Nilai Teladan Pejuang Kepemimpinan Andi Djemma

187
Muh. Ari Fahmi Abidin

Oleh: Muh. Ari Fahmi Abidin
(Pemuda Turunan Pancai Pao/ Mahasiswa Unismuh Makassar)

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya. -Ir. Soekarno.

Tempat hari ini, tanggal 10 November 2020. Kita memperingati Hari Pahlawan Nasional, salah satu bentuk manifestasi penghargaan kita terhadap jasa-jasa para Pahlawan, yaitu dengan memperingati Hari Pahlawan Nasional.

Namun bukan hanya sekedar memperingati akan tetapi turut serta mewarisi nilai-nilai patriot para pahlawan yang rela mati di medan pertempuran demi sebuah kemerdekaan dan tercapainya kesejahteraan bangsa yang akan di nikmati oleh anak-cucunya kelak.

Disini saya akan sedikit berceritra, akan fakta sejarah bahwa seorang pemimpin yang rela mati dan bersama rakyatnya memang benar adanya, bukanlah sekedar dongeng belaka.

Andi Djemma “Petta Matinroe ri Amaradekanna” (lahir di Palopo, Sulawesi Selatan, 15 Januari 1901 – meninggal di Makassar Sulawesi Selatan, 23 Februari 1965) ia adalah Seorang Pahlawan Nasional sekaligus (Payunge) Datu Luwu Ke – XXXIV dan XXXVI.

Beliau anak mattola yang lahir dari rahim seorang wanita yang bernama Andi Kambo Datu Luwu Ke – XXXIII. Awal mula gagasan perlawanan Andi Djemma melawan kolonialisme dan imprialisme Belanda, berangkat dari keresahannya melihat kondisi sosial bagaimana rakyat Luwu sebagai pribumi diperlakukan tanpa prikemanusiaan, disiksa dan ditindas oleh para penjajah. Pada saat itu ia masih menjadi Putera Mahkota yang kemudian naik tahta setelah kepemimpinan ibunya.

Pada tanggal 17 Agustus 1945 Bung Karno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia. Selepas itu pula setelah proklamasi, Andi Djemma mengambil sikap untuk berdiri di belakang Republik Indonesia. Beliau rela menanggalkan tahtanya sebagai raja dan wilayah tetorialnya yang sangat luas, yang bukan hanya tersebar di Sul-Sel melainkan wilayah tetorialnya sampai di Sul-Tra dan Sul-Teng. Seluruh Wilayah tersebut ia serahkan sepenuhnya kepada pemerintahan RI. Atas langkah yang di ambil untuk bergabung dengan NKRI dan melawan penjajah dalam rangka mendukung kemerdekaan.

Andi Djemma lebih memilih bergerilya dan memimpin langsung rakyatnya di medan pertempuran. Selama kurang lebih 6 bulan lamanya berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Kemudian tertangkap oleh pasukan Belanda dan di asingkan ke Ternate.

Untuk menggerakkan pemuda dalam rangka mendukung kemerdekaan, Andi Djemma bersama anaknya Andi Achmad memprakarsai pembentukan organisasi Soekarno Muda (SM).

Beliau pulah lah yang juga memprakarsai Konfrensi Raja-Raja Sulawesi Selatan untuk mendukung kemerdekaan Indonesia, pada Oktober 1945. Bersama dengan Andi Mapanyukki (Raja Bone pada waktu itu).

Andi djemma adalah sosok pemimpin yang rela mati demi rakyatnya yang kemudian berimplikasi pada rakyatnya yang juga rela mati demi pemimpinnya.

Suatu ketika Tentara NICA dengan persedian alusista yang canggih dan memadai pada waktu itu, diperintahkan untuk menurunkan bendera Merah Putih. Kemudian menemui Andi Djemma dengan membawa senjata yang pelornya siap untuk dilepaskan kapapanpun saja. Tentara tersebut menyeruh kepada Andi Djemma agar bendera tersebut diturunkan. Namun dengan idealisme, kewibawaan dan keberanian layaknya seorang pemimpin.

Andi Djemma berkata : “Bila saya menurunkan bendera Merah Putih, maka saya akan dibunuh oleh rakyat saya. Bila saya tidak menurunkannya, maka Tuan akan menembak saya, maka saya lebih baik mati ditembak Tuan daripada saya mati dibunuh oleh rakyat saya.”

Dari kejadian tersebut kita bisa mengambil makna, terkait bagaimana eratnya hubungan emosional loyalitas antara seorang pemimpin dan rakyatnya, demi tercapainya kepentingan bersama untuk bangsa dan negara.

Namun bagaimana dengan sikon kepemimpinan kita saat ini, apakah nilai-nilai tersebut tetap diterapkan dan dilestarikan? Mungkin masih saja namun sudah jarang kita temukan lagi, bagaimna para leluhur kita sangat menjunjung tinggi nilai solidaritas dan teguhnya prinsip tanggungjawab seorang pemimipin. Salah satu penyebabnya juga, dikarenakan pada waktu itu masih kentalnya norma-norma adat yang sangat dipatuhi dan dijadikan landasan kepemimpinan oleh pemimpin dan yang dipimpin.

Kita melihat saja realitas yang ada saat ini, banyaknya pemimpin yang hanya mementingkan kepentingan individual dan kelompoknya saja, sehingga yang dipimpin mengalami distrust terhadap pemimpinnya. Yang kemudian dari problem tersebut menimbulkan disentegrasi.

PERLAWANAN RAKYAT LUWU 23 JANUARI 1946

Andi Djemma dan beberapa koleganya memimpin langsung rakyat Luwu untuk melakukan perlawanan terhadap tentara penjajah yang pada saat itu diboncengi tentara NICA.

