Jaga Data Pribadi dan Bijak Gunakan Internet

17

* OJK Ingatkan Potensi Kebocoran dalam Bertransaksi Digital

PALOPO — Sejumlah akademisi mengingatkan masyarakat agar lebih bijak menggunakan internet utamanya sosial media. Itu terkait dengan keamanan data pribadi mereka agar tidak disalahgunakan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Menurut Muhammad Idham Rusdi, Ketua Prodi Informatika UNCP Palopo saat diwawancara Palopo Pos, Rabu 18 November 2020, menjelaskan masyarakat saat ini harus melek terhadap Tekhnologi Informasi.

Era Big Data mengharuskan masyarakat untuk meningkatkan literasinya. “Minimal masyarakat diharapkan lebih bijak menggunakan internet utamanya sosial media,”jelas Idham.

Sekarang ini kata Idham, banyak alasan untuk menjaga data pribadi para pengguna internet. “Yang pertama tentu untuk mencegah seseorang berpura pura menjadi kita untuk mengambil keuntungan, security harus lebih ditingkatkan, karna istilahnya security seperti misalnya pasword yang kuat pun bisa bobol apalagi security yang lemah,” katanya.

Tidak hanya itu kecenderungan pengguna sosial media saat ini telah banyak mengumbar data data pribadi mereka. Menurut Idham, data-data penting yang sebenarnya tidak harus diinformasikan kepada masyarakat luas melalui sosial media.

Ia mencontohkan informasi rahasia seperti kode OTT, Foto KTP, Nomor Handphone, hingga data financial. Karena menurut Idham data ini selain bisa disalah gunakan juga memungkinkan pihak luar mengamati perilaku kita. Seperti misalnya barang belanjaan dan sebagainya.

Sebelumnya. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mengingatkan masyarakat untuk selalu menjaga data pribadi agar tidak bocor. Terutama di tengah pesatnya pertumbuhan keuangan digital. Masyarakat diminta bekerja sama untuk meningkatkan literasi atau pengetahuan tentang jasa keuangan agar terhindar dari hal yang tidak diinginkan.

Anggota Dewan Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen, Tirta Segara menjelaskan edukasi yang digalakkan pemerintah akan percuma jika masyarakat tidak turut andil dalam meningkatkan pengetahuannya terkait keuangan digital, seperti halnya kebocoran data.

Dia menyebut, data dari Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (APTSI) mengenai perilaku masyarakat yang bisa mengakibatkan kebocoran data di platform digital. “60 persen pengguna internet Indonesia itu mau berbagi foto di dunia maya dengan suka rela. Mereka juga mengumbar data pribadi seperti tanggal lahir sebesar 50 persen, 46 persen alamat email, alamat rumah 30 persen, dan nomor telepon 21 persen,” kata Tirta dalam IMA Chapter Webinar Series yang digelar, Selasa 17 November 2020.

Di tengah pesatnya perkembangan digitalisasi keuangan, masyarakat mulai melakukan berbagai transaksi pembelian hingga layanan keuangan secara daring atau online. Namun demikian, literasi keuangan masyarakat Indonesia masih rendah menjadi perhatian besar pemerintah serta pelaku usaha jasa keuangan.

Saat ini, inklusi keuangan memang sudah cukup memuaskan dengan persentase 76,19 persen. Namun demikian, tingkat literasi berada jauh di bawahnya yang baru mencapai 38 persen dari target 50%.

Tirta menyebut bahwa permasalahan mengenai perlindungan konsumen di sektor keuangan perlu sinergi dari semua pihak termasuk pemerintah, industri, serta masyarakat itu sendiri. Termasuk dalam menjaga data pribadi.(ald)