BNPB Warning Daerah akan Dampak La Nina

83

* BPBD Palopo Siagakan Call Center

PALOPO — Daerah diminta siaga akan datangnya anomali iklim La Nina di akhir tahun ini. Dampak ekstremnya akan menyebabkan tingginya curah hujan dan berpotensi datangnya banjir, dan tanah longsor.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan anomali iklim memungkinkan datang lebih ekstrem. Karenanya seluruh provinsi di Indonesia harus menyiapkan skema penanganan.

“Harus ada koordinasi secepatnya agar daerah siap. Seluruh daerah mesti menetapkan langkah antisipasi,” kata Deputi Bidang Pencegahan BNPB Lilik Kurniawan, Ahad (11/10/2020).

Lilik menjelaskan, pemprov masing masing daerah sudah harus melakukan koordinasi paling lambat November. Setelah itu langkah penanganan disosisalisasikan ke seluruh kabupaten dan kota.

Dikatakan Lilik, peringatan BMKG harus direspons. Semua pemangku kepentingan diminta segera menyebarluaskan informasi tersebut hingga ke masyarakat bawah.

Berdasarkan data BKMG, prakiraan dampak La Nina terjadi pada akhir 2020 hingga awal 2021. Sebagian besar wilayah Indonesia saat ini sudah memasuki musim hujan sejak Oktober hingga November 2020.

Wilayah tersebut meliputi sebagian besar Sumatera, Jawa, Bali,
Kalimantan, Sulawesi Selatan bagian selatan, Sulawesi Tenggara bagian selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah bagian barat.

Kemudian Gorontalo, sebagian besar wilayah Sulawesi Utara, Maluku Utara, Pulau Buru bagian utara, Papua Barat bagian utara, dan Papua bagian tengah.

Adapun puncak musim hujan diperkirakan umumnya akan terjadi pada Januari dan Februari 2021.
BMKG sendiri menyebut memasuki bulan Oktober 2020, fenomena la nina mulai terjadi. Dampak yang akan terjadi adalah kenaikan curah hujan hingga 40 persen dibanding kondisi normal.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengimbau masyarakat di sejumlah daerah rawan bencana untuk waspada dan melakukan mitigasi mandiri.

Call Center Siap

Terpisah, Kepala BPBD Palopo, Antonius Dengen yang dimintai tanggapan akan warning dari BNPB menjelaskan, fenomena La Nina yang dihadapi Indonesia saat ini dapat berdampak pada
potensi bahaya hidrometeorologi yang lebih buruk.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palopo meminta agar sejumlah kecamatan yang rawan bencana untuk berhati-hati dan waspada. Tak hanya daerah yang rawan longsor namun daerah yang tidak rawan longsor dan banjir pun harus waspada.

“Jadi imbauan ini diberikan kepada seluruh masyarakat Kota Palopo pada seluruh kelurahan di sembilan kecamatan. Kalau ada informasi longsor maupun banjir mohon segera beritahu kami (BPBD),” ucapnya.

Dalam mengantisipasi hal tersebut BPBD, jika ada gejala bencana segera diinformasikan kepada BPBD. Dimana BPBD telah menyiapkan nomor call center yang bisa dihubungi yakni 0471-3310239 dan handphone 082194699391.

“Setiap posko pemantau ada satu warga yang merupakan tokoh masyarakat yang ditugaskan di posko tersebut. Serta siap siaga serta melaporkan jika ada gejala-gejala bencana yang akan terjadi,” jelas Kepala BPBD Kota Palopo, Antonius Dengen kepada Palopo Pos, Minggu 11 Oktober 2020.

Mantan Kadis PUPR ini mengungkapkan, sejumlah kecamatan yang cukup rawan terjadinya banjir antara lain, Wara Barat, Kecamatan Wara, dan Wara Timur. Karena di kecamatan-kecamatan tersebut, merupakan Daerah Aliran Sungai (DAS).

Sedang untuk kecamatan yang cukup rawan longsor antara lain, Kecamatan Wara Barat dan Kecamatan Sendana. Selain itu, untuk wilayah yang rawan terkena puting beliung yakni Kecamatan Wara Timur.

Selain itu, Antonius juga telah melakukan sosialisasi kepada seluruh camat dan lurah agar jika ada gejala bencana segera diinformasikan kepada BPBD. Dimana BPBD telah menyiapkan nomor call center yang bisa dihubungi. ”Masyarakat yang menemukan gejala akan terjadi bencana bisa menghubungi call center BPBD,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Luwu Utara, Muslim Muchtar mengungkapkan, La Nina umumnya memberi dampak berupa peningkatan curah hujan di kawasan ekuator barat Pasifik termasuk Indonesia.

Peningkatan curah hujan seiring dengan awal musim hujan disertai peningkatan akumulasi curah hujan berpotensi menjadi pemicu terjadinya bencana hidro-meteorologis seperti banjir dan tanah longsor. Termasuk di wilayah Luwu Raya khususnya Luwu Utara. “Jadi memang perlu diwaspadai dampak dari fenomena La Nina ini,” pungkasnya.(rhm/idr)