Daerah Siaga Banjir!

30
BANJIR LUTRA. Mobil tertimbun material lumpur bercampur pasir saat banjir bandang yang menerjang Kota Masamba, Luwu Utara, Senin 13 Juli 2020, lalu. Saat ini hujan lebat kembali sering terjadi akibat pengaruh La Nina. Banjir dan longsor bisa terjadi sewaktu-waktu. IDRIS PRASETIAWAN/PALOPO POS

* Pengaruh La Nina, Hujan Lebat Terjadi di Malam Hari

PALOPO — Hujan lebat sejak beberapa hari terakhir melanda Luwu Raya dan Toraja. Daerah diminta siaga datangnya banjir dan tanah longsor. Fenomena ini akibat adanya La Nina yang melanda Samudera Pasifik. Di Luwu Raya dan Toraja bencana yang sering melanda diantaranya, banjir dan tanah longsor.

Berdasarkan peta kerawanan bencana serta sejumlah kejadian yang pernah terjadi, untuk di Kabupaten Luwu yang sering dilanda banjir diantaranya Kec. Larompong, Larompong Selatan, Suli, Bajo, Bupon, Bua, dan Lamasi. Sedangkan daerah yang sering mengalami longsor yakni di Kecamatan Latimojong, dan Bastem.

Selanjutnya, di Kota Palopo, Kec. Telluwanua menjadi langganan banjir, sedangkan tanah longsor biasanya terjadi di Kec. Mungkajang.

Di Luwu Utara, daerah yang sering dilanda banjir diantaranya Kec.Baebunta, Masamba, Baliase, Malangke, Malangke Barat, dan Sabbang. Sedangkan tanah longsor sering terjadi di Kec. Rongkong.

Untuk di Luwu Timur, daerah yang sering banjir berdasarkan rilis daerah rawan bencana dari tahun ke tahun, telah dipetakan yakni di Kecamatan Mangkutana, Kecamatan Malili, Kecamatan Towuti Kecamatan Angkona, Kecamatan Burau, dan Kecamatan Wotu sering terjadi banjir. Sedangkan tanah longsor rawan terjadi di Kec. Towuti, dan Sorowako.

Dari prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sulsel memprediksi awal musim hujan di Sulawesi Selatan variatif.

Sebagian besar atau 50 persen wilayah diperkirakan memasuki musim hujan pada November 2020, sedangkan 25 persen daerah Sulsel sudah mengalami awal musim hujan pada Maret 2021. Selain itu, 12,5 persen terjadi pada Oktober 2020, 8,3 persen di Desember 2020, dan 4,2 persen di April 2021.

Puncak musim hujan di wilayah Sulsel diperkirakan akan terjadi dua kali dalam satu periode.

Prakirawan BMKG Sulsel, Esti Kristantri dalam rilisnya kepada Palopo Pos, Jumat 16 Oktober kemarin, menyebutkan sebagian besar daerah di Luwu Raya akan dilanda hujan lebat yang mulai terjadi sore hingga malam hari di pukul 15:30 Wita.

“Kita melihat bahwa untuk di wilayah Sulsel, dari seluruh Indonesia, terlihat bahwa ada dua pola yang menyatakan bahwa Pantai Barat dan Pantai Timur. Tentunya ini mempunyai perbedaan awal masuk musim hujan di tahun 2020/ 2021,” katanya.

Wilayah Indonesia, akan mengalami periode La Nina atau penurunan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik bagian Timur. Namun La Nina dengan kategori lemah sampai sedang karena setiap daerah memberi respons yang berbeda, termasuk di Sulsel.

Ia mengatakan bahwa hingga Maret 2021, potensi La Nina dengan kekuatan antara lemah hingga sedang masih berpotensi terjadi. Namun hal ini tetap perlu diwaspadai mengingat Januari akan mencapai puncak musim hujan di Sulsel di Wilayah Pantai Barat, dan memasuki musim hujan di wilayah Timur pada bulan Maret.

“Hal ini perlu diantisipasi meningkatnya curah hujan di wilayah-wilayah pada saat kondisi puncak hujan tersebut,” kata Hartanto.

Kepala BPBD Palopo, Antonius Dengen sebelumnya meminta agar sejumlah kecamatan yang rawan bencana untuk berhati-hati dan waspada. Tak hanya daerah yang rawan longsor namun daerah yang tidak rawan longsor dan banjir pun harus waspada.

“Jadi imbauan ini diberikan kepada seluruh masyarakat Kota Palopo pada seluruh kelurahan di sembilan kecamatan. Kalau ada informasi longsor maupun banjir mohon segera beritahu kami (BPBD),” ucapnya.

Dalam mengantisipasi hal tersebut BPBD, jika ada gejala bencana segera diinformasikan kepada BPBD. Dimana BPBD telah menyiapkan nomor call center yang bisa dihubungi yakni 0471-3310239 dan handphone 082194699391.

“Setiap posko pemantau ada satu warga yang merupakan tokoh masyarakat yang ditugaskan di posko tersebut. Serta siap siaga serta melaporkan jika ada gejala-gejala bencana yang akan terjadi,” jelas Kepala BPBD Kota Palopo, Antonius.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Luwu Utara, Muslim Muchtar mengungkapkan, La Nina umumnya memberi dampak berupa peningkatan curah hujan di kawasan ekuator barat Pasifik termasuk Indonesia.

Peningkatan curah hujan seiring dengan awal musim hujan disertai peningkatan akumulasi curah hujan berpotensi menjadi pemicu terjadinya bencana hidro-meteorologis seperti banjir dan tanah longsor. Termasuk di wilayah Luwu Raya khususnya Luwu Utara. “Jadi memang perlu diwaspadai dampak dari fenomena La Nina ini,” pungkasnya. (idr)