Pilkada, Waspada Peredaran Uang Palsu

28
15 - halaman 01

* Kenali Ciri-cirinya dengan Cara 3D

MASAMBA — Momen pilkada perputaran uang sangat besar. Kondisi ini pula dimanfaatkan oknum untuk mengedarkan uang palsu. Masyarakat harus teliti melihat kondisi uang sebelum dibelanjakan.
Kasus peredaran uang palsu sudah banyak terjadi di daerah yang menggelar pilkada. Terbaru di Tana Toraja.

Satreskrim Polres Tana Toraja berhasil menangkap seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) dengan inisial SYH (50) yang mengedarkan uang palsu.
Kasus ini bermula dari laporan warga di Pasar Sentral Makale pada 16 Agustus 2020, dimana saat itu tersangka sedang beraksi mengedarkan uang palsunya dengan membelanjakannya untuk beli Tomat, pakaian bekas dan terakhir saat ingin transaksi di agen BRI Link.

Kasat Reskrim Polres Tana Toraja, AKP Jhon Paerunan mengungkap kronologis aksi SYH dimana mulai mengedarkan uang palsu pada Agustus lalu. Disebutkan SYH hendak membelanjakan di pasar Makale tana toraja pada tanggal, 16 Agustus 2020, tersangka membawa uang palsu sebanyak Rp2.000.000. Di Pasar Makale tersangka SYH membeli sayur senilai Rp20.000.

Ia lalu membayar sayur dengan uang palsu pecahan Rp100.000 ke pedagang. Selanjutnya, SYH kembali berbelanja berupa baju bekas dengan pecahan Rp100 ribu. Perempuan tersebut membayar sebesar Rp105.000.
SYH kembali beraksi ke agen Brilink dimana aksinya tersebut terhenti.

Saat itu ia hendak transfeer ke rekening pribadi dengan uang senilai Rp1.000.000. Pemilik Brilink curiga dengan tersangka SYH membawa uang yang hendak di transfernya. Pemilik Brilink melapor ke petugas, dan saat itu juga ia ditangkap di pasar Makale dan dilakukan pengembangan terhadap kasusnya.

Petugas sempat melakukan penggeledahan di rumah kontrakan tersangka di Tete bassi, kelurahan Tambunan, makale. Petugas mengamankan barang bukti 200 lembar uang palsu pecahan 100.000, 2 lembar uang dinar Kuwait pecahan 20 dinar Kwait, 2 unit Hand Phone milik tersangka SYH, Buku rekening tabungan BRI milik tersangka SYH, Bukti transfer Brilink dengan transaksi Rp 1.000.000, sayuran dan pakaian bekas yang dibeli oleh tersangka SYH.

Bagi daerah lain, seperti di Luwu Utara, guna mengantisipasi terjadinya penggunaan dan penyebaran uang palsu di momen pilkada ini Polres Luwu Utara giat melakukan patroli. Hal ini disampaikan Kapolres Luwu Utara AKBP Agung Danargito saat dihubungi Palopo Pos, Rabu 14 Oktober 2020, kemarin.

“Kita terus melaksanakan patroli dan antisipasi semaksimal mungkin di wilayah Lutra. Maksimalkan anggota di lapangan,” kata Agung kemarin.
Kapolres juga meminta masyarakat dapat mengenali dan teliti dengan uang kertas dengan dilihat, diraba, dan diterawang.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Lutra AKP Syamsul Rijal mengatakan pembuat atau pengedar atau yang memiliki uang dalam bentuk apa pun bila ditemukan jelas pidana dan pasti ditangkap.
“Untuk saat ini Polres Lutra belum menerima laporan soal peredaraan uang palsu,” sebutnya.

Cara Mengetahui Uang Palsu atau Asli

Volume uang yang beredar di masyarakat selama pilkada lebih banyak dibanding bulan biasanya.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Selatan (Sulsel) mengimbau untuk waspada dan selalu mengecek keaslian jika menerima uang.

Kepala Divisi Pengembangan Ekonomi, Kantor Perwakilan BI Sulsel, Dery Rossianto, memberikan tips bagaimana membedakan uang asli dengan uang palsu.

Pertama, untuk dapat mengenali keaslian uang kertas dengan cepat, kenali ciri-cirinya dengan cara 3D alias dilihat, diraba, dan diterawang.
Dilihat, yakni, perhatikan uang yang Anda curigai. Jika Anda mengamati uang pecahan Rp100.000 dan Rp50.000, akan ada perubahan warna pada benang pengaman.

Perubahan warna juga akan terlihat pada perisai logo BI di uang Rp100.000, Rp50.000, dan Rp20.000.
Anda juga akan melihat angka berubah warna yang tersembunyi pada pecahan Rp100.000, Rp50.000, Rp20.000, Rp10.000. Selain itu, ada pula gambar tersembunyi berupa tulisan BI dan angka.

Diraba, setelah memperhatikan uang dengan seksama, selanjutnya rabalah uang yang Anda curigai.
Anda akan merasakan ada bagian uang yang kasar yaitu pada gambar utama, gambar lambang negara, angka nominal, huruf terbilang, frasa NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA, dan tulisan BANK INDONESIA.

Tuna netra bisa meraba kode tuna netra (blind code) di sisi kiri dan kanan untuk mengenali nilai nominal dan asli atau tidaknya uang kertas.
Diterawang, setelah memperhatikan dan merabanya, angkatlah uang dan arahkan pada cahaya. Anda bisa menemukan gambar pahlawan, gambar ornamen pada pecahan tertentu, dan logo BI yang akan terlihat utuh.(jun/idr)