Tetap Eksis, Koperasi Tawarkan Bunga Menurun

20
Kepala Cabang KSP Berkat, M Nasir, SpDi

TOMPOTIKKA — Saat pandemi covid-19, koperasi di Kota Palopo banyak yang harus gulung tikar. Hal ini dikarenakan banyak anggota mereka yang sudah tidak aktif lagi. Namun, ada sejumlah koperasi yang masih eksis, bahkan aktif memberikan pinjaman kepada anggotanya.

Seperti yang dilakukan Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Balo’ta. Koperasi ini kembali aktif setelah tertekan di masa pandemi pada Maret hingga Mei.

Pimpinan KSP Balo’ta, Saltinus Mangetan, SE kepada Palopo Pos, Senin 19 Oktober 2020 mengatakan, KSP Balo’ta beranggotakan kurang lebih 1.000-an orang ini terus berupaya untuk bangkit dan menyalurkan kembali pinjaman sebagai bisnis utama mereka.

“Para anggota juga sudah mulai aktif sehingga kita kembali aktifkan pinjaman dana pada Juni,” kata Saltinus Mangetan kemarin.
Pada 3 bulan lalu, yakni Maret hingga Mei, outstanding KSP Balo’ta hanya Rp600 Juta. Setelah diaktifkan pada Juni penyaluran pinjaman itu mencapai Rp1,2 Miliar dalam waktu sebulan.

“Kita tembus Rp1,2 Miliar untuk pinjaman dana. Bahkan untuk saat ini, pihaknya sudah berani memberikan pinjaman hingga Rp300 Juta, tenor di atas 3 tahun dengan suku bunga 1,6 persen, menurun,” jelasnya.

Kepala Cabang KSP Berkat, M Nasir, SpDi justru mengatakan, di saat pandemi covid-19, tidak terlalu berpengaruh. KSP Berkat konsisten memberikan pinjaman kepada pegawai pensiunan. Tapi ada juga sektor-sektor produktif yang dibiayai. Tergantung pengajuan.

“Kami hanya bisa memberikan pinjaman Rp35 Juta dengan bunga menurun yakni sistim bunga pensiunan 1,65 persen sedangkan ASN 2,25 persen. Ini dapat membantu meringankan beban masyarakat utamanya para pensiunan yang banyak melakukan pengambilan pinjaman ke kami,” ungkap Nasir yang mengaku telah memiliki 800 anggota.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Kelembagaan dan Pengawasan Dinas Koperasi dan UKM Kota Palopo, Assar Bawanan mengungkapkan, koperasi dinyatakan tak sehat lagi jika tak menyelenggarakan Rapat Anggota Tahunan (RAT), tak mengajukan laporan pertanggungjawaban, serta tidak melaksanakan pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU).

”Hal itu membuat koperasi banyak yang kolaps, sehingga dari 292 koperasi yang berdiri hanya ada 74 koperasi yang sehat yakni mensejahterakan anggotanya dengan memberikan SHU serta melaksanakan RAT,” tandasnya. (rhm)