Kredit Rumah Bersubsidi untuk Nasabah Fix Income

256

*Developer: Pembangunan Perumahan Menurun

TOMPOTIKKA — Perbankan di situasi pandemi saat ini lebih selektif dalam pemberian kredit. Baik kredit produktif, tak terkecuali kredit perumahan bersubsidi.

Terkait hal itu sejumlah developer mengeluhkan lantaran pembangunan rumah subsidi menurun sementara permintaan pembelian calon user antusias. Diketahui beberapa perbankan yang membiayai kredit perumahan bersubsidi diantaranya BTN, BNI, Bank Sulselbar, BRI, Bank Mandiri yang hanya melayani nasabah fix income saja seperti ASN, TNI dan Polri dan pegawai swasta.

Pimpinan Bank Sulselbar Palopo, Ruslan saat dikonfirmasi Palopo Pos, Senin 12 Oktober 2020, kemarin mengakui untuk kredit termasuk rumah bersubsidi di Bank yang dipimpinnya lebih hati-hati dalam menyalurkan kredit sejak awal pandemi lalu.
“Untuk kredit, bank memang harus memastikan apakah user sanggup,” katanya.

Mengenai debitur Fix Income lantaran itulah resiko terendah bagi perbankan sehingga lebih mudah memmberikan kredit. “Selain hal itu, kuota rumah bersubsidi saat ini memang sudah habis khususnya di Bank Sulselbar,”katanya. Ia juga menyampaikan saat ini kuota untuk kredit rumah bersubsidi melalui skema FLPP yang disalurkan juga telah habis.

Senada dengan itu, BNI Cabang Palopo yang dikonfirmasi Palopo Pos, siang kemarin mengatakan sebenarnya pihaknya tidak menutup kran untuk kredit, namun tetap melihat track record debitur. “Selain debitur fix income kita tetap memberikan kredit untuk non fix income tapi si nabasah harus memiliki performance kredit yang lancar selain harus nasabah eksisting,” kata Wakil Pemimpin bidang layanan BNI Palopo, Muhammad Syafri Djabir.

Untuk proses kredit perumahan kata Syafri Djabir, tetap lebih memperhatikan developer yang telah bekerjasama. Sementara itu BTN Cabang Palopo merupakan bank yang memilik kuota perumahan bersubsidi yang terbilang besar terkait keluhan sejumlah developer tersebut hingga saat ini belum memberikan jawaban saat dihubungi.

Sebelumnya diberitakan, Ketua Pengembang Indonesia Luwu Raya, Hj Nurlinda Sabani kepada Palopo Pos, pekan kemarin mengungkapkan bahwa developer tidak lagi melakukan pengerjaan perumahan lantaran penjualan terbatas. Sementara pembeli rumah masih terbilang antusias hanya terkendala dengan kebijakan perbankan dan pemerintah yang sangat hati-hati terkait peryaratan.

“Pasar masih sangat antusias, khususnya rumah subsidi. Namun tidak dibarengi dengan kebijakan perbankan dan pemerintah yang penuh kehati-hatian dalam menyikapi persyaratan KPR,” tulisnya.
Hal itu juga membuat produksi atau pembangunan rumah subsidi menurun.(ald/rhm)