Tidak Dinafkahi, Istri Pelaut Gugat Cerai Suami

1423

* Curahan Hati Calon Janda Muda

Sudah 7 bulan suami meninggalkan rumah. Sejak saat itu, tidak pernah lagi memberi nafkah kepada istri dan anaknya. Berikut kisahnya.

Seorang Istri pelaut terpaksa harus menggugat cerai suaminya. Itu dilakukan lantaran sang suami yang pergi meninggalkan rumah tidak lagi memberi nafkah kepada diri dan anak semata wayangnya yang telah berumur 3 tahun.

Namanya adalah Hu (inisial), umurnya baru 22 tahun. Ia merupakan salah satu warga Kecamatan Lamasi Kabupaten Luwu. Di depan Kantor pengadilan Agama Kota Palopo, kepada Palopo Pos ia mengaku, sudah sejak 7 bulan yang lalu sang suami telah meninggalkan rumah.

Sejak saat itu juga, nafkah kepada dirinya dan si buah hatinya tidak pernah lagi diberikan ayah dari anaknya tersebut. “Jangankan saya mau na nafkahi, anaknya saja tidak pernah nakasih uang,” jelasnya.

Pada dasarnya, ekonomi menjadi permasalahan pertama yang muncul pada keluarga kecil ini. Bermula ketika sang suami memilih untuk menjadi petani. Selama lebih dari 3 tahun menjadi petani, hasil yang didapatkan tidak mampu memenuhi kebutuhan. “Ia tidak kuat jadi petani,” tambahnya.

Ekonomi yang membelit, keharmonisan rumah tangga turut terguncang. Tidak jarang tiap harinya cek-cok antar keduanya tidak terelakan. Saling adu mulut dan lempar celaan tidak jarang terdengar.

Bahkan kontak fisik beberapa kali telah dilakukan sang suami. “Berawal ji dari cek-cok, tapi lama-kelamaan sudah pake kekerasaan mi,” lanjut ceritanya dengan nada haru.

Kesedihannya semakin memuncak. Itu setelah sang suami pergi meninggalkan rumah. Alasannya adalah untuk pergi memperbaiki taraf kehidupan melaui berlayar.

Dengan latar balakang pendidikan yang berasal dari sekolah pelayaran, ia pun berangkat mencari sesuap nasi di tengah luasnya lautan samudera.

Namun yang menjadi masalah, setelah itu sang suami tidak pernah lagi kembali kerumah dan telah melupakan keluarga kecilnya tersebut. “Itu ji ke rumah kalau mau ketemu anaknya, itupun tidak ada uang nakasih’i,” ungkapnya.

Dengan kondisi seperti itu, dirinya pun terpaksa mengurus si buah hati sendiri. Karena usia masih muda pekerjaan pun tidak ada, sehingga mau tidak mau ia pun harus kembali berpangku kepada kedua orang tuanya.

“Kalau saya tidak apa-apa ji karena bisa jika na nafkahi kedua orang tua ku. Tapi ini anaknya, masa tidak ada pernah na kasi’i atau na kirim sepeserpun,” tandasnya.

Lelah dengan ketidak pastian, dirinya pun atau sang istri ini memutuskan untuk berpisah. Sebagaimana yang telah terjadi di Kantor Pengadilan Agama Kota Palopo Kamis, 13 Juli 2017 kemarin. Pada sidangnya kemarin diagendakan pemberian keterangan oleh saksi penggugat. (cr1/ikh)