Kejar Target, Bulog Butuh 10,619 Ton

681

PALOPO — Badan Usaha Logistik (Bulog) Sub Devisi Regional VI Kota Palopo ternyata belum capai target serapan beras. Bulog masih membutuhkan 10,619 ton beras agar capaian target 2017 dapat terealisasi.
Seperti diketahui, tahun 2017 ini Bulog Palopo dibebani target 28,223 ton beras. Namun yang teralisasi per 12 November 2017 baru mencapai 17,604 ton, sehingga sisa target yang harus diserap sebanyak 10,619 ton beras.

“Yang diserap bulog saat ini sebanyak 17,604 ton. Nah, untuk mencapai target, bulog masih mengejar 10,619 ton lagi,” ungkap Kepala Bulog Sub Divre Palopo, Lutfi Said SE, melalui Wakil Kepala Bulog Sub Divre Palopo, Hastuti Handayani saat ditemui, Kamis 16 November 2017.

Dikatakan Hastuti, langkah yang dilakukan sekarang ini adalah membangun kerjasama dengan para pedagang dari luar kabupaten yang sengaja datang membeli gabah di Kab Luwu dan Luwu Timur.
“Caranya, pedagang luar kita ajak kerjasama dengan memberikan dua karung gabah kepada mitra, kemudian mitra menggiling gabah itu untuk selanjutnya diserahkan ke Bulog dalam bentuk beras,” jelasnya.

Awalnya, pedagang dari luar yang biasa disebut tengkulak itu, ogah memberikan gabahnya. Pasalnya, mereka (pedagang, Red) belinya dengan harga Rp4.400 per kilo bahkan sampai Rp4.600 dari petani.

“Memang ragu awalnya, namun setelah diberi pengertian akhirnya sepakat juga. Apalagi, dua karung tidak diambil cuma-cuma. Akan terapi dibeli dengan harga pemerintah yakni 4.200 per kilo. Yang beli mitra bulog, setelah jadi beras didrop ke dalam gudang,” jelas Hastuti.

Menurut Hastuti, langkah seperti ini sudah berjalan sepakan lamanya. Setiap mobil truk tengkulak yang melintas harus menurunkan dua karung gabah.

“Kita dibantu TNI-AD sebagai satgas Pangan. Dan dengan langkah tersebut target akan lebih mudah tercapai. Sejak langkah ini berlangsung, sisa target tingga 10,619 ton atau sekitar 62 persen lagi,” ujarnya.
Hastuti menyebutkan yang datang beli gabah di Luwu dan Luwu Timur adalah pedagang dari Wajo, Polmas, dan Sidrap, dan bahkan Barru. Mereka berani membeli gabah seharga Rp4.400 sampai Rp4.600 dari para petani kita, sangat jauh dari harga pemerintah yakni Rp4.200 per kilo.

“Sudah jelas ini persaingan harga sehingga petani hanya ingin menjual gabahnya kepada pedagang dari luar atau tengkulak. Padahal, petani kita sudah diberikan bantuan berupa pupuk dan semacamnya, tapi mereka masih menjual hasil panennya kepada tengkulak,” tandas Hastuti. (him/rhm)