INDONESIA MAJU BUKAN MIMPI

49

OLEH: Yohanis Mendila

INDONESIA maju telah menjadi topik hangat yang kerap diperbincangkan di setiap pidato Presiden Republik Indonesia dan forum-forum kajian. Belum lama ini, Negara Amerika Serikat memberikan pernyataan yang mengatakan bahwa Indonesia dikeluarkan dari daftar Negara berkembang menjadi Negara maju. Tentu saja berita tersebut sontak menjadi hangat diperbincangkan oleh seluruh kalangan. Banyak yang menanggapi dengan dukungan positif, namun tak sedikit juga yang menanggapi dengan kekhawatiran. Pertanyaan yang sekarang muncul di benak masyarakat apakah sudah pantas Indonesia menjadi Negara maju ?
Indonesia saat ini tidak lagi masuk dalam daftar Negara berkembang, hal tersebut menjadikan Indonesia melakukan pembangunan-pembangunan di segala bidang dalam mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. Tujuan tersebut membutuhkan strategi yang matang dan tentunya dengan modal yang besar. Indonesia Maju bukanlah sesuatu hal yang mustahil diraih mengingat Negara ini sudah memiliki modal yang cukup. Modal dasar yang dimiliki saat ini setelah kemerdekaan Republik Indonesia yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika. Selain itu, modal pendukung yang dimiliki Indonesia sebagai Negara maju yaitu: pertama, Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah. Kedua, Indonesia memiliki sumber daya manusia dengan penduduk terbesar ke-5 didunia dengan komposisi penduduk usia produktif yang terus bertambah. Ketiga, letak geografis yang memiliki posisi strategis pada jalur perdagangan maritim internasional dan penghubung benua Asia – Australia.
Seluruh modal tersebut apabila di jaga dan dikelola secara benar akan mengantarkan Indonesia masuk jajaran yang diperhitungkan. Apabila dibandingkan dengan Negara maju lainnya, mereka memiliki keunggulan yang menonjol di hanya salah satu aspek lalu anjlok di aspek lainnya. Contohnya Singapura, Negara maju dengan segala pembangunan yang megah namun terhambat dengan luas Negara yang ‘mentok’ atau tidak dapat dikembangkan. Selain itu di Negara Jepang yang berambisi dengan teknologinya justru menghadapi kesulitan terhadap pertumbuhan populasi masyarakatnya. Masyarakat Jepang cenderung tidak ingin menikah dan memiliki keturunan sehingga jumlah masyarakat produktif dari tahun ketahun menjadi turun. Bagi Indonesia, permasalahan tersebut justru menjadi yang diunggulkan.
Untuk memenuhi kebutuhan tercapainya Indonesia maju diperlukan suatu instrumen yang biasa disebut Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). APBN terdiri dari komponen Penerimaan, Belanja, dan Pembiayaan. Untuk melihat apakah instrument tersebut bagus atau tidak kita harus melihat secara keseluruhan. Dari situlah kita bisa melihat apakah APBN kita sehat, kredibel, efesien, efektif atau tidak. Faktor yang mempengaruhi instrument ini antara lain lingkungan ekonomi, baik di dunia maupun di Indonesia. Pertumbuhan ekonomi di Indonesia dibandingkan Negara G-20 saat ini sudah memiliki pondasi perekonomian yang bagus berupa pertumbuhan ekonomi yang stabil. Rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di nomor urut 3 dibawah Negara Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan India. Berdasarkan Berita Resmi Stastisik dari Badan Pusat Statistik, perekonomian Indonesia tahun 2019 berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) tumbuh sebesar 5,02 persen, lebih rendah dibanding capaian tahun 2018 sebesar 5,17 persen. Ekonomi Indonesia triwulan IV-2019 dibanding triwulan-IV 2018 tumbuh sebesar 4,97 persen (y-on-y). (Sumber data: Badan Pusat Statistik).
Walaupun dunia dilanda pandemi Corona Virus Desease 19 (Covid-19) sejak Maret 2020, yang sangat berdampak terhadap perekonomian global, dimana banyak Negara telah terdampak mengalami resesi sejak kuartal I tahun 2020, bahkan beberapa diantaranya adalah negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Jerman serta tetangga kita sendiri Singapura, perekonomian Indonesia sendiri baru terdampak resesi di kuartal II tahun 2020.(*)