Awal mula pecahnya perlawanan tersebut dikarenakan perlakuan tentara KNIL yang terus menerus membabi buta.

Pada tanggal 23 Januari 1946, rakyat Luwu tidak dapat lagi membendung amarahnya, perlakuan tentara KNIL sudah melawati batas kekurangajaran.

Yang dimana ia memasuki Mesjid dengan memakai sepatu yang penuh kotoran, mereka mengobrak-abrik isi masjid termasuk merobek-robek Al-Quran kemudian diinjak-injak sampai hancur, dan menampar orang-orang yang tidak bersalah. Kejadian tersebut terjadi pada tanggal 21 Januari 1946 di Desa Bua, sehingga dari kejadian tersebut membuat berang rakyat Luwu.

Dewan Pertahanan Rakyat Luwu akhirnya mengeluarkan ultimatum kepada Komandan Kontingen Serikat, LAY WRIGHT yang berbunyi:

“Dalam tempo 2×24 jam pasukan-pasukan Australia, harus memerintahkan kepada pasukan-pasukan KNIL yang berkeliaran di dalam dan di luar kota Palopo mengadakan patroli-patroli, untuk segera menarik seluruh anggota-anggotanya bersama senjata-senjatanya masuk ke dalam tangsi. Keamanan tetap dalam tangan PRI Luwu sesuai agreement dengan Komandan Kontingen Australia, Lay Wright. Jika sampai batas tempo itu tidak diindahkan oleh yang bersangkutan maka ketertiban dan keamanan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Karena rakyat Luwu tidak dapat mentolerir kekejaman-kekejaman, kebiadaban-kebiadaban pasukan-pasukan KNIL yang telah sering terjadi di dalam dan di luar kota Palopo”.

Setelah ultimatum disampaikan dan tidak diindahkan oleh kontingen serikat di Palopo, maka rakyat Luwu pun mengaktualisasikan ultimatum tersebut sehingga terjadilah serangan total rakyat Luwu pada subuh hari tepat pukul 04.00 tanggal 23 Januari 1946 terhadap pasukan KNIL dan Australia yang berada di Palopo.

Disinilah dimulainya kembali gerilya para rakyat Luwu untuk melakukan perlawanan terhadap para tentara biadab tersebut. Mereka berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mencari tempat strategis untuk bertahan. Pada suatu ketika H.M. Jusuf Setia bersama Andi Achmad dan Mustafa Lamba menghadap kepada Sri Paduka Datu Luwu Andi Djemma, untuk mengemukakan bahwa tempat yang mereka diami pada waktu itu sangat berbahaya dan harus segera ditinggalkan apabila Sri Paduka Datu Luwu menyetujuinya.

Kemudian Sri Paduka Datu Luwu menjawab: “Saya tidak rela meninggalkan istana dan semua kekayaan saya apabila saya tidak rela sehidup semati dengan anak-anakku, dan saya bersedia tunduk di atas telunjuk anak-anakku ke mana saja aku dibawanya”.

Setelah berdialektika beberapa saat merekapun bergegas meninggalkan tempat tersebut.

Dalam perjalanan tersebut para pasukan rakyat Luwu sempat beberapakali bertemu dengan tentara NICA dan kemudian kontak senjatapun terjadi di beberapa tempat, baik itu di daratan maupun di tengah lautan lepas.

Tempat pelarian untuk pertahanan rakyat Luwu dan P.K.R. Luwu yang terakhir bertempat di gunung Batuputih yang terkenal dengan sebutan “BENTENG BATUPUTIH”. Kemudian di tempat itu diadakan konfrensi Komando-komando P.R.I. dari Palopo, Masamba, Malili, Kolaka, Badjo dan Patampanua untuk membentuk pasukan yang lebih besar (Divisi).

Benteng Batuputih inilah menjadi tempat terakhir bertenggernya pasukan rakyat Luwu untuk melakukan perlawanan terhadap para tentara penjajah.

Benteng Batuputih di taklukkan setelah kedatangan tentara Belanda dari empat penjuru yaitu dari Manado, Palopo, Makassar dan Kendari. Mereka datang beserta kapal dan pesawat perangnya, dengan berbagai cara dan upaya melakukan invansi untuk menjatuhkan benteng tersebut yang pertahanannya sangat sulit ditembus sehingga para tentara penjajah banyak yang gugur dalam misi tersebut.

Dari rangkaian peristiwa tersebut kita bisa mengambil pelajaran bagaimana Andi Djemma dan Rakyat Luwu mengorbankan segala apapun yang ia punya termasuk nyawanyapun ia pertaruhkan, darah dan air mata ia tumpahkan demi mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Semoga kita para generasi penerus bangsa bisa mewarisi nilai-nilai patriot para pejuang kemudian mengimplementasikannya untuk membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia serta senantiasi mengigat akan jasa-jasanya. Dan tetap menjaga persatuan bangsa Indonesia tetap utuh tanpa memandang sesuatu hal yang dapat memecah-belah persaudaraan.

*Diakhir tulisan ini. Saya sebagai regenerasi penerus ingin menguslkan kepada intansi terkait agar kiranya bisa memasukkan pembelajaran Sejarah Luwu dalam kurikulum pembelajaran skala lokal di wilayah Tana Luwu.

Agar nantinya para anak-cucu leluhur senantiasa mengingat akan jasa-jasa dan mengetahui ceritra para leluhurnya. Bukan hanya di ingat dan di bahas pada Hari Pahlawan Nasional ataupun hari-hari tertentu yang hanya sekedar sebagai ceremonial belaka, namun akan tetap mengingat di setiap saat sehingga terpatri nilai-nilai positif sejarah leluhurnya. Serta tetap menjaga identitasnya dan menjadikan sebuah kebanggaan sebagai orang Luwu yang berbudaya dan beradap. (*)