu (KILU)

Kawasan ini berkembang pesat akhir ini karena ditunjang oleh ketersediaan infrastruktur transportasi. Sarana transportasi seperti bandara Bua, pelabuhan tersus (terminal khusus) milik PT. SGS, rencana pembangunan pelabuhan/jetty untuk smelter BMS juga ditunjang dengan ketersediaan prasarana transportasi seperti jalan. Kawasan ini dilalui jalan trans nasional Sulawesi dan telah dibangunnya jalan provinsi Bua-Toraja yang akan menghubungkan dengan kawasan strategis nasional pariwisata di Tana Toraja. Bandara Bua ini juga akan menjadi pintu masuk arus pelaku bisnis dengan jeliatnya industri pertambangan di Suorako dan Morowali di Sulawesi Tengah.

Pemerintah (baik pemda Luwu, Pemprov Sulsel dan Pusat) seakan berlomba-lomba dan saling mendukung untuk membangkitan kawasan ini menjadi kawasan ’emas’ dan pusat perekonomian baru di Sulsel. Pemda Kab. Luwu setiap tahunnya memberikan postur anggaran untuk penyiapan prasarana dasar untuk masyarakat di kawasan ini (jalan, drainase, air minum, sanitasi, irigasi).

Pemprov Sulsel tahun 2020 ini memberikan hibah keuangan 25 M untuk pembebasan lahan sekitar bandara dan berjanji akan mengfungsionalkan jalan Bua-Toraja dengan pengaspalan. Pemerintah Pusat tak kalah gesitnya dengan perluasan runway dan terminal di bandara Bua.

Ketersedian infrastruktur transportasi ini juga menyebabkan gairah investasi yang masuk ke Kabupaten Luwu saat ini cukup besar (sebelum pandemi), potensi sumber daya alam di kabupaten Luwu yang sangat besar baik di kawasan agropolitan dan minapolitan menarik minat banyak investor untuk berusaha di Kabupaten Luwu.

Bandara sebagai pintu masuk sangat menarik bagi investor untuk berinvesatsi di sebuah wilayah. (*)