Masyarakat Pilih Menabung Saat Pandemi

12

* Pengamat: Kebutuhan Pokok tak Butuhkan Biaya Banyak

PALOPO — Tabungan masyarakat di bank mengalami lonjakan selama pandemi covid-19. Pada periode Agustus 2020, misalnya, tabungan di atas Rp5 miliar meningkat mencapai Rp373 triliun.

Angka tersebut meningkat dua kali lipat dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang hanya Rp115 triliun.
Jumlah itu juga lebih tinggi dibandingkan kenaikan sepanjang 2018 dan 2019 yang tercatat masing-masing Rp130 triliun dan Rp162 triliun.

Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro menjelaskan tingginya nilai tabungan itu disebabkan masih takutnya masyarakat melakukan masyarakat kelas ekonomi menengah ke atas masih cenderung menahan konsumsinya.

Permasalahan ini disebabkan rendahnya kepercayaan masyarakat selaku nasabah pada kondisi perekonomian yang saat ini masih diliputi ketidakpastian.

“Itu mengindikasikan orang prefer to save (memilih untuk menabung), karena masih uncertainty (ketidakpastian),” ujarnya dalam bincang APBN 2021, Selasa (14/0).

Seperti diketahui, komponen konsumsi rumah tangga mengalami kontraksi 5,51 persen pada kuartal II 2020. Angka ini terpaut jauh dibanding periode yang sama tahun lalu yang masih tumbuh positif 5,18 persen.

Dampaknya, pertumbuhan ekonomi juga minus hingga 5,32 persen lantaran kontribusi konsumsi rumah tangga kepada PDB mencapai 57,85 persen.

Andry mengatakan ketidakpercayaan masyarakat yang membuat konsumsi tertahan juga disebabkan covid-19 yang terus meningkat.

Menurutnya, masyarakat kelas menengah ke atas ini cenderung memilih untuk berdiam diri di rumah ketika kasus covid-19 meningkat. Dampaknya, aktivitas ekonomi dari golongan ini pun berkurang.

“Mereka punya uang dan punya kemampuan untuk belanja, tapi ketika kasus covid-19 banyak, mereka ada di rumah dan mereka punya kemampuan untuk bertahan di rumah, sehingga berbagai indikator menjadi landai,” pungkasnya.

Terpisah, pengamat ekonomi Universitas Muhammadiyah Palopo, menyebutkan, kalau pandemi Covid-19 membatasi aktivitas masyarakat di segala bidang.

Kondisi tersebut sesuai anjuran pemerintah dan MUI. Akibatnya, roda perekonomian melambat. Hampir semua transaksi dilakukan secara online.
“Bepergian atau traveling jarang dilakukan oleh masyarakat.

Kegiatan makan bersama keluarga maupun kerabat di rumah makan atau restauran dibatasi. Belanja di mall dan di pasar tradisional juga dibatasi.

Masyarakat sangat khawatir berkumpul karena takut di swab oleh petugas kesehatan. Intinya adalah aktivitas masyarakat dibatasi, sehingga semua jenis konsumsi atau transaksi berkurang,” sebutnya saat dihubungi, Rabu,kemarin.

Lanjutnya, orang dengan yang memiliki sumber keuangan yang cukup memadai pastinya akan memilih menabung di bank.

“Pengeluaran keluarga yang menonjol adalah pengeluaran jasa, seperti rekreasi, traveling ke luar negeri, belanja di mall, dan sebagainya.

Sedangkan pengeluaran untuk konsumsi langsung itu relatif kecil jumlahnya. Sehingga orang yang punya income lebih memilih menabung di saat pandemi ini,” jelasnya.

Daya Beli Lemah

Bank Indonesia (BI) memberi sinyal tingkat daya beli masyarakat akan lemah sampai akhir 2020. Hal ini akan memberi dampak pada rendahnya kontribusi pertumbuhan konsumsi ke perekonomian nasional tahun ini.

Sinyal ini berasal dari laju inflasi yang diperkirakan bakal di bawah 2 persen pada tahun ini. Proyeksi itu bahkan tak sampai batas bawah target inflasi bank sentral nasional sebesar 3 persen plus minus 1 persen alias 2 persen sampai 4 persen pada tahun ini.

“Inflasi memang rendah dan akhir tahun ini, insya Allah akan di bawah batas bawah kisaran, yaitu di bawah 2 persen,” ucap Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers hasil RDG BI periode Oktober 2020 secara virtual, Selasa (13/10).

Perry mengatakan proyeksi ini tak lepas dari kondisi terkait laju Indeks Harga Konsumen (IHK) yang mencatatkan penurunan harga alias deflasi dalam tiga bulan berturut-turut. Deflasi terakhir pada September 2020 sebesar 0,05 persen secara bulanan.

Dampaknya, tingkat inflasi baru mencapai 0,89 persen secara tahun berjalan dari Januari-September 2020. Sementara inflasi secara tahunan di kisaran 1,32 persen jika dibandingkan dari September 2019.

“Inflasi yang rendah dipengaruhi turunnya inflasi inti sejalan permintaan domestik yang belum kuat,” katanya. (idr)